Telset.id – Pengawasan terhadap sistem Full Self-Driving (Supervised) milik Tesla semakin intensif. Serangkaian insiden, termasuk kecelakaan fatal di Texas, serta investigasi dari regulator keselamatan AS, menempatkan teknologi otonom Tesla di bawah sorotan tajam.
Kecelakaan yang menewaskan seorang wanita berusia 76 tahun terjadi ketika sebuah Tesla menabrak rumah di Texas. Awalnya, pihak berwenang melaporkan bahwa sistem Autopilot, sistem bantuan pengemudi dasar Tesla yang kini sudah dihentikan, sedang aktif saat kecelakaan terjadi. Namun, Ashok Elluswamy, wakil presiden AI software Tesla, memberikan pernyataan berbeda.
Melalui akun X, Elluswamy mengklaim bahwa pengemudi secara manual mengabaikan sistem self-driving dengan menekan pedal akselerasi hingga 100% di area pemukiman tersebut. Pernyataannya mengindikasikan bahwa kendaraan tersebut dilengkapi dengan FSD (Supervised), bukan Autopilot. Tanpa investigasi independen, kebenaran klaim ini belum dapat dipastikan.
Otoritas keselamatan lalu lintas AS, NHTSA dan NTSB, kini telah membuka investigasi resmi atas kecelakaan tersebut. Ini menambah daftar panjang pengawasan terhadap teknologi otonom Tesla.
## Investigasi dan Tuntutan Hukum
Selain kecelakaan di Texas, Tesla juga menyelesaikan gugatan terkait kecelakaan fatal tahun 2023 yang melibatkan kendaraan dengan sistem FSD (Supervised). Kecelakaan ini merupakan bagian dari investigasi terpisah oleh NHTSA yang berfokus pada kemampuan sistem FSD dalam “mendeteksi dan merespons secara tepat kondisi visibilitas jalan yang berkurang,” seperti “silau matahari, kabut, atau debu di udara.”
Semua perhatian ini datang di saat Tesla memposisikan dirinya sebagai perusahaan AI dan robotika. FSD (Supervised) saat ini menjadi produk yang paling terlihat dan menghasilkan pendapatan yang terkait dengan merek tersebut.
## Regulasi Baru dan Persaingan
Di tengah pengawasan terhadap Tesla, Departemen Perhubungan AS mengusulkan perubahan pada regulasi kendaraan federal. Usulan ini memungkinkan perusahaan untuk tidak menyertakan pedal rem pada “kendaraan yang dirancang untuk dikemudikan secara eksklusif oleh sistem mengemudi otomatis.” Langkah ini bisa menjadi dorongan bagi perusahaan seperti Tesla dan Zoox.
Sementara itu, Lyft, melalui blog CEO David Risher, menetapkan standar keamanan multi-sensor untuk kendaraan otonom di jaringannya. Intinya, kendaraan otonom yang hanya menggunakan satu jenis sensor tidak akan diizinkan beroperasi di jaringan Lyft. Ini secara implisit mengecualikan kendaraan seperti Tesla Cybercab yang hanya mengandalkan kamera.
Baca Juga:
## Perkembangan Waymo dan Robotaksi Lain
Waymo, pesaing utama Tesla di bidang robotaksi, terus menunjukkan perkembangan. Sebuah laporan riset mengungkapkan bahwa Waymo mengimpor sekitar 3.156 kendaraan Ojai ke AS tahun ini, atau sekitar 300 kendaraan per bulan. Kendaraan ini diproduksi oleh Zeekr, merek milik Geely Holding Group China, dan kemudian ditambahkan sistem self-driving oleh Waymo di AS.
Waymo juga telah mendirikan entitas di Jerman, yang diindikasikan sebagai persiapan untuk meluncurkan layanan robotaksi di negara tersebut. Sementara itu, Waymo telah menghapus daftar tunggu di Nashville, membuka layanannya untuk publik.
## Investasi dan PHK di Industri
Industri kendaraan otonom dan listrik juga diwarnai dengan berbagai aktivitas investasi dan restrukturisasi. Aseon Labs, sebuah startup Silicon Valley yang mengembangkan pod untuk inspeksi, pembersihan, dan pengisian daya robotaksi, mengumpulkan dana $10 juta dalam putaran pendanaan awal.
Di sisi lain, Lucid Motors mengumumkan PHK 18% dari tenaga kerjanya, atau sekitar 1.500 karyawan, hanya beberapa bulan setelah melakukan PHK 12% stafnya. CEO Lucid, Silvio Napoli, mengatakan langkah ini untuk menyederhanakan perusahaan dan meningkatkan daya saing.
## Dampak Regulasi dan Lalu Lintas
Selain Waymo, beberapa startup lain seperti May Mobility berpartner dengan CaoCao untuk mengeksplorasi komersialisasi layanan robotaksi di pasar internasional, dimulai dari Eropa. Elroy Air, startup drone kargo berat otonom, berencana go public melalui merger dengan perusahaan cek kosong.
Di tengah perkembangan ini, Polestar, pabrikan mobil listrik Swedia yang dimiliki Geely, tidak lagi bisa menjual mobil barunya di pasar AS karena undang-undang yang melarang teknologi kendaraan terhubung asal China.
Sementara itu, Samsara, perusahaan manajemen armada, meluncurkan label pelacak lengket seukuran kartu nama untuk mengatasi pencurian kargo. Slate Auto juga memperkenalkan truk listrik sederhana dengan harga mulai $24.950.
Uber juga menghadapi gugatan dari pemegang saham yang menuduh manajemen mengutamakan keuntungan di atas kepatuhan dan keselamatan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri kendaraan otonom dan listrik sedang berada dalam fase transisi yang penuh tantangan dan peluang.





Komentar
Belum ada komentar.