📑 Daftar Isi

Ilustrasi data center dengan rak server dan lampu menyala sebagai gambaran proyek O'Leary Digital Wonder Valley

Data Center Terbesar Dunia di Kanada Digugat Suku Sturgeon Lake

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Sturgeon Lake Cree Nation ajukan judicial review atas data center O'Leary Digital Wonder Valley di Alberta, Kanada
  • Proyek senilai US$70 miliar di lahan 64 km persegi, diklaim terbesar di dunia
  • Fisikawan Robert Davies sebut fasilitas lepas "23 bom atom energi" sebagai estimasi skala limbah panas
  • Regulasi lingkungan dinilai tak dirancang untuk proyek sebesar ini
  • CEO O'Leary Digital Paul Palandjian hormati proses regulasi dan konsultasi komunitas Indigenous

Telset.id – Rencana pembangunan O’Leary Digital Wonder Valley, yang diklaim bakal menjadi data center terbesar di dunia, menghadapi gugatan hukum. Sturgeon Lake Cree Nation (SLCN) mengajukan permohonan judicial review atas proyek senilai US$70 miliar yang berlokasi di wilayah tradisional mereka di Alberta, Kanada. Gugatan ini mencuat setelah seorang fisikawan yang dipekerjakan SLCN menyatakan bahwa fasilitas tersebut akan melepaskan limbah panas dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Proyek Wonder Valley pertama kali diumumkan pada 2024 dan dirancang mencakup area seluas 64 kilometer persegi atau hampir 15.815 acre. Skala inilah yang menjadi titik utama perselisihan dalam permohonan judicial review yang diajukan SLCN. Lokasi proyek berada sekitar 130 km barat daya dari reserve SLCN.

Dalam laporannya, fisikawan Utah State University Robert Davies yang bekerja atas nama SLCN menyebut data center tersebut akan melepaskan “23 bom atom energi”. Ia menegaskan pernyataan itu merupakan “estimasi tingkat pertama yang dimaksudkan untuk menyampaikan skala.” Davies menjelaskan bahwa angka tersebut bukan merujuk pada ledakan, melainkan upaya menggambarkan besarnya energi yang terlibat. “Tentu saja itu bukan ledakan, tetapi itu hanya untuk memberi gambaran seberapa besar energi yang kita bicarakan,” ujarnya dalam asesmen tersebut. Ia menambahkan, “Efeknya hampir pasti besar, jika tidak bisa disebut ekstrem.”

Davies juga menyoroti bahwa proyek ini berpotensi menjadi “sumber panas satu lokasi terbesar di seluruh planet ini.” Namun ia menegaskan bahwa laporannya “bukan tinjauan lingkungan yang komprehensif, bukan laporan ahli formal, atau opini hukum.” Setiap angka kuantitatif dalam asesmen tersebut, katanya, “harus diperlakukan sebagai estimasi tingkat pertama yang dimaksudkan untuk menyampaikan skala, untuk dikonfirmasi terhadap berkas resmi pengembang.”

A data center with racks of servers and lots of lights glowing

Regulasi Dinilai Tak Cocok untuk Skala Raksasa

Kontribusi Davies dalam berkas judicial review SLCN masih bergantung pada informasi lanjutan dari O’Leary Digital. Meski demikian, laporan itu memberikan gambaran yang mengkhawatirkan, terutama soal dampak limbah panas terhadap satwa liar di sekitarnya. “Saya tidak bisa membayangkan membiarkannya berjalan tanpa asesmen penuh tersebut,” kata Davies.

Ia juga mengkritik penggunaan legislasi dan pedoman lingkungan tradisional untuk proyek data center raksasa. Menurutnya, regulasi yang ada tidak dirancang untuk proyek dengan skala sebesar Wonder Valley. “Ketika orang berbicara tentang regulasi lingkungan yang harus dipatuhi proyek-proyek ini, regulasi tersebut tidak dibuat dengan mempertimbangkan skala sebesar ini,” ujarnya.

Isu beban energi dan infrastruktur komputasi skala besar memang menjadi perhatian tersendiri di industri teknologi. Perdebatan serupa juga muncul dalam konteks lain, seperti yang tergambar dalam laporan mengenai AI Agents Bobol yang menunjukkan bagaimana teknologi canggih membawa implikasi di luar aspek teknis semata.

O’Leary Digital sendiri telah merespons berkas gugatan tersebut. CEO Paul Palandjian dalam sebuah email menyatakan, “Kami juga menghormati proses regulasi yang ketat dan kuat yang harus kami ikuti dalam memajukan Wonder Valley… kami melakukan dialog produktif dengan komunitas Indigenous melalui konsultasi dan keterlibatan, dan kami tetap berkomitmen pada pekerjaan itu.”

Pernyataan Palandjian menegaskan bahwa pengembang berupaya menempuh jalur konsultasi dengan masyarakat adat di sekitar wilayah proyek. Namun permohonan judicial review dari SLCN menunjukkan bahwa dialog tersebut belum mencapai kesepakatan, terutama terkait kekhawatiran atas dampak lingkungan dari fasilitas berskala masif itu.

Kasus Wonder Valley menyoroti tantangan yang menyertai ekspansi infrastruktur komputasi berskala besar. Ketika proyek data center tumbuh melampaui kerangka regulasi yang ada, pertanyaan tentang dampak lingkungan dan keterlibatan masyarakat adat menjadi semakin krusial. Gugatan SLCN menempatkan isu tersebut ke dalam proses hukum, dengan laporan Davies sebagai salah satu dasar argumen mengenai besarnya energi dan limbah panas yang akan dihasilkan fasilitas tersebut.

Sementara itu, kebutuhan akan kapasitas komputasi terus mendorong berbagai inisiatif teknologi lain di sektor yang berbeda. Di industri otomotif, misalnya, langkah adopsi teknologi baru juga berjalan, seperti yang terlihat dari Peterbilt Masukkan truk listrik ke kontrak Sourcewell. Perkembangan semacam ini menunjukkan bahwa transisi teknologi besar selalu membawa konsekuensi yang perlu dikelola dengan hati-hati.

Dari sisi konsumen, dampak keputusan teknologi terhadap pengalaman pengguna juga menjadi perhatian. Sebagai contoh, efisiensi penyimpanan perangkat menjadi isu yang dibahas dalam laporan mengenai iOS 27 Bikin Apple Intelligence memakan storage iPhone hingga 30 persen. Hal ini menegaskan bahwa setiap inovasi teknologi, sekecil apa pun di tingkat pengguna maupun sebesar proyek data center, memiliki implikasi nyata yang perlu dipertimbangkan.

Bagi O’Leary Digital, jalan menuju realisasi Wonder Valley kini melewati proses judicial review yang diajukan SLCN. Perusahaan menyatakan komitmennya mengikuti proses regulasi yang berlaku, sementara SLCN melalui laporan Davies mempertanyakan kesiapan kerangka regulasi dalam menangani proyek sebesar itu. Hasil dari proses hukum ini akan menentukan apakah proyek yang dikonsepsikan sebagai data center terbesar di dunia dapat melanjutkan rencananya di Alberta.

[INFOGRAPHIC]
(No infographic data provided in the reference)

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.