Telset.id – Sebanyak 85% karyawan di seluruh dunia kini didorong untuk menggunakan AI di tempat kerja, tetapi 42% di antaranya tidak mengetahui alasan teknologi tersebut digunakan. Temuan ini muncul dari riset Culture Amp yang menyoroti adanya jarak antara strategi perusahaan soal AI dan cara manajer mengomunikasikannya kepada tim.
Riset bertajuk How Employees Really Feel About AI at Work itu disebut sebagai laporan benchmark dan menjadi publikasi perdana yang diproyeksikan memetakan perjalanan adopsi AI di lingkungan kerja pada tahun-tahun mendatang. Survei ini melibatkan 112.000 responden yang tersebar di 123 perusahaan di seluruh dunia, menjadikannya salah satu gambaran paling menentukan soal penggunaan AI di dunia bisnis sejauh ini.
Meski banyak yang tidak memahami tujuan penerapan AI, karyawan yang disurvei mengaku merasakan manfaatnya, terutama pada peningkatan produktivitas dan motivasi. Persoalan utamanya bukan pada penolakan karyawan, melainkan pada komunikasi manajemen soal arah strategi AI perusahaan.

Karyawan Sudah Jalankan Bagiannya
Amy Lavoie, VP of People Science di Culture Amp, menegaskan bahwa karyawan sebenarnya telah memahami risiko dan tetap menggunakan alat AI yang disediakan perusahaan. Menurutnya, mereka justru merasa lebih produktif dengan teknologi tersebut.
“Itu bukan angkatan kerja yang menolak perubahan. Itu angkatan kerja yang sudah menjalankan bagiannya dan menunggu kepemimpinan menjalankan bagian mereka,” kata Lavoie.
Survei Culture Amp juga menekankan bahwa adopsi AI masih berada di tahap awal. Dampak teknologi ini terhadap tenaga kerja dan peran individu dinilai belum sepenuhnya terlihat. Laporan ini menyoroti bagaimana AI benar-benar diperkenalkan dan digunakan di perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia.
Dinamika serupa juga terlihat pada perusahaan teknologi yang tengah berbenah, seperti yang tergambar dalam kisruh kepemimpinan di Automattic baru-baru ini.
Manajer Diminta Jujur Soal Rencana AI
Kurangnya arahan tegas dari manajemen tidak sepenuhnya menjadi kesalahan manajer individual. Dalam sejumlah kasus, arah korporat soal penggunaan AI masih berstatus “dalam pengembangan”, sehingga para pemimpin menunggu instruksi yang lebih jelas sebelum menyampaikannya kepada tim.
“Kami tidak mengetahui secara pasti peran mana yang akan dibentuk ulang oleh AI, keterampilan mana yang tetap bernilai, atau seperti apa jalur karier tiga tahun ke depan,” ujar Lavoie. “Akibatnya, para pemimpin bisa memilih diam, karena tidak mengatakan apa pun terasa lebih aman daripada mengatakan sesuatu yang ternyata salah.”
Lavoie menyimpulkan bahwa langkah paling berguna yang bisa dilakukan seorang pemimpin saat ini adalah mengakui bahwa rencananya belum selesai, lalu tetap membicarakannya. Menurutnya, yang dibutuhkan karyawan saat ini bukanlah kepastian, melainkan keterbukaan.
Baca Juga:
Temuan Culture Amp ini menegaskan bahwa adopsi AI di tempat kerja bukan sekadar soal penyediaan alat, tetapi juga soal kejelasan arah dan komunikasi dari pemimpin perusahaan. Tanpa penjelasan yang memadai, dorongan penggunaan AI berisiko berjalan tanpa pemahaman yang utuh di kalangan karyawan.
Sementara itu, perkembangan teknologi di sektor lain terus berjalan, seperti langkah Geely EX5 yang memamerkan frunk jumbo sebelum meluncur 21 September. Di industri kreatif, insiden pencurian peralatan juga mewarnai Gamescom 2026, menunjukkan bahwa tantangan operasional tetap muncul seiring percepatan transformasi teknologi.
[IMAGE: https://cdn.mos.cms.futurecdn.net/Rb6YDzdRZjccpn6MQ26KML.jpg (Role: body) (Alt: “A person typing on a laptop and using a tablet. Only their upper torso, arms and hands are visible. Text superimposed on the image shows AI “)]





Komentar
Belum ada komentar.