Huawei Ascend 950 series AI accelerator chip

Huawei Siap Masuk Pasar AI Korea dengan Ascend 950

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
  • Huawei berencana memasuki pasar akselerator AI Korea Selatan pada Q4 2026
  • Produk yang dibawa adalah Ascend 950PR (inferensi) dan Ascend 950DT (pelatihan)
  • Huawei mengklaim Ascend 950PR 2,87x lebih cepat dari Nvidia H20 dengan harga seperempatnya
  • Huawei telah menunjuk Hansol PNS dan SK Shieldus sebagai distributor utama di Korea
  • Strategi Huawei bersaing dari segi harga dan kematangan ekosistem perangkat lunak
  • Huawei hadapi tantangan sensitivitas teknologi China dan risiko vendor lock-in

Telset.id – Huawei berencana memasuki pasar akselerator AI Korea Selatan pada kuartal keempat 2026 dengan prosesor Ascend 950 series dan platform komputasi Atlas 950 SuperPod. Langkah ini menjadi dorongan besar pertama Huawei ke salah satu pasar AI luar negeri terkuat Nvidia.

Berdasarkan laporan publikasi Korea ETNews pekan lalu, Huawei dilaporkan akan bersaing dengan Nvidia melalui harga yang lebih agresif. Perusahaan asal China itu menawarkan perangkat kerasnya sebagai alternatif bagi pelanggan yang ingin mengurangi ketergantungan pada pembuat chip AS tersebut.

Chip yang menjadi ujung tombak langkah ini adalah Ascend 950PR dan Ascend 950DT. Keduanya merupakan model terbaru dalam lini Ascend, yaitu unit pemrosesan jaringan saraf (NPU) untuk komputasi AI.

Ascend 950PR, chip yang berfokus pada inferensi, sudah memasuki produksi massal pada April lalu. Sementara Ascend 950DT, yang dirancang untuk beban kerja pelatihan AI, dijadwalkan rilis pada kuartal keempat. Kedua prosesor tersebut diperkirakan akan debut di Korea bersama Atlas 950 SuperPod, platform komputasi AI terintegrasi yang menurut Huawei dapat diskalakan hingga 8.192 prosesor Ascend dalam satu penerapan.

Huawei

Menurut laporan tersebut, Huawei Korea telah menyelesaikan perjanjian distributor utama dengan dua mitra lokal, yaitu Hansol PNS dan SK Shieldus. Huawei juga sudah memulai persiapan komersialisasi, termasuk pelatihan teknis, kebijakan harga, strategi pemasaran, dan pencitraan merek yang dilokalkan untuk pasar Korea.

Huawei disebut membangun kampanye Koreanya di sekitar harga agresif dan kekuatan pemrosesan. Perusahaan mengklaim Ascend 950PR memberikan kinerja inferensi sekitar 2,87 kali lipat dari akselerator AI H20 milik Nvidia, dengan biaya sekitar seperempatnya.

H20 adalah prosesor AI buatan Nvidia yang dikembangkan khusus untuk pasar China setelah pembatasan ekspor AS mencegah penjualan GPU yang lebih bertenaga. Huawei mengakui chipnya masih kalah dalam performa mentah dibandingkan H200 flagship Nvidia, namun berargumen bahwa kesenjangan itu bisa ditutup dengan mengelompokkan ribuan prosesor Ascend melalui platform Atlas 950.

Seri Ascend 950 menggunakan memori bandwidth tinggi (HBM) buatan sendiri yang dikembangkan Huawei dari dies yang diperoleh dari sumber asing. Ascend 950PR menggunakan memori HiBL 1.0, sementara Ascend 950DT menggunakan standar HiZQ 2.0.

Strategi Huawei untuk langkah di Korea Selatan ini, yang terjadi saat permintaan infrastruktur AI di negara itu melonjak, tampaknya bertujuan bersaing dari segi biaya dan kematangan ekosistem. Perusahaan memposisikan perangkat kerasnya sebagai alternatif Nvidia yang layak.

Akselerator flagship Nvidia dilaporkan dibanderol puluhan ribu dolar per unit, dengan pasokan yang masih ketat. Chip dengan harga seperempat dari H20 memberikan insentif nyata bagi pembeli Korea untuk mencari sumber kedua.

Huawei juga mengatakan sedang meningkatkan kompatibilitas antara tumpukan perangkat lunak CANN (Compute Architecture for Neural Networks) miliknya dengan ekosistem pemrograman CUDA milik Nvidia untuk memudahkan migrasi bagi pengembang.

Huawei bukan pendatang baru di pasar Korea Selatan. Perusahaan sebelumnya berhasil memasuki pasar peralatan LTE yang sangat kompetitif di negara itu pada 2013. Namun, pengalaman masa lalu bukan jaminan kesuksesan di masa depan.

ETNews mencatat bahwa pengamat industri memperkirakan Huawei akan menghadapi resistensi di Korea. Hal ini mengingat sensitivitas lokal terhadap teknologi China, masalah keamanan, overhead daya dan panas dari silikon China berkepadatan tinggi, serta risiko vendor lock-in akibat mengadopsi tumpukan perangkat lunak proprietary.

Ada juga dimensi domestik, di mana lanskap chip AI Korea sebagian besar terdiri dari startup akselerator. Kedatangan Huawei dengan skala pasokan dan kedalaman perangkat lunaknya dipandang sebagai ancaman kompetitif.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.