📑 Daftar Isi

Snap Specs kacamata augmented reality dengan desain futuristik dipamerkan di AWE 2026

Snap Specs AR: Kacamata Pintar dengan Harga Rp 36 Juta

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Snap Specs resmi diluncurkan dengan harga USD 2,195 atau sekitar Rp 36 juta
  • Kacamata AR ini menggunakan teknologi waveguide display dan dua chip Snapdragon
  • Bobot lebih ringan dari Apple Vision Pro, tanpa perlu compute puck eksternal
  • Dikembangkan selama hampir satu dekade oleh tim Snap
  • Target pasar early adopter dengan kantong tebal
  • Mendapat kritik dari Even Realities CTO soal bobot 136 gram
  • Tersedia pre-order dengan jadwal rilis musim gugur 2026
  • Memanfaatkan ekosistem 450 ribu developer Snap

Telset.id – Snap resmi meluncurkan kacamata augmented reality (AR) terbarunya, Snap Specs, dengan harga fantastis USD 2,195 atau sekitar Rp 36 juta. Produk ini dihadirkan sebagai perangkat komputasi spasial yang jauh lebih ringkas dibandingkan Apple Vision Pro, namun tetap menawarkan pengalaman imersif berkat teknologi waveguide display dan dua chip Snapdragon di dalamnya.

Peluncuran Snap Specs dilakukan oleh CEO Snap, Evan Spiegel, dalam ajang AWE 2026. Dalam presentasinya, Spiegel menyebut momen ini sebagai “iPhone moment” bagi Snap, menandai lahirnya kategori produk baru di dunia komputasi. Kacamata ini tidak sekadar menjadi aksesori, melainkan perangkat mandiri yang mampu menjalankan aplikasi AR secara native tanpa perlu dihubungkan ke komputer atau smartphone.

Russell Patton, product manager untuk Specs di Snap, menjelaskan bahwa pengembangan produk ini memakan waktu hampir satu dekade. “Kami telah melihat pergeseran komputasi terjadi, dan kami melihat pergeseran berikutnya akan datang. Ke depannya, akan terjadi pergeseran dari ponsel ke kacamata, dan saya pikir ini bukan sekadar mengambil aplikasi yang ada di ponsel dan menaruhnya di kacamata,” ujar Patton dalam wawancara eksklusif dengan Tom’s Guide.

Menurut Patton, Snap Specs dirancang untuk menghadirkan “konten spasial sejati” yang berbeda dari pendekatan AI visual pada produk lain seperti Xreal Aura yang menggunakan Gemini. Snap Specs memanfaatkan lebih dari 450 ribu developer di platform Snap untuk menciptakan lensa AR yang mampu memberikan pengalaman visual yang lebih mendalam, seperti menandai komponen mesin mobil secara langsung di ruang AR saat pengguna ingin memperbaikinya.

Desain dan Tantangan Teknis

Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan Snap Specs adalah ukuran perangkat. Setelah berbicara dengan mantan VP hardware Snap tahun lalu, misi utama tim adalah membuat kacamata ini “jauh lebih kecil” dari prototipe sebelumnya. Snap berhasil mencapai hal ini dengan mendesain estetika kacamata mengikuti ukuran komponen internal, bukan sebaliknya.

“Anda perlu melihat bagaimana kami bisa membuat sesuatu yang efisien. Bagaimana kami benar-benar mengambil tampilan optik, mendorong ukurannya ke bawah, tetapi pada saat yang sama memberikan kemampuan untuk melakukan komputasi spasial yang sesungguhnya,” komentar Russell.

Tantangan utama lainnya adalah teknologi display. Snap Specs menggunakan teknologi waveguide display, yaitu proyektor kecil yang membiaskan gambar melalui jutaan alur yang dicetak langsung ke lensa kacamata. Teknologi ini berbeda dari prisma yang digunakan pada kacamata AR lainnya. “Anda membutuhkannya agar efisien sehingga baterai bisa berukuran wajar, dan Anda membutuhkannya agar kompak sehingga proyektor tidak mendorong ukuran kacamata menjadi besar. Banyak pekerjaan besar pada optik dan seluruh desain mekanis terjadi untuk melakukan integrasi yang benar-benar matang,” tambah Patton.

