📑 Daftar Isi

Ilustrasi pengguna memakai headphone Anker Soundcore Space 2 Pro dengan tampilan aplikasi chatbot AI di sampingnya

Survei: 98% Pembaca Tolak Fitur AI di Earbuds dan Headphone

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Survei Tom's Guide: hanya 5 dari 200 responden mencari fitur AI di earbuds/headphone
  • Kualitas suara menang telak dengan 135 suara, ANC 27 suara, fitur AI hanya 3 persen
  • Anker Soundcore Space 2 Pro dikritik karena fitur chatbot AI di aplikasi belum berfungsi penuh
  • Cambridge Audio Melomania A100 SE pilih fokus kualitas suara tanpa fitur AI, dibanderol 149 dolar AS
  • Tren audio berkabel kembali diminati lewat langkah Sony dan Bose

Telset.id – Sebuah survei yang digelar Tom’s Guide selama tiga minggu mengungkap fakta mengejutkan tentang fitur AI di earbuds dan headphone. Dari 200 responden, hanya lima pembaca yang secara khusus mencari fitur AI pada perangkat audio mereka. Sementara itu, sebanyak 135 orang menempatkan kualitas suara sebagai fitur paling penting, disusul fitur ANC dengan 27 suara. Hasil ini menunjukkan bahwa adopsi fitur AI di perangkat audio tidak sejalan dengan preferensi mayoritas konsumen.

Angka tersebut menjadi sinyal penting bagi produsen audio yang selama ini gencar memasarkan fitur kecerdasan buatan. Kualitas suara meraih suara lima kali lebih banyak dibanding peringkat kedua. ANC berada di posisi kedua dengan 13 persen suara, diikuti kualitas panggilan dan kategori lain yang berbagi posisi ketiga dengan 6 persen suara. Daya tahan baterai berada di posisi kedua dari bawah dengan 4 persen, sementara fitur AI justru terpuruk di posisi terakhir dengan hanya 3 persen suara.

a poll results graphic made on 5of10.com showing answers for the question "what feature makes you buy earbuds/headphones?"

Penulis senior Tom’s Guide, Erin Bashford, mengaku terkejut dengan hasil tersebut. Ia sempat memperkirakan fitur AI akan meraih sekitar 10 persen suara karena menganggap sebagian pembaca menyukai kehadiran AI di earbuds. Kenyataannya, fitur AI kalah jauh. Temuan ini memperkuat argumen bahwa konsumen lebih menghargai hal mendasar seperti kualitas suara ketimbang fitur tambahan berbasis AI.

Kasus Anker Soundcore Space 2 Pro

Kritik terhadap fitur AI di perangkat audio tercermin dalam ulasan Anker Soundcore Space 2 Pro. Erin Bashford mengaku sangat menyukai pendahulunya, Soundcore Space One Pro, yang ia nilai sebagai kejutan terbesarnya pada 2025. Headphone itu direkomendasikan ke banyak orang, bahkan ia membelikan sepasang untuk saudaranya yang kuliah, karena ANC, kenyamanan, dan desain lipatnya dinilai luar biasa.

Namun, pengalaman berbeda muncul saat mengulas penerusnya, Space 2 Pro. Meski tetap diberi rating 3,5 bintang atau “very good” dengan kualitas suara, kualitas panggilan, dan ANC yang sama-sama bagus, fitur AI di aplikasi Anker meninggalkan kesan mengecewakan. Menurutnya, Anker terlalu fokus pada fitur AI hingga lupa bahwa Space 2 Pro pada dasarnya adalah headphone untuk musik dan ANC, bukan perangkat dengan fitur chatbot.

the anker soundcore space 2 pro headphones in mauve gray photographed against a blue tom's guide background

Space 2 Pro dipasarkan dengan klaim memiliki “world’s first neural-net compute-in-memory AI audio chip”. Amanda Caswell, AI Editor di Tom’s Guide, menjelaskan bahwa chip tersebut menjalankan pemrosesan audio bertenaga AI yang cukup efisien untuk berjalan terus-menerus di perangkat kecil berdaya baterai. Teknologi ini disebut dapat membantu noise cancellation yang lebih pintar, isolasi suara, hingga always-on listening untuk mendeteksi kata.

