Ilustrasi robot asisten medis Google dan NASA untuk misi luar angkasa jarak jauh

Google dan NASA Kembangkan Robot Medis untuk Misi Luar Angkasa

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Google dan NASA kembangkan robot asisten medis untuk misi luar angkasa jarak jauh
  • Latensi komunikasi ke Mars bisa capai 44 menit, dorong kebutuhan bantuan medis onboard
  • Robot bantu tugas praktis, diagnosis tetap di bawah pengawasan petugas medis manusia
  • Uji lab awal capai 85 persen keberhasilan menemukan dan memindahkan tas medis
  • Proyek masih proof of concept, belum ada robot terintegrasi siap luar angkasa

Telset.id – Google dan NASA tengah mengembangkan robot asisten medis yang dirancang untuk membantu astronaut menangani kondisi darurat kesehatan selama misi luar angkasa jarak jauh. Proyek ini menjadi krusial karena komunikasi dengan Bumi dalam misi ke Mars berpotensi mengalami keterlambatan hingga 44 menit, sehingga bantuan medis di dalam pesawat menjadi semakin penting ketika astronaut tidak bisa langsung berkonsultasi dengan dokter di Bumi.

Pengembangan robot medis ini melibatkan Google Cloud, Human Research Program NASA, tim robotika Johnson Space Center, dan Jet Propulsion Laboratory. Proyek ini dibangun di atas Crew Medical Officer Digital Assistant, sistem pendukung medis berbasis AI yang telah dievaluasi Google dan NASA sejak 2025. Sistem sebelumnya dirancang untuk membantu astronaut menilai masalah kesehatan ketika jarak dan keterlambatan komunikasi menyulitkan konsultasi langsung dengan dokter di Bumi.

“Seseorang astronaut pada misi luar angkasa jauh ke Mars di masa depan bisa menghadapi tantangan operasional berat, termasuk latensi komunikasi pulang-pergi hingga 44 menit,” ujar Jim Kelly, public sector vice president Google. Keterlambatan tersebut dapat menyulitkan pengambilan keputusan medis saat darurat, sehingga sumber daya di dalam pesawat menjadi semakin penting ketika astronaut tidak bisa menerima instruksi langsung dari mission control.

Robot ini tidak dirancang untuk menggantikan petugas medis kru. Sistem ini bertugas membantu tugas-tugas praktis, sementara keputusan diagnosis dan perawatan tetap berada di bawah pengawasan manusia. Sebagai contoh, astronaut yang mengalami nyeri punggung hebat—kemungkinan terkait batu ginjal—dapat meminta pemeriksaan ultrasound menggunakan peralatan yang diambil dan disiapkan oleh robot. Mesin tersebut kemudian dapat membantu memposisikan peralatan yang diperlukan saat petugas medis memeriksa hasil gambar dan menentukan respons yang tepat.

Google juga mengadaptasi teknologi navigasi yang dikembangkan di Jet Propulsion Laboratory NASA untuk membantu robot bergerak di lingkungan sekitarnya dan menemukan peralatan. Tim juga menggunakan simulator fisika MuJoCo dari DeepMind untuk menilai pergerakan dan penanganan objek sebelum mencoba aplikasi yang lebih menantang. Menurut Kelly, dalam uji laboratorium awal, robot mencapai tingkat keberhasilan 85 persen saat menemukan dan memindahkan tas medis. Hasil itu terkait tugas pengambilan yang relatif dasar dan belum menetapkan apakah sistem dapat secara andal melakukan pemeriksaan medis atau membantu penanganan darurat yang rumit.

“Untuk memaksimalkan kegunaannya bagi kru yang ramping, sistem robot dirancang sebagai penangan ‘payload’ serbaguna yang mampu mengelola kargo, logistik, dan peralatan,” jelas Kelly. “Ketika tidak dibutuhkan untuk perawatan rutin seperti merapikan alat atau mengamankan kompartemen, ia dapat beralih ke dukungan medis.” Robot ini juga diharapkan menangani kargo, merapikan alat, mengamankan kompartemen, dan mendukung perawatan rutin, sehingga kru kecil dapat mengalokasikan waktu secara lebih efisien.

NASA

Google mendeskripsikan pekerjaan ini sebagai proof of concept, dengan demonstrasi laboratorium awal telah selesai tetapi belum ada robot terintegrasi penuh yang siap untuk luar angkasa. NASA menolak memberikan informasi rinci tentang proyek tersebut, dengan alasan sedang mengkaji beberapa inisiatif AI canggih bersama mitra untuk kemungkinan misi di masa depan. Proyek ini masih bersifat eksperimental, dengan pengujian laboratorium yang menunjukkan kemajuan dalam tugas robot dasar, bukan kesiapan untuk prosedur medis otonom.

“Tujuan utamanya adalah membangun sistem robot yang dapat menjalankan berbagai tugas melalui instruksi suara sederhana, di bawah pengawasan dan komando langsung astronaut,” kata Kelly. “Misalnya, robot dapat diarahkan untuk membantu pemantauan kesehatan rutin—seperti mengambil tanda vital dasar atau ultrasound sederhana—di bawah panduan ketat petugas medis kru manusia.”

Sistem yang diusulkan Google menggabungkan bantuan fisik dengan dukungan berbasis AI, meskipun kemampuan praktisnya akan bergantung pada pengujian lebih lanjut dan integrasi yang berhasil dengan operasi pesawat luar angkasa. Proyek ini menegaskan bagaimana inisiatif AI Google terus meluas ke sektor-sektor strategis, sejalan dengan langkah perusahaan yang juga tengah memperluas adopsi chip AI-nya ke ranah antariksa maupun pengembangan layanan AI untuk pengguna umum.

Bagi industri, pengembangan robot medis ini menunjukkan arah baru pemanfaatan AI dan robotika di lingkungan dengan keterbatasan komunikasi ekstrem. Keberhasilan uji awal pada tugas pengambilan peralatan medis menjadi indikator awal, meski aplikasi medis yang lebih kompleks masih memerlukan validasi lanjutan. NASA dan Google belum mengungkap tenggat waktu maupun rencana penerapan robot tersebut pada misi tertentu.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.