Telset.id – Oppo menyiapkan strategi premiumisasi agresif di pasar Eropa dan menjadikan Oppo Find X10 Pro Max sebagai ujian pertama. Langkah ini diambil ketika penjualan smartphone global berada di titik terendah dalam 14 tahun pada kuartal ketiga 2026, menurut data Counterpoint Research yang dikutip TechRadar.
CEO Oppo Europe Elvis Zhou menyatakan bahwa pasar premium Eropa saat ini dikuasai dua merek besar. Oppo tidak berniat menggantikan posisi mereka, melainkan menawarkan opsi ketiga yang berbeda. “Saya percaya konsumen lokal Eropa akan tertarik pada opsi ketiga yang bagus,” ujar Zhou dalam wawancara roundtable bersama TechRadar.
Data Counterpoint Research menunjukkan kuartal ketiga 2026, periode Juli hingga September, menjadi Q3 terendah untuk penjualan smartphone dalam 14 tahun terakhir. Merek penantang seperti Oppo, Xiaomi, dan Vivo mengalami penurunan pangsa pasar dibanding periode yang sama pada 2025. Hanya Apple dan Samsung yang mencatat pertumbuhan pangsa pasar pada periode tersebut, meski keduanya juga mengalami penurunan penjualan tahun ke tahun.
Kenaikan biaya komponen yang tajam menghantam segmen budget dan mid-range. Konsumen juga semakin lama mempertahankan perangkat mereka dan lebih selektif dalam membelanjakan uang. Apple dan Samsung menguasai 68 persen pasar smartphone Eropa, masing-masing 34 persen. Sementara pangsa pasar Oppo di Eropa berada di kisaran 1 hingga 4 persen berdasarkan berbagai sumber.
Tiga Tren yang Jadi Peluang Oppo
Zhou mengakui dua merek mapan di Eropa masih memimpin dari sisi brand awareness, saluran penjualan, hingga kanal ritel. Namun riset pasar Oppo mengidentifikasi tiga tren yang berpotensi menguntungkan. Pertama, konsumen muda di Eropa siap membeli smartphone secara online sehingga Oppo bisa berinteraksi langsung dengan mereka.
Kedua, generasi muda meragukan iklan dan lebih percaya pengalaman pengguna nyata yang dibagikan di media sosial. Menurut Zhou, jika mereka percaya pada testimoni tersebut, pengalaman yang dibagikan secara organik itu harus berasal dari produk yang benar-benar baik. Ketiga, konsumen muda mengajukan pertanyaan ke alat AI dalam proses pengambilan keputusan pembelian.
Zhou menyebut lebih dari 40 persen anak muda bertanya kepada alat AI saat ingin membeli ponsel baru. Alat AI dinilai membantu merek karena lebih berfokus pada fitur dan pengalaman pengguna produk tanpa gangguan lain. Berdasarkan tiga tren tersebut, Zhou yakin nilai produk Oppo lebih dihargai saat ini.
Baca Juga:
TechRadar membuktikan poin terakhir dengan membandingkan hasil pencarian “best phone for photography” di ChatGPT dan Google. ChatGPT menempatkan Oppo Find X9 Ultra sebagai pilihan nomor satu, sementara Google tidak menyebut Oppo sama sekali hingga pengguna mengklik panduan khusus kamera ponsel terbaik. Oppo Find X9 Ultra sendiri memiliki spesifikasi kamera yang lebih baik dibanding iPhone 18 Pro dan Samsung Galaxy S26 Ultra.

Tantangan Persepsi dan Fokus pada Kepatuhan
Dalam wawancara tersebut, Zhou juga ditanya apakah Oppo dan perusahaan China lainnya menghadapi masalah persepsi di Barat, khususnya soal privasi. Zhou menilai konsumen muda di Eropa berpikiran terbuka, terdidik, masuk akal, dan rasional. Mereka independen dalam proses pengambilan keputusan dan lebih fokus pada produk itu sendiri, mulai dari kualitas pengalaman hingga nilai uang.
Riset pasar Oppo menemukan konsumen muda lebih tertarik pada kemampuan imaging yang baik, fitur AI, dan ketahanan baterai. Zhou menambahkan pasar Eropa sangat memperhatikan privasi data sehingga Oppo memberi perhatian besar pada kebijakan kepatuhan. Oppo memastikan desain produknya memenuhi semua tuntutan regulasi kepatuhan tersebut.
Zhou menyatakan keyakinannya bahwa produk Oppo dapat bertahan menghadapi ujian waktu. Ia berharap suatu hari konsumen lokal Eropa memahami bahwa produk Oppo tidak hanya memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga melampaui permintaan tersebut.

Oppo pun menaruh seluruh fokus pada segmen premium untuk masa mendatang. Sepasang ponsel flagship berikutnya, Oppo Find X10 dan X10 Pro Max yang berfokus pada kamera, akan menjadi ujian pertama strategi premiumisasi baru perusahaan. Kedua perangkat dijadwalkan rilis pada 21 Oktober dan diperkirakan lebih mahal dibanding pendahulunya.
Jika konsumen muda Eropa benar-benar mengutamakan imaging, AI, dan daya tahan baterai seperti temuan Oppo, seri Find X10 berpeluang besar menarik perhatian di benua tersebut. Zhou menegaskan Oppo tidak hadir untuk menjual smartphone yang lebih terjangkau, melainkan menawarkan pengalaman berbeda bagi pasar premium. “Kami tidak di sini untuk mengatakan akan menggantikan salah satu merek mapan ini,” tegasnya.
Persaingan antarproduk flagship di masa depan, menurut Zhou, tidak lagi soal harga. Oppo memposisikan diri sebagai alternatif ketiga yang berbeda di pasar premium Eropa, bukan sebagai pesaing yang menawarkan harga lebih murah. Langkah ini sekaligus menjawab tekanan industri akibat kenaikan biaya komponen yang memukul segmen budget dan mid-range.
Bagi Oppo, strategi premiumisasi di Eropa bergantung pada kemampuan meyakinkan konsumen muda bahwa nilai produknya sepadan. Visibilitas di platform AI, kepercayaan dari testimoni organik di media sosial, dan kepatuhan terhadap regulasi privasi Eropa menjadi tiga pilar yang akan diuji lewat penerimaan pasar terhadap seri Find X10.





Komentar
Belum ada komentar.