Tampilan game Doom yang berjalan di dalam aplikasi Microsoft Paint

DoomPaint: Main Doom di MS Paint Karya CTO Microsoft Azure

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • DoomPaint adalah proyek yang memungkinkan Doom dimainkan di MS Paint
  • Digarap langsung oleh Mark Russinovich, CTO Microsoft Azure
  • Game berjalan dengan versi shareware asli Doom menggunakan MS Paint sebagai monitor
  • Mampu berjalan hingga 35 FPS, angka yang layak untuk standar game 1990-an
  • Setiap frame ditempatkan di Windows clipboard dan ditempel ke kanvas Paint
  • Rilis ini sudah mendukung suara dan musik
  • Repositori GitHub menyediakan sumber daya dan instruksi lengkap
  • Doom dikenal efisien dan sering dijalankan di platform tak lazim seperti printer dan bakteri usus

Telset.id – Game legendaris Doom kini bisa dimainkan langsung di Microsoft Paint, aplikasi bawaan Windows yang biasa digunakan untuk menggambar sederhana. Proyek bernama DoomPaint ini bahkan digarap langsung oleh Mark Russinovich, CTO Microsoft Azure, dan mampu berjalan hingga 35 FPS.

DoomPaint menjalankan versi shareware asli Doom dengan menggunakan MS Paint sebagai monitor untuk aksi di dalam game. Menariknya, performa 35 FPS tersebut merupakan angka yang cukup layak untuk standar game PC era 1990-an. Proyek ini pertama kali dilaporkan oleh Tom’s Hardware.

Menurut penjelasan Mark Russinovich di repositori GitHub proyek tersebut, setiap frame dari game ditempatkan di clipboard Windows dan ditempelkan ke kanvas Paint sebagai edit dokumen yang sesungguhnya. Repositori GitHub ini juga menyertakan sumber daya dan instruksi lengkap bagi pengguna yang ingin mencoba menjalankan DoomPaint di MS Paint versi mereka sendiri.

Perlu dicatat bahwa rilis DoomPaint ini sudah mendukung suara dan musik. Hal ini menambah kesan autentik saat memainkan game yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1993 tersebut.

Doom memang terkenal berkat efisiensi pemrogramannya. Sejak publikasi perdananya, game ini telah menjadi semacam tradisi untuk dijalankan di berbagai platform yang tidak pernah ditujukan untuknya. Beberapa contoh platform yang pernah dipakai untuk menjalankan Doom antara lain mesin pemotong rumput, printer, chatbot, kotak video game, hingga bakteri usus.

Baca Juga:

Salah satu pencapaian paling ekstrem dalam tradisi ini adalah menjalankan Doom pada bakteri usus. Meski demikian, frame rate-nya sangat lambat sehingga dibutuhkan waktu sekitar 600 tahun untuk menyelesaikan permainan dari awal hingga akhir.

Kehadiran DoomPaint menunjukkan bahwa batasan sebuah perangkat lunak sering kali bisa ditembus dengan kreativitas dan pemahaman teknis yang mendalam. Mark Russinovich, sebagai CTO Microsoft Azure, tidak hanya berfokus pada pengembangan cloud dan infrastruktur, tetapi juga menunjukkan apresiasinya terhadap budaya gaming klasik.

Bagi para penggemar Doom atau pengguna yang penasaran dengan eksperimen teknis, DoomPaint menawarkan cara baru untuk menikmati game lawas. Proyek ini membuktikan bahwa MS Paint, yang selama ini dianggap sebagai aplikasi sederhana, ternyata bisa digunakan untuk hal yang jauh di luar peruntukannya.

Meskipun bukan cara paling praktis untuk bermain Doom, DoomPaint menjadi bukti nyata bahwa komunitas pengembang dan penggemar terus mencari cara-cara inovatif untuk menghidupkan kembali game-game klasik. Dengan dukungan suara dan musik, pengalaman bermainnya pun menjadi lebih lengkap.

Bagi yang tertarik mencoba, semua instruksi dan file yang dibutuhkan tersedia di repositori GitHub DoomPaint. Pengguna hanya perlu mengikuti panduan yang disediakan untuk mengatur MS Paint dan file Doom shareware agar bisa segera memainkan game ikonik ini.

Proyek seperti DoomPaint juga menegaskan bahwa kreativitas dalam dunia teknologi tidak mengenal batas. Dari printer hingga bakteri usus, Doom terus menjadi tolok ukur seberapa jauh sebuah perangkat atau platform bisa dipaksa untuk menjalankan sesuatu yang tidak dirancang untuk itu.

Dengan hadirnya DoomPaint, MS Paint kini memiliki tempat tersendiri dalam sejarah panjang eksperimen menjalankan Doom di platform tak lazim. Inisiatif dari Mark Russinovich ini sekaligus menjadi pengingat bahwa bahkan aplikasi paling sederhana pun bisa menyimpan potensi yang tidak terduga.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.