Ilustrasi tiang listrik tegangan tinggi dan jaringan transmisi energi yang memasok data center di Eropa

Data Center Eropa Bakal Dongkrak Harga Listrik, Tagihan Naik?

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Konsumsi listrik data center Eropa saat ini 2,5%, diprediksi naik jadi 5,7% pada 2035
  • Northlands (17%) dan Irlandia (30%) diproyeksi alami kenaikan konsumsi tertinggi
  • Data center hanya bayar koneksi langsung, operator jaringan tanggung biaya penguatan luas
  • Biaya tambahan berpotensi dibebankan ke konsumen
  • Moody's perkirakan intervensi pemerintah lewat pemotongan pajak, price caps, dan aturan koneksi lebih ketat
  • AS sudah lebih dulu terdampak lewat Ratepayer Protection Pledge

Telset.id – Ledakan pembangunan data center di Eropa diprediksi bakal mendorong kenaikan harga listrik yang harus ditanggung konsumen. Laporan terbaru Moody’s mengungkap bahwa konsumsi listrik sektor data center di Eropa yang saat ini berada di kisaran 2,5% dari total konsumsi listrik benua itu berpotensi melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 5,7% pada 2035. Angka tersebut berlaku untuk negara-negara seperti Prancis dan Inggris, sementara negara yang menjadi lokasi kapasitas terbesar bakal mengalami kenaikan lebih tajam, yakni Northlands sebesar 17% dan Irlandia mencapai 30%.

Lonjakan konsumsi listrik ini tidak hanya berdampak pada pasokan energi, tetapi juga pada struktur biaya jaringan listrik. Moody’s menjelaskan bahwa data center umumnya hanya membayar peningkatan infrastruktur yang dibutuhkan untuk koneksi langsung mereka, sedangkan operator jaringan biasanya menanggung biaya penguatan jaringan yang lebih luas. Biaya tambahan tersebut, ditambah ketidakseimbangan pasokan dan permintaan yang semakin ketat, berpotensi dibebankan kepada pengguna akhir alias konsumen rumah tangga dan bisnis.

Isu ini menyerupai tekanan yang sudah lebih dulu terjadi di Amerika Serikat, di mana data center dinilai memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap pembayar tagihan listrik. Bahkan, pemerintahan Trump telah meluncurkan Ratepayer Protection Pledge sebagai respons terhadap kondisi tersebut. Laporan Moody’s juga menyoroti bahwa sejumlah besar perusahaan utilitas di AS telah bergabung dalam komitmen serupa untuk tidak membebankan kenaikan harga energi kepada pelanggan.

Meski demikian, laporan tersebut juga mempertanyakan apakah kenaikan biaya ini hanya bersifat sementara bagi para pembayar tagihan. Pasalnya, gelombang adopsi AI yang terus berlanjut berpotensi membuka peluang pertumbuhan lebih lanjut bagi perusahaan utilitas. Dengan pendapatan dan keuntungan tambahan, perusahaan utilitas dapat berinvestasi pada infrastruktur pembangkit dan transmisi baru yang lebih bersih. Hal ini sejalan dengan sorotan mengenai kesiapan infrastruktur data yang menjadi prasyarat utama di balik pertumbuhan tersebut.

Kendati ada potensi keuntungan jangka panjang, Moody’s memperkirakan pemerintah akan melakukan intervensi agar konsumen tidak menanggung kenaikan harga listrik paling ekstrem. Beberapa solusi yang dinilai paling layak adalah pemotongan pajak, pembatasan harga (price caps), dan aturan yang lebih ketat untuk koneksi data center. Langkah-langkah ini diharapkan mampu menahan laju kenaikan biaya yang dibebankan kepada masyarakat.

Electrical pylons and high voltage power lines are behind a barbed wire fence. critical infrastructure

Dengan dampak data center yang dinilai lebih besar terhadap pembayar tagihan di Amerika Serikat, belum diketahui apakah Eropa akan mengikuti langkah serupa melalui Ratepayer Protection Pledge dan bagaimana negara-negara di benua itu akan melindungi warganya dari kenaikan harga listrik. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat tengah membangun data center dalam jumlah besar, namun jaringan listrik yang menopangnya dinilai belum mampu mengimbangi kecepatan pembangunan tersebut.

Sejumlah pakar juga memperingatkan bahwa pasar data center Inggris tertinggal dari Eropa, bahkan saat permintaan terus melonjak. Kondisi ini menambah kompleksitas persoalan energi yang dihadapi kawasan tersebut. Di sisi lain, regulasi terkait transparansi konsumsi energi dan air oleh data center juga mulai menjadi perhatian, termasuk rencana Uni Eropa yang akan mewajibkan pengungkapan penggunaan sumber daya tersebut.

Perdebatan mengenai siapa yang seharusnya menanggung biaya peningkatan jaringan listrik semakin mengemuka. Sebuah rancangan undang-undang yang mewajibkan data center AI membayar peningkatan jaringan listrik dikabarkan telah mencapai tonggak kritis. Langkah ini menunjukkan bahwa tekanan publik dan politik terhadap industri data center terus meningkat seiring dengan bertambahnya kebutuhan energi mereka.

Bagi konsumen di Eropa, laporan ini menjadi sinyal bahwa tagihan listrik berpotensi naik dalam beberapa tahun ke depan jika tidak ada intervensi yang tepat. Sementara itu, pelaku industri data center menghadapi tekanan untuk menanggung biaya infrastruktur yang lebih adil, seiring dengan pertumbuhan pesat kebutuhan komputasi untuk kecerdasan buatan. Keseimbangan antara mendorong inovasi AI dan melindungi konsumen dari lonjakan biaya energi akan menjadi tantangan utama bagi pembuat kebijakan di Eropa.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.