Dengan bobot yang diklaim jauh lebih ringan dari headset VR pada umumnya, Snap Specs menjadi salah satu kacamata AR paling canggih yang pernah ada. Perangkat ini mengintegrasikan dua chip Snapdragon, baterai, dan puluhan sensor tanpa perlu compute puck eksternal seperti yang biasa ditemukan pada produk pesaing.

Harga dan Target Pasar

Snap Specs sudah bisa dipesan (pre-order) dengan harga USD 2,195 atau setara dengan Rp 36 juta (estimasi kurs Rp 16.400 per dolar AS). Untuk pasar Inggris, harganya mencapai £1,995. Produk ini dijadwalkan rilis pada musim gugur tahun 2026 atau sekitar September hingga November.

Harga yang sangat tinggi ini jelas menyasar segmen early adopter dengan kantong tebal. Patton menjelaskan bahwa nilai yang ditawarkan Snap Specs sangat berbeda dari kacamata display biasa seperti Ray-Ban Display. “Ini tentang membuka banyak kategori nilai yang benar-benar menarik. Mulai dari utilitas seperti bantuan AI, pengukuran, mendengarkan audio, memiliki layar virtual besar, menjelajah web, atau streaming video dari perangkat lain,” jelasnya.

Meskipun banyak kacamata AR lain sudah menawarkan fitur serupa, Patton menekankan bahwa Snap Specs mampu menciptakan “pengalaman AR spasial yang kaya dan menarik” berkat manajer eksternal yang sangat besar. “Saya pikir ini benar-benar untuk seseorang yang bersemangat untuk mengalami platform komputasi baru dan terlibat dengan kemampuan tersebut,” tambahnya.

Namun, harga selangit ini menuai kritik dari berbagai pihak. Publik menilai harga tersebut terlalu mahal untuk sebuah perangkat yang masih dalam tahap awal adopsi. Kacamata mahal yang diolok-olok publik ini dianggap belum memiliki ekosistem aplikasi yang matang untuk membenarkan banderol harganya.

Bahkan, CTO Even Realities ikut mengomentari Snap Specs. Even Realities CTO kritik Snap Specs dan menyebut bahwa bobot 136 gram tidak cocok untuk dipakai seharian. Kritik ini menambah daftar panjang keraguan terhadap kenyamanan penggunaan jangka panjang perangkat tersebut.

Prospek dan Masa Depan

Meskipun kontroversial, Snap Specs tetap menjadi tonggak penting dalam evolusi komputasi wearable. Perangkat ini menjadi realisasi pertama dari visi smart glasses yang selama ini diimpikan: mengambil kemampuan komputasi dari headset VR yang besar dan memadatkannya ke dalam bentuk kacamata.

Dari pengalaman langsung yang dilaporkan oleh jurnalis Tom’s Guide, Snap Specs menawarkan pengalaman yang jauh lebih baik dari yang dikhawatirkan sebelumnya. Tampilan fisik kacamata ini dinilai jauh lebih baik dari yang dibayangkan, meskipun masih ada satu kekurangan besar terkait kenyamanan pemakaian.

Snap sendiri telah membangun ekosistem yang kuat dengan lebih dari 450 ribu developer yang siap menciptakan lensa dan aplikasi AR untuk platform ini. Hal ini menjadi modal penting untuk menarik lebih banyak pengguna, meskipun harga masih menjadi hambatan utama.

Bagi para early adopter yang memiliki dana lebih, Snap Specs menawarkan pengalaman komputasi spasial yang belum pernah ada sebelumnya dalam bentuk yang wearable. Namun, bagi pengguna pada umumnya, harga Rp 36 juta mungkin masih terlalu mahal untuk sebuah produk yang masih mencari bentuk pasarnya.

Ke depannya, Snap harus mampu menurunkan biaya produksi dan memperluas ekosistem aplikasi agar Snap Specs bisa diadopsi lebih luas. Jika tidak, produk ini hanya akan menjadi mainan mahal bagi segelintir orang, bukan revolusi komputasi yang diimpikan oleh Evan Spiegel.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.