šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi ruang kelas dengan siswa dan guru di tengah penetrasi AI di dunia pendidikan Eropa

Guru Eropa Khawatir AI Ambil Alih Kelas Lebih Cepat

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
  • Survei Epson Europe Educate to Empower 2026 melibatkan 3.360 responden di Prancis, Italia, Jerman, Spanyol, Polandia, dan Inggris
  • 80% guru Eropa khawatir dengan kecepatan AI masuk ke ruang kelas
  • 68% guru menilai penggunaan AI untuk pekerjaan rumah berdampak negatif pada belajar
  • 76% siswa berharap bisa memakai AI, 87% sudah memakainya minimal sekali seminggu
  • 82% guru ingin pelatihan mengawasi AI siswa, 78% ingin panduan memakai AI untuk kerja mereka
  • EU AI Act mulai diberlakukan, mewajibkan sekolah Uni Eropa menyediakan pelatihan AI literacy

Telset.id – Sebanyak 80% guru di Eropa menyatakan kekhawatiran terhadap cepatnya penetrasi AI di ruang kelas. Kekhawatiran ini muncul dari survei Epson bertajuk Educate to Empower 2026 yang melibatkan 3.360 responden di Prancis, Italia, Jerman, Spanyol, Polandia, dan Inggris. Survei tersebut mengungkap bahwa 68% guru menilai penggunaan AI dalam pekerjaan rumah berdampak negatif terhadap proses belajar siswa.

Data ini dirilis bertepatan dengan mulai diberlakukannya EU AI Act. Regulasi tersebut mewajibkan sekolah-sekolah di Uni Eropa memastikan adanya pelatihan yang memadai untuk setiap alat AI yang digunakan. Inggris sendiri tidak memiliki regulasi setara EU AI Act, namun bisnis yang melayani perusahaan di Uni Eropa tetap harus mematuhi aturannya.

Temuan survei menunjukkan kesenjangan ekspektasi yang tajam antara guru dan siswa. Lebih dari tiga perempat siswa, tepatnya 76%, berharap dapat menggunakan AI dalam pembelajaran mereka. Bahkan 87% siswa sudah memanfaatkan AI setidaknya sekali seminggu untuk mengerjakan tugas sekolah.

Classroom with students at a desk looking at a teacher

Dr Sarah Henkelmann-Hillebrand, lead for education di Epson Europe, menegaskan bahwa AI berkembang dengan cepat dan siswa memang mengharapkan penggunaannya. Menurutnya, teknologi ini perlu dikelola secara efektif melalui tata kelola, pedoman, dan pelatihan yang tepat. Ia juga menyoroti pentingnya melihat bagaimana AI dapat meningkatkan pengalaman belajar, misalnya melalui kolaborasi di ruang belajar imersif dengan teknologi seperti proyeksi.

Guru Butuh Pelatihan, Bukan Sekadar Larangan

Survei Epson juga mengungkap kebutuhan pelatihan yang signifikan di kalangan pengajar. Sebanyak 82% guru menginginkan lebih banyak pelatihan untuk mengawasi penggunaan AI oleh siswa. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan 78% guru yang menginginkan pelatihan dan panduan tentang cara memanfaatkan teknologi ini untuk pekerjaan mereka sendiri.

Kondisi ini sejalan dengan dinamika yang juga terjadi di Amerika Serikat, di mana serikat guru AS mendesak adanya larangan AI di kelas dasar. Perdebatan mengenai batas penggunaan AI di lingkungan pendidikan pun semakin meluas, termasuk soal bagaimana data sekolah dilindungi dari pelatihan model AI.

Karena 76% siswa mengharapkan penggunaan AI dan 87% di antaranya sudah memakainya, survei ini menilai bahwa upaya memblokir AI sepenuhnya sudah tidak relevan. Fokusnya kini bergeser pada pengajaran keterampilan yang tidak bisa dipotong jalur oleh AI, seperti berpikir analitis, kreativitas, kepemimpinan, dan pemecahan masalah.

Teacher using a smartphone at his desk with blackboard behind

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah lebih masuk akal membiarkan guru memakai AI untuk mengurangi beban administrasi, ketimbang mengizinkan siswa menggunakannya. Jika AI memang mengambil alih ruang kelas, survei ini menilai penting untuk memastikan para guru diperlengkapi dengan baik agar dapat mendorong keterampilan yang tidak bisa diberikan AI kepada siswa.

Di sisi lain, berbagai platform pembelajaran berbasis teknologi terus berkembang. Sejumlah aplikasi belajar online telah menjadi alternatif bagi siswa dan guru dalam mengelola kegiatan belajar, sementara solusi seperti sistem Zenius menawarkan manajemen pembelajaran gratis untuk guru. Perkembangan ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi di pendidikan tidak lagi bisa dihindari, sehingga tata kelola dan pelatihan menjadi kunci.

A person typing on a laptop and using a tablet. Only their upper torso, arms and hands are visible. Text superimposed on the image shows AI

Survei Epson Europe ini menyoroti bahwa percepatan AI di ruang kelas berjalan lebih cepat dari kesiapan para pengajar. Angka 80% kekhawatiran guru, 68% penilaian negatif terhadap AI untuk pekerjaan rumah, serta 82% permintaan pelatihan pengawasan menunjukkan bahwa kesenjangan antara ekspektasi siswa dan kesiapan guru masih lebar. Dengan EU AI Act yang mulai diberlakukan, sekolah di Uni Eropa berada di bawah tekanan untuk menyediakan pelatihan AI literacy yang memadai bagi seluruh alat yang digunakan.

[INFO_BOX]

InfoBox: Survei Epson Europe Educate to Empower 2026 melibatkan 3.360 responden di Prancis, Italia, Jerman, Spanyol, Polandia, dan Inggris. Temuan utama: 80% guru khawatir dengan kecepatan AI masuk ke kelas, 68% menilai AI untuk pekerjaan rumah berdampak negatif, 76% siswa berharap bisa memakai AI, dan 87% siswa sudah memakainya minimal sekali seminggu.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.