📑 Daftar Isi

Ilustrasi keamanan siber dan penipuan digital dengan peringatan penggunaan kecerdasan buatan dan akses perangkat lunak berbahaya

FinCEN Wajibkan Bank AS Laporkan Sindikat Scam Center Rp206 Triliun

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • FinCEN terbitkan peringatan dan kata kunci baru FIN-2026-SCAMCENTERS untuk pelaporan scam center
  • Total kerugian tercatat sekitar US$12,7 miliar dari 33.904 filing Bank Secrecy Act periode September 2023–akhir 2025
  • Angka berpotensi tumpang tindih karena mencakup transaksi percobaan dan berhasil
  • Hanya 1.300 institusi melapor, 10.082 filing (29,7%) soal eksploitasi lansia
  • FinCEN minta chat logs, nomor telepon, handle medsos, wallet address, dan transaction hash
  • Rapid Response Program pulihkan US$1 miliar untuk 5.790 korban sejak 2015

Telset.id – Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) di bawah Departemen Keuangan Amerika Serikat menerbitkan peringatan resmi dan analisis data pendamping yang mewajibkan bank, credit union, bursa aset digital, serta perusahaan sekuritas untuk melaporkan aktivitas mencurigakan terkait scam center lintas negara dengan lebih tajam. Lembaga itu menyebut sindikat ini menargetkan warga Amerika Serikat dalam skala industri, dengan total kerugian yang tercatat melalui mekanisme pelaporannya mencapai sekitar US$12,7 miliar atau setara Rp206 triliun (asumsi kurs Rp16.200) dari dugaan penipuan investasi aset digital antara September 2023 hingga akhir 2025.

Angka tersebut dihimpun dari penjumlahan nilai dolar pada 33.904 laporan Bank Secrecy Act yang menyertakan kata kunci dari peringatan “pig butchering” yang diterbitkan FinCEN pada 2023. Namun FinCEN mengakui angka itu berpotensi terlalu tinggi karena mencakup transaksi yang hanya berupa percobaan maupun yang berhasil, serta laporan masuk dan keluar yang sering merujuk pada transaksi yang sama, sehingga terjadi tumpang tindih signifikan. Sebaliknya, kerugian riil korban yang sebagian besar tidak dilaporkan bisa jauh lebih besar.

Kata Kunci Baru dan Data yang Diminta FinCEN

Inti dari kebijakan baru ini adalah sebuah kata kunci. FinCEN memperkenalkan kata kunci suspicious activity report “FIN-2026-SCAMCENTERS” yang harus digunakan institusi untuk menandakan bahwa sebuah scam center kemungkinan terlibat dalam transaksi yang dilaporkan. Langkah ini menjadi bagian dari dorongan agar institusi keuangan secara sukarela menyumbang lebih banyak informasi di bawah US Patriot Act.

FinCEN juga meminta agar chat logs, nomor telepon pelaku scam, handle media sosial, alamat wallet, transaction hash, serta URL tempat korban diminta menyetor dana, dilaporkan dalam structured cyber indicator fields, bukan dibiarkan kosong. Permintaan ini menyasar celah yang selama ini membuat penelusuran aliran dana berhenti di tengah jalan.

Back view of hooded internet criminal hacking laptop in the dark, stealing credit card details

Gene Lange, yang secara efektif menjabat sebagai Under Secretary for Terrorism and Financial Intelligence, menyebut penipuan ini sebagai “salah satu ancaman fraud paling signifikan yang dihadapi warga Amerika saat ini.” Pernyataan itu menegaskan bahwa persoalan ini tidak lagi dipandang sebagai kejahatan finansial biasa, melainkan sebagai masalah intelijen yang berkembang.

Persoalan utamanya adalah bagaimana dana korban berpindah melalui beberapa institusi secara berurutan. Sebuah bursa kripto mungkin hanya melihat nasabah membeli USDT dan mengirimkannya ke luar platform. Sebuah bank hanya melihat transfer ke bursa tersebut. Sementara perusahaan pialang hanya melihat akun pensiun yang dicairkan. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki gambaran utuh tentang apa yang sebenarnya terjadi atau apa yang memicu transaksi tersebut.

