Gak Cuma Spek! Alasan Update 5 Tahun Kini Jadi ‘Hukum Wajib’ Smartphone

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Masih ingatkah Anda masa-masa ketika membeli ponsel pintar terasa jauh lebih sederhana? Anda membeli perangkat, menikmatinya selama satu atau dua tahun, lalu perlahan performanya menurun dan pembaruan sistem operasi berhenti datang. Kala itu, kita mungkin hanya akan menggerutu sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli perangkat baru. Siklus ini dianggap wajar, dan dukungan perangkat lunak jangka panjang sering kali hanya menjadi catatan kaki yang terlupakan dalam spesifikasi teknis.

Namun, lanskap teknologi di tahun 2026 telah berubah drastis. Perangkat keras smartphone kini telah mencapai tingkat kematangan dan durabilitas yang luar biasa, bahkan untuk kategori kelas menengah sekalipun. Ponsel tidak lagi “rusak” atau “lemot” hanya dalam waktu dua tahun. Realitas baru ini membuat konsumen, termasuk Anda, menjadi jauh lebih kritis. Kini, pertanyaan sebelum membeli ponsel bukan lagi sekadar “berapa megapiksel kameranya?”, melainkan “berapa lama ponsel ini akan tetap relevan?”.

Akibatnya, apa yang dulunya dianggap sebagai kemurahan hati produsen—seperti jaminan pembaruan lima tahun—kini mulai dibicarakan sebagai standar minimum, terutama untuk perangkat yang tidak murah. Pergeseran ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan evolusi fundamental dalam cara kita memandang nilai sebuah smartphone. Pertanyaannya bukan lagi apakah jaminan update panjang itu penting, tetapi perusahaan mana yang benar-benar siap berkomitmen, bukan sekadar janji manis di atas kertas.

Transformasi dari Gimik ke Kebutuhan Primer

Belum lama ini, ekosistem Android sering kali tertinggal dalam hal dukungan jangka panjang. Umumnya, pengguna hanya mendapatkan dua tahun pembaruan sistem operasi utama dan mungkin satu tahun tambahan untuk patch keamanan. Beberapa merek bahkan tidak memberikan janji yang jelas, memaksa pengguna bertaruh pada rekam jejak masa lalu agar model ponsel mereka tidak dilupakan begitu saja. Hal ini kontras dengan Apple yang sejak awal membangun reputasi lewat dukungan iOS lima tahun atau lebih, sebuah faktor “diam” yang membuat harga jual kembali iPhone tetap tinggi.

Kini, narasi tersebut telah bergeser total. Janji pembaruan perangkat lunak telah menjadi bagian utama dari materi promosi peluncuran ponsel baru. Mengapa durasi update tiba-tiba menjadi begitu krusial? Alasan utamanya adalah harga. Ponsel telah menaiki tangga harga di mana pengguna kini mengharapkan pengalaman premium yang sepadan dengan uang yang mereka keluarkan. Selain itu, siklus penggantian ponsel semakin panjang. Banyak orang kini mempertahankan ponsel yang sama selama empat atau lima tahun, membuat dukungan software pendek menjadi masalah besar.

Faktor pendorong terbesar sebenarnya datang dari regulator. Aturan baru Uni Eropa, misalnya, kini mewajibkan pembuat smartphone menyediakan setidaknya lima tahun pembaruan sistem operasi dan keamanan. Ini adalah perubahan besar karena dukungan jangka panjang bukan lagi pilihan pemasaran, melainkan kewajiban hukum. Karena perusahaan global cenderung tidak membuat kebijakan update yang berbeda hanya untuk satu wilayah, mandat hukum ini kemungkinan besar akan mengangkat standar dasar bagi pengguna di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Peran Krusial Chipset dan Jebakan “5 Tahun”

Salah satu alasan teknis mengapa janji update kini bisa lebih panjang adalah dukungan dari pembuat chipset. Di masa lalu, produsen ponsel sering menyalahkan Qualcomm atau pemasok chip lain atas terbatasnya masa pakai pembaruan. Alasan tersebut memang ada benarnya; ketika dukungan di level chip berakhir, memperbarui ponsel menjadi sulit dan mahal bagi produsen. Namun, alasan ini mulai menipis. Platform Snapdragon terbaru dirancang untuk mendukung pembaruan Android bertahun-tahun, dalam beberapa kasus hingga delapan tahun.

