📑 Daftar Isi

Ilustrasi grafik kapitalisasi pasar Micron yang melonjak mendekati Meta dan Tesla

Kapitalisasi Pasar Micron Mendekati Meta dan Tesla

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Kapitalisasi pasar Micron sempat melampaui Meta dan Tesla pada Kamis lalu
  • Saham Micron melonjak 236% dalam sebulan terakhir, ditutup di $1.132 per saham
  • Lonjakan dipicu oleh booming AI yang menciptakan kelangkaan chip memori (RAMageddon)
  • Micron membukukan pendapatan kuartal III sebesar $41,45 miliar, naik 4x lipat
  • Perusahaan telah menandatangani 16 perjanjian pasokan jangka panjang dengan pelanggan besar
  • Kelangkaan chip memori diprediksi berlangsung hingga 2027

Telset.id – Micron, perusahaan pembuat chip memori asal Boise, Idaho, berhasil mencuri perhatian Wall Street. Kapitalisasi pasarnya sempat melampaui Meta dan Tesla pada Kamis lalu, meskipun pada akhir pekan turun kembali dan hampir menyamai kedua raksasa teknologi tersebut.

Fenomena ini menunjukkan betapa besarnya dampak booming infrastruktur AI terhadap permintaan chip memori. Micron, yang selama bertahun-tahun berada di bawah harga saham $100, kini menikmati lonjakan nilai pasar yang spektakuler.

Saham Micron ditutup pada perdagangan Jumat dengan kapitalisasi pasar sekitar $1,27 triliun, sementara Meta berada di $1,39 triliun dan Tesla di $1,42 triliun. Dalam sebulan terakhir saja, saham Micron telah melonjak lebih dari 236%, ditutup pada $1.132 per saham.

Kenaikan ini terbilang dramatis untuk sebuah perusahaan yang sebagian besar konsumen kenal melalui kartu memori kecil yang biasa digunakan untuk menambah penyimpanan PC, ponsel pintar, atau perangkat lainnya. Namun, Wall Street kini tidak lagi terpaku pada lini produk tersebut.

Pendorong Utama Kenaikan Micron

Micron saat ini menuai keuntungan besar dari booming pembangunan pusat data AI. Kondisi ini telah menciptakan kelangkaan chip memori sistem, baik DRAM maupun NAND, yang diproduksi Micron, terutama High-Bandwidth Memory (HBM).

Satu server AI membutuhkan memori dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan laptop. Pembuat sistem AI seperti Nvidia, bersama dengan perusahaan hyperscaler yang membangun sistem mereka sendiri, membeli memori dalam jumlah besar. Mereka termasuk Microsoft, Amazon AWS, Google, Meta, dan Oracle.

Kondisi ini memaksa semua perusahaan lain yang membutuhkan memori untuk ikut menimbun pasokan, mulai dari pembuat PC seperti Dell dan HP, hingga pembuat perangkat lainnya. Kelangkaan pasokan yang dijuluki RAMageddon ini diprediksi akan berlangsung hingga tahun 2027. Dampaknya sudah terasa dengan naiknya harga barang elektronik konsumen seperti produk Apple dan konsol Xbox.

Dengan seluruh industri teknologi berebut memori, Micron berhasil membukukan pendapatan kuartal ketiga yang luar biasa pekan lalu. Pendapatan meningkat empat kali lipat secara tahunan menjadi $41,45 miliar, sementara laba melonjak dari $1,88 miliar menjadi $28,2 miliar pada periode yang sama.

Micron juga memberikan prospek positif, memperkirakan pendapatan kuartal keempat antara $49 miliar hingga $51 miliar. Wall Street, yang sejak lama mencari perusahaan publik terkait AI yang potensial seperti Nvidia, semakin terpesona.

Strategi Jangka Panjang Micron

Masalah historis bagi pembuat chip memori seperti Micron dan Samsung adalah bahwa membangun fasilitas manufaktur untuk meningkatkan kapasitas merupakan upaya yang memakan waktu dan mahal. Seringkali, permintaan justru menurun saat perusahaan mampu meningkatkan kapasitas, menciptakan kelebihan pasokan dan penurunan harga.

Micron mengantisipasi kekhawatiran akan gejolak AI dengan menekankan serangkaian perjanjian pasokan jangka panjang, termasuk dengan Nvidia dan laboratorium AI Anthropic, yang diperkirakan akan melindungi perusahaan. Dalam presentasi pendapatannya, Micron mengumumkan telah menandatangani 16 perjanjian strategis dengan pelanggan di segmen pusat data, konsumen, dan pasar otomotif.

Perjanjian ini diharapkan secara fundamental akan mengubah model bisnis Micron. Hal ini tampaknya meyakinkan sejumlah analis bahwa perusahaan ini bisa menjadi investasi jangka panjang yang menguntungkan.

Dalam catatan risetnya, analis teknologi William Blair, Sebastien Naji, mencatat bahwa pertumbuhan permintaan terus melampaui kecepatan pembangunan ruang bersih (cleanroom) baru. “Mengingat kemungkinan besar pertumbuhan ASP yang berkelanjutan di kuartal mendatang dan visibilitas pendapatan yang meningkat berkat perluasan perjanjian jangka panjang dengan pelanggan utama, kami melihat potensi pertumbuhan pendapatan yang lebih tahan lama dan mengulangi peringkat Outperform kami,” tulis Naji.

Apakah Micron benar-benar dapat bertahan dalam jangka panjang tanpa siklus penurunan masih harus dibuktikan. Namun, untuk sesaat pada hari Kamis, perusahaan asal Amerika Serikat ini bernilai lebih tinggi dibandingkan beberapa raksasa industri teknologi.

Fenomena ini juga menarik untuk dicermati dalam konteks perkembangan teknologi lainnya. Sebagai contoh, inovasi seperti Google Wallet yang menghadirkan fitur Touchless ID untuk TSA PreCheck menunjukkan bagaimana teknologi terus beradaptasi. Sementara itu, arsitektur AI terbaru seperti Qualcomm HBC dirancang untuk mengatasi keterbatasan memori, sebuah isu yang justru menjadi berkah bagi Micron.

Ke depannya, pasar akan terus mengamati apakah Micron mampu mempertahankan momentum ini. Keberhasilan perusahaan dalam mengamankan kontrak jangka panjang menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian pasar semikonduktor global.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.