Ketika informasi digabungkan dan ditautkan dengan benar, identifikasi potensi scam menjadi jauh lebih mudah. Sebaliknya, jika dipisahkan, insiden-insiden ini justru menggelembungkan jumlah laporan yang sering tidak saling terhubung, dan investigasi kehilangan wawasan tentang asal maupun tujuan akhir dana. Kondisi inilah yang mendasari permintaan FinCEN agar institusi menyumbang lebih banyak data terstruktur.

Rapid Response Program dan Keterbatasan Pemulihan Dana

FinCEN memiliki Rapid Response Program yang mencatatkan interdict terhadap US$1,8 miliar dan pemulihan dana sedikit di atas US$1 miliar untuk 5.790 korban di Amerika Serikat sejak 2015. Jika dibandingkan dengan total yang telah ditandai, tingkat pemulihan ini sangat terbatas terhadap dana yang sebenarnya dipertaruhkan. Data ini menyoroti masalah fundamental yang lebih besar: institusi umumnya baru mendeteksi skema semacam ini setelah uang korban hilang.

Pelaporan yang benar dan menyeluruh pun mungkin hanya menghasilkan imbal hasil terbatas terhadap industri yang telah berubah, relatif tanpa kendali, menjadi mesin bernilai miliaran dolar. Dari 33.904 filing yang ditandai, hanya 1.300 institusi yang melaporkan, dengan 10.082 di antaranya (29,7 persen) berpusat pada eksploitasi lansia oleh pelaku scam.

Man looking at phone after being scammed by an AI tool

Temuan ini memperkuat gambaran bahwa target utama sindikat scam center adalah kelompok rentan. Proporsi laporan yang menyoroti eksploitasi lansia menunjukkan bahwa pola penipuan tidak acak, melainkan terarah pada korban dengan tabungan pensiun dan aset yang bisa dicairkan.

Peringatan FinCEN ini melengkapi rangkaian peringatan sebelumnya. Otoritas keuangan Amerika Serikat juga menyoroti keterkaitan antara aliran dana mencurigakan dengan operasi sindikat di Asia Tenggara, sebagaimana dibahas dalam laporan Sindikat Scam Asia Tenggara. Di sisi lain, industri aset digital juga menghadapi risiko keamanan dari dalam, seperti insiden yang dilaporkan dalam kasus Dompet Bitcoin Liquid.

Bagi bank, credit union, bursa aset digital, dan perusahaan sekuritas, kewajiban baru ini berarti perubahan operasional. Mereka tidak cukup lagi hanya melaporkan transaksi yang mencurigakan secara terpisah. Mereka diminta menyediakan konteks yang memungkinkan penelusuran rantai transaksi, termasuk indikator siber terstruktur yang sebelumnya jarang diisi. Beban pelaporan bertambah, tetapi tanpa data itu, rantai penipuan tetap tidak terlihat utuh.

Yang perlu dicatat, angka US$12,7 miliar adalah ukuran dari apa yang berhasil ditandai institusi, bukan ukuran kerugian sebenarnya. Karena rentan terhadap penghitungan ganda dan kesalahan, angka itu kemungkinan tidak mencerminkan total dana yang hilang. Kerugian korban yang sebagian besar tidak dilaporkan bisa jauh lebih tinggi lagi, sehingga laporan yang lebih tajam menjadi satu-satunya cara untuk memperkecil selisih antara apa yang terdeteksi dan apa yang benar-benar terjadi.

Phishing, E-Mail, Network Security, Computer Hacker, Cloud Computing Cyber Security 3d Illustration

Dengan kata kunci baru dan permintaan data yang lebih rinci, FinCEN berupaya mengubah cara institusi keuangan melihat satu potongan kecil dari sebuah skema besar. Pendekatan ini tidak menjanjikan pemulihan dana yang dramatis, tetapi menargetkan akar masalah: ketidakmampuan sistem pelaporan saat ini menghubungkan titik-titik yang terpisah menjadi gambaran utuh tentang bagaimana uang korban berpindah dan ke mana akhirnya dana itu mengalir.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.