Telset.id – OnePlus secara resmi mengonfirmasi hengkang dari pasar Amerika Utara dan Eropa pada Juli 2026. Keputusan ini memicu pertanyaan besar bagi konsumen: apakah masih layak membeli smartphone OnePlus di tengah ketidakpastian dukungan perangkat lunak dan layanan purna jual?
Bagi sebagian besar calon pembeli, jawabannya mungkin tidak. Meskipun OnePlus berjanji akan melanjutkan dukungan perangkat lunak dan layanan purna jual untuk perangkat yang sudah terjual, perusahaan membuat perubahan besar dalam cara pembaruan perangkat lunak di masa depan akan ditangani. Pengguna setia OnePlus akan tahu betapa pentingnya OxygenOS bagi identitas merek ini, dan jika mereka tidak mendapatkan pengalaman perangkat lunak yang dijanjikan, akan semakin sulit untuk membenarkan pembelian ekosistem yang tidak memiliki masa depan.
Perpisahan dengan OxygenOS
Salah satu kekuatan terbesar OnePlus, selain lini smartphone dengan spesifikasi berlebihan, adalah pengalaman perangkat lunak yang dinikmati penggunanya. OnePlus One debut dengan CyanogenMod, versi Android yang sangat digerakkan oleh komunitas. Perusahaan kemudian beralih ke sistem operasi racikannya sendiri, OxygenOS, yang dikenal menawarkan pengalaman bersih dengan segudang opsi kustomisasi.
Hampir setiap ulasan smartphone OnePlus selalu memuji betapa responsif dan kaya fiturnya OxygenOS. Namun, hal itu akan berubah. Meskipun OnePlus tidak menghentikan dukungan untuk ponsel yang telah dijual di AS, pengguna yang ingin merasakan versi Android terbaru diharapkan beralih ke ColorOS, antarmuka perangkat lunak yang sama dengan yang digunakan smartphone Oppo. Pengguna tentu saja mengungkapkan frustrasi atas keputusan ini.

Namun, jika Anda baru saja membeli smartphone Oppo dan meletakkannya di samping perangkat OnePlus, Anda akan menyadari bahwa OxygenOS dan ColorOS saat ini hampir identik. Keduanya berbagi codebase yang sama sejak 2021, jadi sebenarnya tidak ada yang terlewatkan dengan beralih. ColorOS milik Oppo memang memiliki sedikit bloatware dibandingkan OxygenOS, dan akan sangat disayangkan jika OnePlus menghilangkan beberapa fitur unik yang membedakan versi Android-nya.
Baca Juga:
Resiko Tinggi, Hadiah Besar
Di awal tahun 2026, penulis artikel sumber memiliki keinginan untuk upgrade ke OnePlus 15, meskipun banyak rumor mengenai potensi kepergian perusahaan dari beberapa pasar global. Ponsel ini dinilai terlalu bagus untuk diabaikan, sehingga keputusan untuk membelinya pun diambil. Harganya jauh lebih murah dibandingkan flagship kompetitor dari Samsung dan Apple, dan penulis mengaku tidak masalah dengan sistem kamera yang bukan yang terbaik di kelasnya.
Sebagai gantinya, pengguna mendapatkan layar OLED yang cerah, tenaga besar dari Snapdragon 8 Elite Gen 5, kecepatan pengisian daya 120W yang sangat cepat, dan pengalaman perangkat lunak yang terasa lebih responsif daripada skin Android lain yang pernah digunakan. OnePlus juga tidak mengunci pengguna dalam ekosistemnya seperti yang dilakukan Apple. Bahkan jika Anda memutuskan untuk membeli OnePlus Buds atau OnePlus Watch, Anda tetap bisa memasangkannya dengan smartphone Android lain tanpa kehilangan fitur-fitur penting.

Intinya, jika Anda benar-benar ingin mendapatkan smartphone OnePlus terakhir Anda, hal itu tetap bisa dilakukan, asalkan Anda siap untuk beralih ke ColorOS. Baik OnePlus 15 maupun OnePlus 15R dijadwalkan menerima empat pembaruan sistem operasi Android utama dan enam tahun tambalan keamanan. Layanan purna jual dapat diakses melalui situs web OnePlus Support, dan perusahaan mengklaim akan menghormati komitmen garansi yang ada.
Keputusan hengkangnya OnePlus tentu menjadi pertimbangan besar. Di satu sisi, pengguna bisa mendapatkan performa flagship dengan harga lebih terjangkau. Di sisi lain, masa depan perangkat lunak dan dukungan menjadi tidak pasti. Bagi yang sudah memiliki perangkat OnePlus, perubahan ke ColorOS mungkin bukan masalah besar karena keduanya sudah sangat mirip. Namun, bagi calon pembeli baru, risiko membeli perangkat dari merek yang sudah tidak beroperasi di wilayahnya adalah sesuatu yang perlu dipikirkan matang-matang.
Meski demikian, nilai jual OnePlus 15 tetap kuat di atas kertas. Kombinasi chipset terbaru, layar berkualitas, dan pengisian daya super cepat masih menjadi daya tarik utama. Ditambah lagi, janji empat tahun pembaruan Android dan enam tahun patch keamanan memberikan jaminan umur pakai yang panjang. Jika Anda adalah tipe pengguna yang tidak terlalu bergantung pada dukungan ekosistem dan lebih mementingkan spesifikasi maksimal dengan budget terbatas, OnePlus 15 bisa jadi pilihan yang masuk akal.
Namun, perlu diingat bahwa membeli produk dari perusahaan yang telah menghentikan operasinya di wilayah Anda memiliki konsekuensi jangka panjang. Ketersediaan suku cadang, layanan reparasi, dan nilai jual kembali bisa terpengaruh. Untuk pengguna yang menginginkan ketenangan pikiran dan dukungan penuh, opsi dari merek lain yang masih aktif di pasar mungkin lebih aman. Pada akhirnya, keputusan tetap ada di tangan Anda, apakah ingin mengambil risiko demi mendapatkan flagship killer terakhir dari OnePlus.
Perlu dicatat juga bahwa sebagian besar katalog OnePlus saat ini sudah kehabisan stok di situs web resminya, tetapi Anda masih bisa membeli ponsel dan aksesori audionya melalui pengecer lain seperti Amazon. Ini menunjukkan bahwa meskipun perusahaan telah mundur, produknya masih tersedia di pasaran. Bagi kolektor atau penggemar berat OnePlus, ini mungkin menjadi kesempatan terakhir untuk memiliki perangkat dari merek yang pernah menjadi ikon di industri smartphone.
Dengan segala pertimbangan, masa depan OnePlus memang suram di pasar Barat. Namun, warisan “flagship killer” yang pernah mereka bangun tidak akan mudah dilupakan. Bagi mereka yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan performa dan pengalaman OnePlus, keputusan untuk membeli atau tidak pada akhirnya kembali pada prioritas masing-masing. Apakah Anda rela mengorbankan dukungan resmi demi mendapatkan performa terbaik dengan harga bersahabat? Jawabannya ada di tangan Anda.





Komentar
Belum ada komentar.