Galaxy Z Fold 8 Ultra dengan desain ultra-tipis

Samsung Kejar Ponsel Lipat Tertipis karena Tak Punya Pilihan Lain

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Samsung kejar predikat ponsel lipat tertipis dengan Galaxy Z Fold 8 Ultra (ketebalan 4,1 mm)
  • Langkah ini merupakan strategi bertahan karena Samsung bukan lagi pemimpin pasar foldable global
  • Huawei pimpin pasar foldable global, Honor dan merek China lain terus agresif
  • Apple diprediksi masuk pasar foldable dengan iPhone Ultra dan bisa jadi pemimpin pada 2027
  • Persaingan ke depan bukan hanya soal ketebalan, tapi ekosistem dan loyalitas pengguna

Telset.id – Samsung dikabarkan akan meluncurkan Galaxy Z Fold 8 Ultra dengan predikat sebagai ponsel lipat tertipis di dunia. Namun, langkah ini bukan sekadar inovasi, melainkan strategi bertahan di tengah persaingan ketat pasar foldable global.

Menjelang Galaxy Unpacked Juli 2026, rumor ketebalan Galaxy Z Fold 8 Ultra yang hanya sekitar 4,1 mm menjadi sorotan utama. Angka ini menempatkannya sejajar dengan Honor Magic V6 yang juga memiliki ketebalan 4,1 mm. Sebagai perbandingan, Galaxy Z Fold 7 memiliki ketebalan 4,2 mm, sementara Huawei Mate X7 berada di angka 4,5 mm.

Meski selisih ketebalan ini terlihat tipis, pertanyaan mendasar muncul: apakah perbedaan 0,1 mm benar-benar terasa oleh pengguna? Sebagian besar orang mungkin tidak akan menyadari perbedaan tersebut tanpa alat ukur. Namun, bagi Samsung, angka ini menjadi krusial untuk bersaing di pasar yang semakin jenuh.

Persaingan di pasar foldable global tidak pernah semeriah sekarang. Huawei saat ini memimpin pangsa pasar global dengan margin yang lebar, didorong oleh tingginya permintaan di China. Sementara itu, Honor terus menggebrak dengan perangkat ultra-tipis seperti Magic V6, dan merek-merek China lainnya terus mendorong peningkatan hardware yang agresif.

Posisi Samsung sebagai pionir foldable kini mulai tergerus. Meski telah memperkenalkan kategori ini ke jutaan pengguna global, Samsung tidak lagi menjadi kekuatan dominan. Perusahaan asal Korea Selatan itu kesulitan mengubah posisinya di China, di mana pangsa pasar smartphone-nya masih sangat kecil. Mereka juga tidak bisa lagi mengandalkan status sebagai satu-satunya pengalaman foldable yang mumpuni, karena para pesaing telah mengejar ketertinggalan.

Dengan kondisi tersebut, penyempurnaan hardware menjadi salah satu dari sedikit cara yang tersisa untuk menonjol. Samsung mungkin tidak membuat ponsel lipatnya lebih tipis karena pengguna memintanya, melainkan karena tidak banyak cara lain untuk bersaing. Ketebalan telah menjadi spesifikasi yang paling mudah dipasarkan karena sederhana untuk diukur dan mudah dibandingkan di atas kertas.

Perjalanan foldable sebenarnya sudah sangat matang. Hingga lima tahun lalu, para produsen masih memecahkan masalah nyata dan jelas. Engsel menyisakan celah besar, perangkat terasa berat, layar dalam memiliki lipatan yang mengerikan, daya tahan baterai tertinggal dari ponsel biasa, dan kamera tidak bisa bersaing dengan saudara flagship non-lipatnya. Sekarang, ponsel lipat sudah lebih ringan, lebih kuat, lebih terang, dan jauh lebih halus dibandingkan Galaxy Fold generasi pertama dari 2019.

Seiring hilangnya masalah-masalah besar tersebut, perusahaan membutuhkan fitur unggulan baru setiap tahun. Ketebalan menjadi salah satu yang termudah untuk dipasarkan. Namun, apakah ini benar-benar penting? Dalam penggunaan sehari-hari, perbedaan antara 4,2 mm dan 4,1 mm sulit diapresiasi. Bahkan ketebalan 4,5 mm pun tidak terasa besar. Namun, setiap acara peluncuran selalu menyoroti ketebalan.

Selain persaingan dari merek China, Samsung juga harus bersiap menghadapi kehadiran Apple. Raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu diperkirakan akan memasuki pasar foldable dengan iPhone Ultra yang telah lama dirumorkan. Analis bahkan meyakini Apple bisa menjadi merek foldable terlaris di dunia pada tahun 2027.

Prediksi tersebut lebih banyak berbicara tentang ekosistem dan loyalitas pelanggan Apple, bukan tentang hardware-nya. Jutaan pengguna iPhone yang selama bertahun-tahun mengabaikan ponsel lipat mungkin akhirnya mempertimbangkan untuk membeli satu hanya karena Apple yang membuatnya. Samsung, Huawei, dan Honor telah bertahun-tahun menyempurnakan engsel, mengurangi ketebalan, dan membuktikan bahwa ponsel lipat adalah perangkat praktis sehari-hari. Apple bisa datang setelah sebagian besar pekerjaan itu selesai dan langsung membentuk kembali pasar.

Jika itu terjadi, perlombaan untuk membuat ponsel lipat tertipis di dunia mungkin akan segera menjadi sekunder. Pertempuran selanjutnya mungkin bukan tentang siapa yang memiliki perangkat tertipis, melainkan tentang ekosistem siapa yang memberi pengguna alasan terkuat untuk memilih ponsel lipat sejak awal.

Dengan segala dinamika ini, langkah Samsung mengejar predikat “ponsel lipat tertipis” melalui Galaxy Z Fold 8 Ultra adalah sebuah keniscayaan kompetitif. Di tengah tekanan dari Huawei, Honor, dan ancaman dari Apple, inovasi dalam bentuk penyempitan ketebalan menjadi salah satu senjata yang masih bisa diandalkan. Namun, ke depannya, pertarungan mungkin tidak akan lagi berkutat pada milimeter, melainkan pada pengalaman dan loyalitas ekosistem.

Bagi penggemar teknologi di Indonesia, persaingan Samsung dengan merek lain di pasar global patut dicermati. Bagaimana Samsung akan mempertahankan posisinya di tengah gempuran kompetitor dan kehadiran Apple akan menjadi cerita menarik untuk diikuti. Galaxy Unpacked Juli 2026 akan menjadi babak awal dari persaingan baru ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.