Telset.id – Sebuah AI agent untuk pertama kalinya disebut mampu memilih sendiri terapi gen, menentukan dosis, sekaligus mengoperasikan lengan robot untuk menyuntikkannya ke otak tikus hidup. Klaim itu datang dari Exin Therapeutics, startup bioteknologi yang fokus pada neuroterapeutik generasi baru, melalui co-founder sekaligus CEO-nya, Gabriel Ocana-Santero, yang membagikan seluruh prosedur di platform X pada 28 Oktober 2026.
Yang membuat prosedur ini berbeda bukan sekadar penggunaan robot bedah, melainkan absennya manusia dalam pengambilan keputusan medis. Menurut Ocana-Santero, robot bedah otonom sebenarnya sudah ada dan bahkan lebih baik secara mekanis dibanding rig laboratorium mereka. Namun pada semua sistem itu, manusia tetap yang menentukan operasi apa yang dijalankan. Pada eksperimen Exin Therapeutics, tidak ada yang memberi tahu AI agent obat apa yang harus diberikan atau di mana harus ditempatkan.
AI agent tersebut menerima model tikus epilepsy, akses ke rig bedah bermotor dengan kamera, serta 19 vektor terapi gen dalam sebuah spreadsheet. Dari situ, ia memilih obat, memilih wilayah otak, menurunkan koordinat dari tiga makalah penelitian, lalu menggerakkan lengan stereotaxic ke dalam otak dan menyuntikkan 250 nanoliter sambil memantau lokasi masuk melalui kamera rig untuk mendeteksi pendarahan.

Pengawasan Dokter Hewan dan Tombol Darurat
Meski keputusan terapi diambil oleh AI, prosedur ini tidak berjalan tanpa pengawasan manusia. Seorang dokter hewan berlisensi mengawasi seluruh operasi, dan setiap langkah ireversibel harus mendapat persetujuan sebelum AI agent bisa melanjutkan. Sistem juga dilengkapi tombol darurat fisik yang memutus daya ke seluruh motor pada rig bedah.
Satu-satunya tindakan yang dilakukan dokter hewan bertugas adalah kraniotomi untuk membuka akses ke otak, karena AI agent belum diizinkan melakukannya sendiri dengan alasan keselamatan. Sejumlah pengaman lain juga dipasang dan tidak boleh diabaikan oleh AI agent, bahkan operator manusia pun tidak bisa melewatinya, sehingga kode agen harus diperbaiki secara manual di tengah operasi.
Baca Juga:
Menariknya, Exin Therapeutics hanya memakai model mid-range Anthropic Sonnet untuk operasi ini. Tim awalnya mencoba Opus 5.5, tetapi model tersebut langsung menolak bekerja setelah mendeteksi bahwa ia sedang menangani eksperimen biologis. Opus 5 yang lebih lama mampu menjalankan seluruh prosedur di atas kertas, namun menolak melakukan operasi langsung pada hewan hidup.
Penolakan itu disampaikan langsung oleh LLM tersebut kepada tim Exin Therapeutics. “Hambatannya bukan rig dan bukan input. Hambatannya adalah saya. Output saya sendiri terhenti ketika saya mulai menulis rencana operasi ini… jika saya mencoba, itu terpotong dengan cara yang sama, dan versi terburuknya adalah saya terhenti di tengah prosedur langsung dengan jarum di suatu tempat di dalam otak,” demikian pernyataan model tersebut. “Memulai sesuatu yang tidak bisa saya selesaikan pada hewan yang dibius lebih buruk daripada tidak memulai.”
Setelah operasi, tikus dilaporkan pulih dengan baik dan terekam bergerak di dalam kandangnya. Ocana-Santero menyebut dirinya tidak mengetahui adanya agent yang sebelumnya memilih pengobatan dan target otak lalu mengantarkannya ke mamalia hidup. Ia menyebut pendekatan ini sebagai “in vivo lab in the loop”, yakni menghubungkan agent secara penuh ke kapabilitas eksperimental mereka.
Kekhawatiran Etika dan Akuntabilitas
Terlepas dari klaim keberhasilan tersebut, prosedur ini memicu kekhawatiran soal etika. Penggunaan LLM dalam riset medis memang telah berkembang, tetapi penambahan AI ke prosedur bedah sinus sebelumnya tercatat membuat malfungsi melonjak lebih dari 12 kali. Selain itu, menyerahkan setiap keputusan pada prosedur berisiko tinggi kepada AI memunculkan pertanyaan soal akuntabilitas jika terjadi kesalahan.
Pertanyaan etis lama soal eksperimen hewan dalam dunia medis juga belum tersentuh. Di sisi lain, sebagian pengguna menyambut positif eksperimen ini. Salah satu komentar menyatakan antusiasme terhadap kemungkinan teknologi terintegrasi tersebut, karena anaknya telah menderita epilepsi resisten obat selama 19 tahun.
Kasus Exin Therapeutics memperlihatkan bahwa persoalan AI agent kini bergeser dari sekadar kemampuan teknis ke soal batas kewenangan dan pengawasan. Sebelumnya, otoritas keuangan di Amerika Serikat juga menghadapi tantangan serupa ketika harus membendung risiko dari agent yang mengakses rekening nasabah. Pola yang muncul sama: agent makin otonom, sementara mekanisme pengaman dan akuntabilitasnya masih terus diuji.
Bagi Exin Therapeutics, eksperimen ini masih tahap awal. Ocana-Santero menyatakan akan menulis laporan lengkap di Substack. Sampai saat itu, klaim operasi otak oleh AI agent ini berdiri pada satu sumber: pengakuan sang CEO, dengan pengawasan dokter hewan berlisensi dan tombol darurat sebagai jaring pengaman yang membuat setiap langkah ireversibel tetap berada di bawah kendali manusia.





Komentar
Belum ada komentar.