πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi menara data center vertikal 20 lantai rancangan Skidmore, Owings & Merrill (SOM) untuk Revitalization Unlimited di Kansas City

Kansas City Bangun Data Center 20 Lantai di Lahan 0,23 Acre

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Revitalization Unlimited mengajukan data center vertikal 20 lantai di Kansas City dengan biaya US$183 juta
  • Proyek berdiri di lahan 0,23 acre, jauh lebih kecil dari rata-rata 224 acre transaksi lahan data center
  • Kapasitas IT 24 MW, hanya 2 lantai untuk server dan 18 lantai untuk daya serta pendingin
  • Menargetkan PUE 1,25 dengan 30 MW Bloom fuel cells
  • Dirancang SOM, menunggu persetujuan hingga 13 Oktober 2026

Telset.id – Revitalization Unlimited mengajukan proposal pembangunan data center vertikal 20 lantai di pusat Kota Kansas City dengan nilai proyek mencapai US$183 juta, atau setara sekitar US$1.300 per kaki persegi. Fasilitas ini akan memusatkan peralatan komputasi dan infrastruktur pendukung pada lahan seluas kurang lebih 0,23 acre, sebuah pendekatan yang berbeda dari tren pembangunan data center konvensional yang umumnya membutuhkan lahan luas di pinggiran kota.

Proposal data center vertikal ini muncul di tengah temuan riset terbaru dari firma properti Cushman & Wakefield yang menyebutkan bahwa transaksi lahan data center rata-rata mencakup 224 acre. Temuan tersebut selama ini mendorong banyak proyek menjauh dari pusat kota menuju lokasi yang lebih luas. Revitalization Unlimited menawarkan gagasan berbeda: alih-alih menyebarkan fasilitas ke area yang lebih luas, mengapa tidak membangun ke atas di dalam kota?

Baca Juga:

Dua Lantai Server, 18 Lantai untuk Daya dan Pendingin

Menara yang diusulkan akan menyediakan kapasitas IT sebesar 24 MW. Namun, hanya dua dari 20 lantai yang akan berisi peralatan komputasi, sementara 18 lantai lainnya dialokasikan untuk sistem daya dan pendingin. Sekitar 109.000 kaki persegi dari total 141.000 gross square feet bangunan akan digunakan untuk sistem mekanikal dan infrastruktur terkait.

Kansas Vertical Data Center designed by Skidmore, Owings & Merrill (SOM) for Revitalization Unlimited

Konfigurasi ini diklaim dapat memberikan konektivitas padat sekaligus menghindari kebutuhan lahan yang biasanya melekat pada kampus data center suburban konvensional. Revitalization Unlimited berargumen bahwa data center vertikal ini penting karena sejumlah beban kerja komputasi memperoleh manfaat ketika berada secara fisik lebih dekat dengan pengguna dan jaringan.

Steve Austin, founder dan CEO Revitalization Unlimited, menyatakan posisi perusahaannya secara tegas. β€œKami tidak berargumen bahwa setiap data center harus berada di pusat kota. Kami berargumen yang ini harus, dan kami membayar premi konstruksi untuk membuktikannya,” ujarnya.

Untuk beberapa layanan inferensi, jarak yang lebih pendek antara sumber daya komputasi dan pengguna dapat mengurangi keterlambatan selama interaksi yang membutuhkan respons cepat. Perdagangan finansial juga dapat membenarkan lokasi jaringan yang sangat dekat karena perbedaan waktu yang sangat kecil bisa menjadi penentu.

β€œBukan hal yang aneh bagi para trader saham untuk mencari alamat yang paling dekat dengan server bursa saham tempat transaksi diproses, guna mendapatkan keunggulan beberapa fraksi detik dalam setiap transaksi,” kata Luis Fernandes, IDC senior research manager.

Secara umum, beban kerja di sektor keuangan, telekomunikasi, content delivery, dan inferensi merupakan jenis yang berpotensi memanfaatkan lokasi urban yang padat. Namun, operasi pelatihan AI berskala besar umumnya membutuhkan lahan dan listrik yang substansial, sehingga lokasi konvensional lebih cocok untuk penerapan tersebut.

Biaya Konstruksi Tinggi dan Tantangan Teknis

Total biaya pengembangan proyek ini mencapai US$183 juta, setara dengan sekitar US$1.300 per kaki persegi, melampaui ekonomi konstruksi suburban pada umumnya. Sistem mekanikal, elektrikal, plumbing, dan proteksi kebakaran akan menyerap sekitar US$107 juta dari estimasi US$167 juta biaya konstruksi keras.

Fasilitas ini akan menargetkan PUE sebesar 1,25 dan mengandalkan 30 MW Bloom fuel cells untuk pembangkitan daya utama. Gas alam akan menjadi bagian dari biaya operasional, yang berarti pembangkitan di lokasi tidak akan menghilangkan konsumsi bahan bakar maupun pertimbangan lingkungan terkait. Pendinginan juga akan melibatkan peralatan evaporatif, sehingga mempersulit klaim yang menyatakan bahwa penggunaan air dapat dihilangkan melalui skema closed-loop.

Data center

Konstruksi vertikal dapat menimbulkan kesulitan yang berkaitan dengan bobot peralatan, kapasitas elevator, dan akses crane. Hal ini berpotensi meningkatkan biaya konstruksi secara keseluruhan sekaligus mempersulit logistik penggantian selama pekerjaan pemeliharaan di masa depan.

Data center vertikal ini dirancang oleh Skidmore, Owings & Merrill (SOM) dan masih menunggu persetujuan, dengan development ordinance terkait saat ini tercatat berstatus pending hingga 13 Oktober 2026.

Proyek ini menjadi salah satu contoh bagaimana kebutuhan infrastruktur komputasi mulai berbenturan dengan keterbatasan lahan di kawasan urban. Sejumlah inisiatif lain juga tengah menjajaki pendekatan alternatif untuk mengatasi persoalan serupa, mulai dari solusi berbasis perairan hingga strategi lokasi yang tidak konvensional.

Di sisi lain, tekanan publik terhadap pembangunan data center terus meningkat. Sejumlah perusahaan teknologi dilaporkan mengalami kerugian akibat gelombang penolakan terhadap data center, sementara para operator dituntut untuk lebih serius memperhatikan kepentingan masyarakat lokal agar proyek dapat berjalan. Pendekatan pembangunan yang lebih dekat dengan pusat kota seperti yang diajukan Revitalization Unlimited akan menjadi uji nyata apakah model vertikal ini dapat diterima secara ekonomi maupun sosial.

[CONCLUSION]

Proposal Revitalization Unlimited menempatkan Kota Kansas City sebagai lokasi uji coba bagi model data center vertikal yang menekan kebutuhan lahan hingga 0,23 acre, dengan konsekuensi biaya konstruksi yang jauh lebih tinggi dibanding kampus suburban. Status proyek masih menunggu persetujuan hingga 13 Oktober 2026, sehingga kelayakannya sebagai alternatif pembangunan data center urban belum dapat dipastikan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.