Keterlibatan Google yang lebih erat dalam pengembangan Android juga membuat perencanaan dukungan jangka panjang menjadi lebih mudah. Meskipun demikian, update tidaklah gratis atau tanpa usaha—tetap memerlukan rekayasa, pengujian, dan koordinasi—namun batasan teknisnya kini jauh lebih tinggi. Meski begitu, Anda perlu waspada karena tidak semua janji “lima tahun” memiliki arti yang sama. Di sinilah letak kerumitannya.

Grafik dukungan update software smartphone

Ketika perusahaan mengatakan “lima tahun pembaruan”, mereka tidak selalu bermaksud lima kali peningkatan OS Android utama seperti Android 14 ke versi selanjutnya. Terkadang itu berarti tiga update OS dan dua tahun tambahan patch keamanan. Di lain waktu, bisa jadi hanya dukungan keamanan yang panjang dengan sedikit fitur baru. Bagi sebagian besar pengguna, pembaruan keamanan adalah bagian terpenting untuk menjaga ponsel tetap aman dan kompatibel dengan aplikasi esensial, namun kurangnya bahasa yang seragam membuat perbandingan antar merek menjadi sulit.

Siapa yang Memimpin dan Siapa yang Mengejar?

Dalam perlombaan ini, Google dan Samsung telah menetapkan standar minimum yang cukup tinggi untuk ponsel Android. Samsung, misalnya, menawarkan 6 tahun pembaruan OS dan keamanan bahkan pada seri terjangkau mereka seperti Galaxy A07. Sementara itu, ada pemain seperti Fairphone yang mengambil pendekatan berbeda dengan fokus pada kemampuan perbaikan (repairability) dan suku cadang yang mudah diganti, dipadukan dengan dukungan software panjang. Ini menunjukkan apa yang mungkin terjadi jika penggunaan jangka panjang menjadi tujuan utama perusahaan.

Tekanan dari para pemimpin pasar ini memaksa merek lain untuk berbenah. Motorola, yang secara historis memiliki reputasi beragam soal update, kini mulai memberikan janji dukungan yang lebih panjang pada model high-end mereka. Merek-merek Tiongkok seperti OnePlus, Honor, Oppo, Vivo, dan Xiaomi juga mulai memperjelas level dukungan mereka. Bahkan, ada kabar baik di mana Xiaomi Dukung Update hingga tahun 2031 untuk model tertentu, sebuah langkah maju yang signifikan.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya pada janji, melainkan eksekusi. Menjanjikan tujuh tahun pembaruan adalah satu hal; mengirimkannya tepat waktu, secara global, dan tanpa bug fatal adalah hal lain. Beberapa produsen memiliki rekam jejak yang kuat, sementara yang lain masih berjuang, terutama di pasar luar negeri mereka. Sayangnya, bagi perangkat lama, dukungan sering kali dihentikan lebih cepat. Anda mungkin pernah melihat berita tentang Xiaomi Hentikan Update untuk beberapa model lawasnya, yang menjadi pengingat bahwa siklus hidup produk tetap ada akhirnya.

Secara praktis, lima tahun pembaruan kini menjadi standar baru, setidaknya untuk ponsel kelas menengah dan unggulan (flagship). Bahkan untuk kelas flagship, beberapa merek sudah berani berkomitmen hingga 7 tahun. Meskipun hal ini belum universal—terutama di segmen budget yang mungkin hanya mendapat dua atau tiga tahun dukungan—arahnya sudah jelas. Dengan OS update yang kini menjadi persyaratan hukum di beberapa wilayah dan chipset yang memungkinkan dukungan lebih lama, sulit membayangkan industri ini akan bergerak mundur.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI