📑 Daftar Isi

Ilustrasi penggunaan AI dalam proses rekrutmen dan seleksi pelamar kerja

55% Perusahaan Inggris Belum Pakai AI di Rekrutmen, Kandidat Mulai Menolak

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • 55% perusahaan Inggris belum pakai AI di rekrutmen, di atas rata-rata global 36%
  • 28% pelamar Inggris enggan melamar jika ada asesmen AI, lebih tinggi dari global 23%
  • 78% kandidat global tetap memakai AI dalam proses pencarian kerja
  • 2 dari 5 perusahaan Inggris kesulitan verifikasi keterampilan pelamar karena AI
  • 46% karyawan global khawatir AI menggantikan pekerjaan, meski 64% perusahaan sebut headcount tak terpengaruh
  • 68% pekerja hanya dapat pelatihan AI minim atau tanpa pelatihan sama sekali

Telset.id – Lebih dari separuh perusahaan di Inggris, tepatnya 55 persen, masih belum menggunakan AI dalam proses rekrutmen mereka. Angka ini jauh di atas rata-rata global yang hanya 36 persen, berdasarkan riset terbaru Morgan McKinley. Temuan ini menempatkan Inggris tertinggal dalam adopsi AI untuk seleksi tenaga kerja, sekaligus membuka celah ketidaksesuaian ekspektasi antara perusahaan dan pencari kerja.

Di sisi lain, para pencari kerja di Inggris justru semakin waspada terhadap penggunaan AI dalam menilai mereka. Sebanyak 28 persen pelamar mengaku akan lebih enggan melamar pekerjaan jika proses seleksinya menggunakan asesmen berbasis AI. Angka tersebut juga lebih tinggi dibanding rata-rata global sebesar 23 persen. Artinya, perusahaan yang ingin menarik talenta terbaik perlu mempertimbangkan ulang cara mereka mengadopsi teknologi ini.

Meski begitu, kekhawatiran terhadap AI tidak menghalangi pelamar memanfaatkannya. Data Morgan McKinley menunjukkan 78 persen kandidat global tetap menggunakan AI di beberapa titik dalam perjalanan pencarian kerja mereka. Fenomena ini memperlihatkan dua sisi berbeda: pelamar memakai AI untuk mempermudah proses, tetapi sekaligus menolak ketika AI dipakai untuk menilai kemampuan mereka.

Dampaknya, proses penilaian manusia justru bisa tertutup oleh lapisan otomatisasi. Dua dari lima perusahaan di Inggris mengaku penggunaan AI membuat verifikasi keterampilan pelamar menjadi lebih sulit. Perekrut juga mencatat bahwa AI mendorong volume lamaran yang harus mereka proses menjadi lebih tinggi, yang berpotensi menambah kuantitas tanpa menjamin kualitas.

Kekhawatiran Pekerja dan Minimnya Pelatihan AI

Chris Lawton, Senior MD Morgan McKinley UK, menjelaskan bahwa organisasi perlu menyeimbangkan manfaat AI dengan transparansi dan pengawasan manusia. “Saat kandidat semakin banyak menggunakan AI dalam pencarian kerja mereka dan perusahaan bergulat memverifikasi keterampilan serta pengalaman, organisasi perlu menyeimbangkan manfaat AI dengan transparansi dan pengawasan manusia,” ujarnya.

Kekhawatiran terkait pekerjaan juga masih membayangi adopsi AI secara lebih luas. Hampir separuh karyawan global, atau 46 persen, cemas bahwa AI dapat menggantikan posisi mereka. Namun, 64 persen perusahaan menyatakan bahwa AI belum benar-benar memengaruhi jumlah karyawan mereka. Ketimpangan antara kekhawatiran pekerja dan realitas di perusahaan ini menjadi salah satu temuan penting dalam laporan tersebut.

Laporan Morgan McKinley juga menyerukan pendekatan adopsi AI yang lebih bermakna, salah satunya melalui peluang pelatihan yang didukung perusahaan. Hanya satu dari empat pekerja yang menilai perusahaan mereka telah berinvestasi secara memadai untuk pengembangan kemampuan AI mereka. Data Morgan McKinley bahkan mengungkap 68 persen pekerja hanya menerima pelatihan AI yang tidak memadai atau sama sekali tidak mendapatkannya.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa kesenjangan keterampilan AI masih menjadi persoalan utama di tempat kerja. Tanpa dukungan pelatihan yang jelas, pekerja berisiko harus menavigasi transisi teknologi ini sendirian. Hal serupa juga tercermin dalam dinamika adopsi AI di sektor lain, misalnya pada grup penasihat matematika yang dibentuk OpenAI untuk merespons kontroversi.

A woman out of focus in the background touches the word AI, lit up in glowing yellow light, in the foreground. The woman is wearing smart glasses

Lawton menegaskan bahwa organisasi harus membekali karyawan mereka dengan keterampilan, panduan, dan tata kelola yang tepat. “Organisasi perlu memberi orang-orang mereka keterampilan, panduan, dan tata kelola untuk menggunakan AI secara efektif dan bertanggung jawab, daripada membiarkan individu menavigasi transisi ini sendirian,” tutupnya.

Bagi perusahaan yang tengah menyiapkan strategi SDM di 2026, temuan ini menjadi pengingat bahwa adopsi AI tidak cukup hanya berhenti pada penyediaan alat. Verifikasi keterampilan, transparansi proses, dan pelatihan yang memadai menjadi tiga hal yang perlu berjalan beriringan agar AI benar-benar memberi nilai tambah dalam rekrutmen. Tanpa itu, perusahaan berisiko kehilangan kandidat berkualitas sekaligus memperbesar beban kerja perekrut.

[CONCLUSION]
Kesenjangan adopsi AI dalam rekrutmen di Inggris menunjukkan bahwa teknologi ini belum menjadi solusi menyeluruh. Perusahaan yang ingin tetap kompetitif perlu memastikan AI digunakan secara transparan, didukung pengawasan manusia, dan disertai pelatihan yang memadai bagi pekerja maupun perekrut.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.