📑 Daftar Isi

Intel GPU D-series dengan nama kode Crescent Island dirancang untuk beban kerja AI inference

Intel GPU D-series Kantongi 480GB LPDDR5X, Rekor Memori AI Terbaru

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Intel GPU D-series membawa 480GB LPDDR5X, melampaui Nvidia Blackwell Ultra B300 (288GB HBM3e)
  • Diperkenalkan di Open Compute Project Global Summit, sebelumnya bernama kode Crescent Island
  • Dukung model hingga 300 miliar parameter per kartu, lebih dari 1 triliun parameter dengan delapan GPU
  • Spesifikasi: 1,3 petaflops FP8, bandwidth memori 1,5TB/s, power 350W, form factor PCIe standar
  • Dirancang untuk AI inference, kompatibel dengan prosesor Xeon, harga dan tanggal rilis belum diungkap

Telset.id – Intel GPU D-series resmi menjadi akselerator AI dengan kapasitas memori terbesar setelah membawa 480GB LPDDR5X, melampaui Nvidia Blackwell Ultra B300 yang mengandalkan 288GB HBM3e. Pengumuman ini disampaikan Intel di ajang Open Compute Project Global Summit, menandai langkah perusahaan dalam menyasar beban kerja AI inference kelas berat.

GPU yang sebelumnya dikenal dengan nama kode Crescent Island ini juga mengemas perangkat komputasi khusus. Dengan kapasitas tersebut, Intel GPU D-series kini memegang posisi sebagai GPU data center dengan memori tertinggi, menggeser posisi yang sebelumnya dipegang Nvidia.

Pilihan Intel untuk tidak memakai GDDR7 yang biasa ditemukan pada kartu grafis modern menjadi sinyal arah produk. Intel memilih LPDDR5X, teknologi memori yang umum dipakai di laptop dan perangkat hemat daya. Konfigurasi ini menunjukkan Intel memprioritaskan kapasitas memori dan efisiensi daya untuk AI inference, bukan merancang kartu grafis gaming konvensional.

Dukungan Model Hingga 300 Miliar Parameter

Intel menyebut akselerator ini mampu mendukung large language model berisi hingga 300 miliar parameter dalam satu kartu. Sementara itu, sistem dengan delapan GPU dapat menampung model yang melebihi satu triliun parameter. Kemampuan tersebut ditujukan untuk prompt panjang, permintaan inference simultan, layanan AI perusahaan, dan aplikasi robotika yang membutuhkan pemrosesan responsif.

Kapasitas 480GB menjadi relevan ketika sistem AI harus menjaga bobot model dan data terkait tetap dapat diakses selama inference berlangsung. “Inference is becoming the defining AI workload, and enterprises need infrastructure that delivers the right performance at the right cost,” ujar Anil Nanduri, vice president, AI Products & GTM, Intel Data Center Group. “With Intel GPU D-series, we’re focused on making high-capacity inference practical to deploy and economical to scale.”

Meski begitu, kapasitas memori saja tidak menentukan seberapa cepat sebuah GPU melayani permintaan. Performa tetap bergantung pada bandwidth, sumber daya komputasi, perangkat lunak, dan karakteristik beban kerja. Intel mencantumkan D-series dengan 1,3 petaflops untuk komputasi FP8, format numerik yang umum digunakan untuk mempercepat operasi AI sekaligus menekan kebutuhan memori dibanding format presisi lebih tinggi. Bandwidth memori 1,5TB/s menjadi ukuran terpisah untuk kecepatan perpindahan data antara memori dan prosesor.

Dirancang Masuk ke Data Center yang Ada

Intel merancang akselerator ini agar cocok dengan infrastruktur data center yang sudah berjalan. Perusahaan menetapkan power envelope 350W dan form factor PCIe standar, disertai pendinginan udara serta kompatibilitas perangkat lunak lintas platform GPU Intel. Karakteristik tersebut dimaksudkan untuk menyederhanakan deployment di data center yang ada tanpa memerlukan pendinginan khusus atau infrastruktur rak yang sepenuhnya baru.

Intel juga berencana menghubungkan akselerator ini dengan prosesor Xeon, sehingga CPU dapat mengoordinasikan tugas, mengelola perpindahan data, dan menangani beban kerja yang tidak memerlukan akselerasi GPU. Pendekatan ini menjawab sistem AI yang makin dibangun dengan banyak tahap, termasuk retrieval, reasoning, orkestrasi, tool eksternal, dan eksekusi.

“Open models are expanding the options enterprises have for deploying AI,” kata Nicolas Dubé, corporate vice president, Data Center Systems and Solutions Group, Intel. “To realize their full potential, organizations need infrastructure that can match different workloads with the right intelligence, right compute resources and right economics. That’s what we mean by ‘put every prompt in its place.”

Hingga artikel ini ditulis, Intel belum mengungkap harga ritel publik maupun tanggal ketersediaan umum untuk GPU D-series. Sebagai gambaran pasar akselerator AI, sejumlah vendor lain juga bergerak di segmen kapasitas memori besar, seperti terlihat pada Spesifikasi Lengkap perangkat yang mengutamakan kebutuhan komputasi spesifik.

Langkah Intel menempatkan kapasitas memori sebagai pembeda utama di segmen akselerator AI inference. Dengan LPDDR5X, form factor PCIe standar, dan dukungan hingga 300 miliar parameter per kartu, Intel GPU D-series menyasar perusahaan yang ingin menjalankan model besar tanpa merombak total infrastruktur data center mereka.

[IMAGE: https://cdn.mos.cms.futurecdn.net/CgQUk6Xegs5quXL7hxzKQ3.png | class=”aligncenter” | alt=”Intel GPU D-series, code-named Crescent Island, is designed for AI inference workloads”]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.