πŸ“‘ Daftar Isi

Dua wajah robotik berwarna hijau dan merah yang menggambarkan bot baik dan bot jahat, merepresentasikan dampak positif dan negatif AI serta chatbot.

66% Pengguna AI di Inggris Bahas Topik Sensitif ke Chatbot

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Survei Proton: 66% pengguna AI di Inggris pernah bahas topik sensitif dengan chatbot
  • 42% pengguna sedikit atau tidak percaya perusahaan AI melindungi data pribadi
  • Topik terbanyak: keuangan pribadi 33%, karier 32%, kesehatan mental 27%, hubungan 20%
  • 64% khawatir percakapan dipakai untuk profil iklan, 52% takut data untuk latih AI
  • 82% tertarik chatbot berprivasi, 44% mau berbagi jika dijamin tak untuk training
  • Proton luncurkan Lumo, alternatif ChatGPT open-source dengan enkripsi end-to-end

Telset.id – Sebanyak 66% pengguna AI di Inggris telah membahas setidaknya satu topik sensitif dengan asisten kecerdasan buatan. Temuan ini dirilis oleh Proton, perusahaan teknologi asal Swiss, dan mengungkap paradoks besar dalam hubungan manusia dengan chatbot: pengguna mencurahkan isi hati mereka, tetapi tidak sepenuhnya mempercayai perusahaan di balik teknologi tersebut.

Data dari survei Proton menunjukkan 42% pengguna AI di Inggris memiliki sedikit atau sama sekali tidak percaya kepada perusahaan AI untuk melindungi informasi pribadi mereka, sementara 11% di antaranya sama sekali tidak mempercayai perusahaan-perusahaan tersebut. Meski begitu, 55% responden mengakui bahwa AI telah mengubah cara mereka mengambil keputusan sehari-hari secara mendasar. Ketidakpercayaan ini tidak menghentikan kebiasaan berbagi, dan justru memperlihatkan celah kepercayaan yang nyata di pasar.

Zona Bebas Penghakiman dan Risiko Profil Iklan

Alasan di balik fenomena ini cukup sederhana, yaitu kebebasan dari penghakiman. Meskipun teman dan keluarga tetap menjadi pilihan utama untuk diskusi sensitif, AI menawarkan sosok digital yang tersedia 24/7 dan tidak akan bereaksi dengan keterkejutan atau rasa malu. Data Proton menunjukkan topik sensitif yang paling umum dibahas adalah keuangan pribadi sebesar 33%, disusul masalah pekerjaan atau karier 32%, kesehatan mental 27%, dan masalah hubungan 20%.

β€œAI mempelajari jauh lebih banyak tentang kita dibandingkan mesin pencari. Kita tidak hanya mengajukan pertanyaan, tetapi juga berbagi konteks yang sangat pribadi tentang kesehatan, keuangan, dan hubungan kita. Ketika teknologi mengetahui begitu banyak tentang kita, privasi tidak bisa menjadi prioritas belakangan,” ujar Eamonn Maguire, Director of AI Engineering di Proton.

Kekhawatiran utama pengguna bukan hanya soal AI yang mengingat satu percakapan, atau bahkan risiko peninjau manusia membaca log mereka. Di Inggris, 64% responden cemas percakapan rentan mereka digunakan untuk membangun profil iklan atau pemasaran yang detail. Sementara itu, 52% khawatir rahasia mereka diumpankan kembali ke mesin untuk melatih model AI di masa depan.

Two robotic faces in green and red indicating a good bot and a bad bot representing the positive and negative impacts of AI and chatbots.

Pola serupa terlihat pada bagaimana pengguna mendekati konten dan alat digital lain di sekitar mereka. Dalam konteks pengelolaan cerita dan materi visual, pengguna kini semakin terbiasa memanfaatkan bantuan otomatis untuk menyusun narasi, seperti yang dibahas pada Fitur Sketch To Image yang memaksimalkan konten storytelling.

Lumo dan Janji Alternatif yang Lebih Privat

Meski diliputi kekhawatiran, pengguna di Inggris sangat terbuka terhadap solusi yang lebih aman. Sebanyak 82% pengguna menyatakan lebih mungkin menggunakan chatbot AI yang dirancang khusus dengan privasi sebagai fondasi. Bahkan 44% akan jauh lebih bersedia membagikan informasi sensitif jika mereka mendapat jaminan kuat bahwa percakapan mereka tidak akan digunakan untuk pelatihan AI.

Di sinilah Proton berharap dapat mengisi celah tersebut melalui Lumo. Dibangun dengan etos enkripsi end-to-end yang sama seperti klien email perusahaan, Lumo merupakan alternatif ChatGPT berbasis open-source yang mengutamakan privasi. Untuk membantu pengguna memahami skala jejak digital mereka, Proton baru-baru ini meluncurkan AI Paper Trail, sebuah alat dari Lumo yang secara visual menunjukkan seberapa banyak informasi pribadi yang bocor dari percakapan AI rata-rata tentang kehidupan batin pengguna.

Lumo AI by ProtonVPN

β€œOrang-orang sudah memutuskan bahwa AI cukup berguna untuk mendengar kekhawatiran soal uang, keraguan, dan kecemasan sehari-hari mereka. Mereka menyerahkan kehidupan batin dan rahasia terbesar mereka kepada perusahaan AI dengan asumsi bahwa perusahaan akan melindunginya, padahal kenyataannya sebaliknya. Model bisnis AI bergantung pada mempelajarinya,” tambah Maguire.

Kebutuhan akan kejelasan soal bagaimana data pribadi dikelola juga tercermin di industri lain. Pendekatan storytelling visual yang terstruktur, misalnya, bisa dipelajari lewat Tips Visual Storytelling ala Joko Anwar, yang menekankan pentingnya menyampaikan pesan secara tepat sasaran.

Perkembangan alat digital untuk bercerita pun terus bergerak. Sebelumnya, kehadiran Sway Digital Storytelling di Windows 10 menunjukkan bagaimana platform digital berlomba menyediakan sarana ekspresi yang mudah diakses, sejalan dengan cara pengguna kini memperlakukan AI sebagai ruang bercerita pribadi.

Survei Proton ini menegaskan satu hal: pengguna AI di Inggris telah menerima teknologi ini sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, namun kepercayaan terhadap pengelolaan datanya belum mengikuti. Selama celah antara kebiasaan berbagi dan rasa aman itu belum tertutup, adopsi chatbot yang mengedepankan privasi seperti Lumo akan terus menjadi sorotan, sekaligus menekankan bahwa perlindungan data pribadi bukan lagi fitur tambahan, melainkan syarat utama.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.