Commodore Callback 8020 di atas meja

Commodore Callback 8020: Ponsel Lipat Anti-Media Sosial

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Commodore merilis ponsel lipat Callback 8020 yang secara sistemik memblokir media sosial, browser, dan email
  • Menggunakan Sailfish OS (Linux) yang kompatibel dengan 99% aplikasi Android, termasuk WhatsApp, Maps, dan Spotify
  • Fitur blokade di level sistem dan DNS untuk memastikan aplikasi doomscrolling tidak bisa diakses
  • Komitmen privasi: tidak mengumpulkan data tanpa izin, tidak melacak cookie, tidak memonitor penggunaan
  • Spesifikasi: layar 3,25 inci, MediaTek Helio G81, RAM 4GB, storage 64GB, kamera 48MP
  • Dilengkapi game Commodore 64 bawaan, pemutar SID 8-bit, DAC, dan radio FM
  • Harga mulai $500 (Basic Beige) hingga $640 (Founders Edition emas 24k)
  • Tersedia akhir 2026, pra-pemesanan segera dibuka

Telset.id – Commodore kembali meramaikan industri ponsel dengan merilis Commodore Callback 8020, sebuah ponsel lipat yang secara sengaja memblokir akses ke media sosial dan browser web. Perangkat ini hadir sebagai antitesis dari smartphone modern, menawarkan pengalaman komunikasi yang lebih fokus dan bebas distraksi.

Dilansir dari laporan pada 16 Juni 2026, Commodore menyebut ponsel ini sebagai “retret dari teknologi Black Mirror.” Alih-alih bersaing dengan Apple atau Samsung, Callback 8020 justru menjadi ponsel non-konformis yang terlihat seperti berasal dari era 90-an. Ponsel ini menjadi perangkat pertama yang membawa nama Commodore sejak PET pada 2015.

Fitur paling menonjol dari Commodore Callback 8020 adalah kemampuannya memblokir aplikasi doomscrolling di tingkat sistem. Commodore menggunakan teknologi yang sedang dipatenkan untuk menerapkan blokade sistemik terhadap aplikasi media sosial, browser web, dan klien email. Blokade ini bahkan diperkuat di level DNS, sehingga meskipun pengguna berhasil memasang aplikasi tersebut, mereka tetap tidak akan bisa mengakses servernya.

Alih-alih browser, ponsel ini menjalankan sistem operasi Sailfish OS berbasis Linux. Commodore menyebutnya sebagai “pengalaman yang sepenuhnya de-Googled” yang kompatibel dengan lebih dari 99 persen aplikasi Android berkat lapisan kompatibilitas Runtime. Aplikasi yang didukung antara lain WhatsApp, Maps, dan Spotify. Sailfish OS sendiri dikembangkan oleh Jolla, perusahaan asal Finlandia yang didirikan oleh para veteran Nokia.

Salah satu daya tarik utama Callback 8020 adalah komitmennya terhadap privasi. Commodore berjanji untuk tidak mengumpulkan data pengguna tanpa izin, tidak memonetisasi data yang diserahkan, tidak melacak cookie, dan tidak memonitor cara penggunaan ponsel. Meskipun memblokir browser, ponsel ini tetap memiliki koneksi internet untuk fungsi seperti memindai kode QR dan navigasi.

Untuk urusan komunikasi, Commodore Callback 8020 mendukung layanan perpesanan seperti WhatsApp, Signal, dan bahkan iMessage setelah disetujui melalui Mac. Ponsel ini juga memiliki fitur predictive text klasik dan menggunakan lampu LED kubah sebagai pengganti notifikasi pop-up di layar. Sistem ini dirancang untuk “merayakan komunikasi nyata,” seperti yang dikatakan Commodore.

Dari segi spesifikasi, Commodore Callback 8020 hadir dengan layar utama IPS 3,25 inci dan layar mini VFD 1,77 inci di bagian depan. Performanya ditenagai oleh prosesor MediaTek Helio G81 dengan RAM 4GB dan penyimpanan internal 64GB. Commodore juga menyertakan kartu microSD 32GB yang sudah diisi dengan musik, dengan dukungan ekspansi hingga 256GB.

Sektor kameranya mengandalkan kamera belakang 48MP dengan flash dan kamera selfie dengan autofocus saat ponsel dibuka. Ponsel ini juga mendukung Wi-Fi, Bluetooth, GPS, dan pengisian daya via USB-C. Baterainya berkapasitas 1550 mAh yang bisa diganti sendiri oleh pengguna, begitu pula dengan penutup belakangnya untuk menambahkan sentuhan warna.

Commodore juga memanfaatkan warisan budayanya dengan menghadirkan berbagai game Commodore 64 bawaan, termasuk Snake, serta layar eksterior yang terinspirasi dari kalkulator era 1970-an. Ponsel ini memiliki pemutar musik SID 8-bit dan nada dering SID yang merupakan campuran dari lagu klasik berlisensi resmi dan lagu baru.

Bagi audiophile, Commodore menyematkan DAC bawaan dan menyertakan earphone monitor in-ear (IEM) HD yang bisa dicolokkan ke jack 3,5 mm. Ponsel ini juga memiliki radio FM onboard.

CEO dan Presiden Commodore, Peri Fractic, mengatakan bahwa Callback 8020 terinspirasi dari pengalaman pribadinya setelah menjadi orang tua. Ia menjauhi smartphone untuk bisa lebih hadir di masa-masa awal putrinya. Namun, perangkat alternatif yang ia coba ternyata “terlalu minimal,” sehingga perusahaannya berupaya menciptakan “dumbphone yang tidak bodoh” yang mewujudkan semangat retro dan futurisme.

“Commodore Callback adalah ponsel yang saya harap sudah ada ketika saya memulai perjalanan ini, dan ponsel yang sekarang kami ingin berikan kepada semua orang yang siap untuk melarikan diri dari doomscrolling dan gangguan, dengan speed bump untuk pikiran,” ujar Fractic dalam siaran pers.

Commodore Callback 8020 akan tersedia untuk dibeli pada akhir 2026 dengan harga mulai dari $500 untuk varian Basic Beige, ProtoPET White, atau SX Silver. Ada juga edisi Starlight transparan seharga $550 dan Founders Edition dengan lapisan emas 24k pada tombol “C+” seharga $640. Pra-pemesanan akan segera dibuka, dengan Commodore menargetkan pengiriman pada kuartal keempat 2026.

Implikasi dari kehadiran ponsel ini cukup jelas: Commodore tidak sekadar menjual nostalgia, tetapi juga menawarkan solusi bagi mereka yang ingin memutus siklus kecanduan media sosial. Dengan harga yang setara dengan smartphone kelas menengah atas, Callback 8020 menantang asumsi bahwa ponsel harus selalu terhubung dengan segala hal. Keputusan ada di tangan konsumen, apakah mereka siap membayar mahal untuk sebuah perangkat yang justru membatasi akses digital mereka.

Komentar

Belum ada komentar.