Masalahnya, aplikasi Anker Soundcore menampilkan tab “AI chatbot” yang seolah dapat menyesuaikan EQ secara real-time. Saat dikonfirmasi, perwakilan Anker menyatakan bahwa Anka pada Space 2 Pro baru mendukung aktivasi via “Hey Anka” serta interaksi suara atau chat dasar. Fitur lain seperti kontrol suara, pemutaran audio, dan interaksi berbasis teks di aplikasi masih dalam pengembangan dan belum siap dirilis. Anker pun menyatakan sedang menelusuri masalah ini.

Perbandingan pun muncul dengan Anker Soundcore Liberty 5 Pro Max yang juga mengusung fitur AI. Perangkat itu mendapat rating empat bintang dan badge Recommended karena fitur AI-nya benar-benar berfungsi, termasuk kemampuan mentranskrip panggilan dan rapat langsung ke aplikasi. Artinya, penilaian terhadap fitur AI bergantung pada apakah fitur tersebut benar-benar bekerja sesuai janji pemasaran.

Pendekatan Cambridge Audio Melomania A100 SE

Di sisi lain, Cambridge Audio Melomania A100 SE menempuh jalan berbeda. Earbuds yang dirilis Oktober 2026 ini meraih empat bintang dan badge Recommended berkat kualitas suara yang suprem, kenyamanan, serta daya tahan baterai yang excellent. Satu-satunya kekurangan adalah ANC yang dinilai medioker, yang menurut ulasan tidak menjadi masalah bagi pengguna yang tidak memprioritaskan fitur tersebut. Harganya dibanderol 149 dolar AS.

Best wireless earbuds group shot

Michael Laws, product manager Cambridge Audio, menjelaskan alasan perusahaannya tidak membenamkan fitur AI. Ia menyatakan Cambridge Audio belum mengalokasikan sumber daya untuk mengimplementasikan fitur AI karena sejauh ini belum menemukan bahwa fitur tersebut menjadi kebutuhan saat mendengarkan musik favorit di perjalanan. Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan eksplorasi lebih lanjut jika ada cara di mana AI dapat membantu profil mendengarkan yang berbeda.

Pandangan tersebut sejalan dengan tren yang lebih luas. Erin Bashford menyoroti bahwa perangkat audio berkabel justru kembali diminati. Pada tahun yang sama, Sony relaunch Walkman orisinalnya, sementara Bose merilis earbuds berkabel. Ia menilai fenomena ini bukan kebetulan, melainkan bentuk konsumen yang memilih dengan dompet mereka dan menunjukkan kepada produsen audio apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Dalam ulasannya, Laws menyebut kualitas suara sebagai “roti dan mentega” bagi Cambridge Audio. Erin Bashford sepakat bahwa ia lebih memilih earbuds dan headphone yang membuat musik terdengar hidup ketimbang chatbot di aplikasi yang bahkan tidak berfungsi. Ia tidak menampik bahwa fitur AI bisa berguna, misalnya Live Translation, namun menurutnya fitur itu masih terlalu lambat untuk memberi manfaat pada percakapan real-time.

Erin juga mencatat bahwa machine learning sebenarnya sudah lama hadir, sejak era 1970-an, seperti autofocus dan DSP pada berbagai produk audio. Yang benar-benar baru adalah kehadiran chatbot AI generatif di aplikasi pendamping headphone. Baginya, tren ini sudah berlebihan. Jika tren berlanjut, ia bahkan berencana beralih ke Bose Noise Cancelling Wired Earbuds begitu produk tersebut kembali tersedia.

Survei ini menjadi cermin bahwa konsumen audio menuntut hal yang jelas dan terukur. Kualitas suara, ANC, dan kualitas panggilan tetap menjadi prioritas, sementara fitur AI hanya bernilai jika benar-benar bekerja sesuai klaim. Bagi produsen, temuan ini menegaskan bahwa inovasi berbasis AI perlu dibarengi dengan fungsi nyata, bukan sekadar label pemasaran. Perkembangan ekspektasi konsumen terhadap teknologi juga tercermin dalam dinamika industri lain, seperti yang terlihat pada langkah akuisisi Marvell yang menuai reaksi pasar tak terduga.

Di sisi bisnis, kejelian membaca preferensi pengguna menjadi kunci. Sebagaimana strategi Sony yang justru disorot pada lini retro, produsen audio perlu memahami bahwa nilai jual sesungguhnya sering kali terletak pada hal mendasar yang benar-benar diinginkan konsumen.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.