Telset.id ā Data survei perangkat keras CPU-Z mencatat penurunan kapasitas memori pada PC untuk pertama kalinya. Konfigurasi RAM 32GB turun 2,5% dan 64GB anjlok 18% secara year on year, imbas lonjakan harga DRAM global yang dipicu kebutuhan komputasi AI. Penurunan ini menandai pergeseran perilaku pengguna PC yang kini memilih kapasitas lebih kecil demi menekan biaya.
CPU-Z adalah program gratis yang menampilkan rincian perangkat keras di dalam sebuah sistem. Data ini hanya mencakup sistem yang benar-benar menginstal dan menjalankan CPU-Z, sehingga bukan angka penjualan ritel bulanan. Angka tersebut merepresentasikan basis pengguna aktif CPU-Z, bukan volume penjualan di pasar.
Menurut data yang dihimpun, konfigurasi 32GB memimpin basis pengguna CPU-Z dengan pangsa 37,2%, diikuti konfigurasi 16GB yang mendekat di angka 33%. Angka ini masuk akal karena aplikasi dan game kian menuntut memori lebih besar. Kapasitas 16GB sudah lama menjadi standar dasar, sementara 32GB kini jadi titik ideal bagi banyak orang, termasuk gamer.

Harga Memori Naik, Kapasitas Besar Jadi Barang Mewah
Penyebab penurunan kapasitas ini bukan misteri. Memori berkapasitas tinggi telah menjadi barang mewah dalam perakitan PC modern. Gelombang AI masih menyerap pasokan DRAM global, sehingga harga RAM DDR4 maupun DDR5 melambung tinggi. Ketika harga per gigabyte naik, pembeli beralih ke kapasitas yang lebih terjangkau.
Di sisi lain, konfigurasi 8GB terus menyusut dan hanya menyumbang 11% dari sistem yang disurvei. Sistem 8GB kini jarang ditemukan. Kapasitas ini masih bisa dijumpai di sistem lawas, mesin kantor dasar, atau rakitan berbudget sangat ketat yang mengorbankan performa. Sementara itu, konfigurasi kelas atas seperti 64GB dan 24GB masih minoritas dengan porsi 7,3% dan 2,3%.
Untuk pertama kalinya, pengembang CPU-Z mencatat penurunan yang signifikan pada konfigurasi berkapasitas tinggi. Konfigurasi 32GB turun 2,5% secara year on year, sedangkan opsi 64GB merosot 18%. Penurunan ini kemungkinan besar disebabkan kenaikan harga memori yang tajam, sehingga konsumen menimbang ulang untung-rugi kapasitas lebih besar.
Sebaliknya, kit memori berkapasitas lebih rendah justru mengalami kebangkitan. Konfigurasi 16GB yang sering dianggap batas minimum naik 12,9%. Konfigurasi 8GB yang sebelumnya menurun tajam tumbuh 5,5%. Menariknya, konfigurasi 24GB juga naik 19,7% dan menjadi jalan tengah bagi konsumen yang butuh lebih dari 16GB tanpa harus membeli kit 32GB yang mahal.
Perang harga memori ini juga berdampak pada pasar perangkat lain, termasuk produk konsumen yang dibanderol dengan skema langganan. Perusahaan seperti Withings bahkan mengunci sejumlah fitur di balik layanan berbayar, seperti terlihat pada kebijakan Withings Plus yang membatasi sinkronisasi data kesehatan.
Baca Juga:
DDR4 Masih Dominan, Pengguna Pilih Platform Hemat
Distribusi antara memori DDR4 dan DDR5 menunjukkan DDR4 masih menjadi standar dominan dengan porsi 54,5%. Sebaliknya, DDR5 yang merupakan teknologi memori terbaru masih berada di fase adopsi awal dengan 32,9%. DDR4 telah menjadi standar de facto hampir satu dekade, sehingga DDR5 butuh waktu untuk menyalipnya.
Meski begitu, pertumbuhan DDR4 sebesar 6% dan penurunan DDR5 sebesar 2,9% mengisyaratkan konsumen yang sadar anggaran tetap bertahan pada platform yang masih mendukung DDR4. Contohnya prosesor AMD Zen 3 seperti Ryzen 5000 (kodenama Vermeer) atau prosesor Intel Generasi ke-13 Raptor Lake.
Grafik prosesor CPU-Z juga menunjukkan kenaikan signifikan pada chip Zen 3, termasuk Ryzen 7 5700X, Ryzen 5 5600, dan Ryzen 5 5500, masing-masing naik hingga 42,8%, 36,1%, dan 67,3%. Meski DDR4 dan DDR5 sama-sama naik harga, DDR4 tetap sedikit lebih terjangkau.
Sejumlah perusahaan turut mendukung tren ini. AMD merilis ulang Ryzen 7 5800X3D, sejumlah vendor kembali memproduksi DDR4 dan motherboard DDR4, serta Intel menyiapkan chip Raptor Lake Next untuk 2027. Langkah-langkah ini memperkuat posisi platform lama yang masih hemat biaya di tengah tekanan harga memori.
Bagi pengguna yang memantau tren teknologi hiburan, dinamika adopsi standar baru juga terjadi di industri lain, seperti perbedaan format layar yang dibahas dalam artikel Shot with IMAX dan Filmed for IMAX.
Survei CPU-Z ini menegaskan bahwa kenaikan harga DRAM global telah mengubah keputusan pembelian memori pengguna PC. Kapasitas tinggi yang dulu jadi target kini dihindari, sementara kapasitas menengah dan platform DDR4 kembali diminati. Data ini mencerminkan basis pengguna aktif CPU-Z, bukan angka penjualan ritel, namun tetap memberi gambaran nyata soal prioritas anggaran pengguna PC saat ini.
[ META_DESCRIPTION]
Survei CPU-Z menunjukkan RAM 32GB turun 2,5% dan 64GB anjlok 18% per tahun imbas lonjakan harga DRAM global akibat kebutuhan komputasi AI.





Komentar
Belum ada komentar.