Bayangkan sebuah masa depan di mana robot tidak lagi sekadar mesin kaku yang dingin, melainkan entitas yang mampu menjabat tangan Anda dengan kelembutan yang pas, atau memegang gelas kristal tanpa meremukkannya. Selama ini, tantangan terbesar dalam dunia robotika bukanlah membuat mereka bergerak, melainkan membuat mereka “merasakan” dunia fisik layaknya makhluk hidup. Kini, batas antara fiksi ilmiah dan realitas semakin tipis berkat terobosan terbaru dari para ilmuwan di Tiongkok.
Para peneliti di Sekolah Pascasarjana Internasional Shenzhen, Universitas Tsinghua, baru saja mengumumkan pengembangan sensor taktil generasi terbaru yang diberi nama SuperTac. Proyek ambisius ini bukan sekadar eksperimen laboratorium biasa, melainkan hasil kolaborasi intensif dengan berbagai institusi domestik dan internasional. Fokus utamanya adalah memecahkan salah satu hambatan terbesar dalam evolusi robotika: memberikan kemampuan persepsi sentuhan yang presisi dan pemahaman mendalam layaknya manusia.
Studi yang telah diterbitkan pada 15 Januari di jurnal bergengsi Nature Sensors ini membawa judul “Biomimetic Multimodal Tactile Sensing Enables Human-like Robotic Perception.” Kehadiran teknologi ini menandai babak baru dalam perlombaan kecerdasan buatan, di mana robot tidak hanya dituntut cerdas secara komputasi, tetapi juga cerdas secara fisik atau embodied intelligence. Dengan kemampuan ini, robot dipersiapkan untuk meninggalkan lantai pabrik yang terkontrol dan masuk ke lingkungan manusia yang dinamis.
Inspirasi dari Mata Merpati
Salah satu aspek paling menarik dari pengembangan SuperTac adalah sumber inspirasinya. Para peneliti tidak melihat ke arah mesin lain, melainkan menoleh ke alam, tepatnya pada struktur visual unik dari mata burung merpati. Pendekatan biomimetik ini memungkinkan terciptanya desain sensor yang jauh lebih efisien dan sensitif dibandingkan teknologi konvensional yang ada saat ini.
Dalam dunia robotika modern, kemampuan sensorik adalah kunci. Saat ini, industri robot global sedang berlomba-lomba menciptakan mesin yang bisa berinteraksi aman dengan manusia. SuperTac hadir sebagai sensor taktil multimodal beresolusi tinggi yang menggabungkan pencitraan multispektral—mulai dari ultraviolet hingga inframerah menengah—dengan sinyal penginderaan triboelektrik. Kombinasi ini menciptakan sistem saraf tiruan yang sangat kompleks namun terpadu.
Keunggulan utama dari desain yang terinspirasi mata merpati ini terletak pada kemampuannya menyatukan berbagai jenis data sensorik. Sensor taktil yang ada di pasaran saat ini sering kali berjuang dengan resolusi yang terbatas dan fusi data yang lemah. Akibatnya, robot sering kali “bingung” ketika menyentuh objek yang tidak dikenal. SuperTac mengatasi hambatan ini dengan kulit penginderaan multi-lapis yang sangat tipis, memungkinkan resolusi hingga tingkat mikrometer.
Kemampuan Deteksi Super Akurat
Apa yang bisa dilakukan oleh kulit robotik ini sungguh mencengangkan. SuperTac tidak hanya sekadar mendeteksi ada atau tidaknya sentuhan. Sensor ini mampu mendeteksi gaya tekanan, posisi kontak yang presisi, suhu, kedekatan objek (proximity), hingga getaran halus. Hal ini sangat krusial, terutama jika kita membicarakan penggunaan robot untuk perawatan medis di masa depan, di mana sentuhan yang salah sedikit saja bisa berakibat fatal.
Data menunjukkan bahwa sistem ini dapat mengidentifikasi jenis material, tekstur permukaan, terjadinya selip (slippage), tabrakan, dan bahkan warna objek dengan tingkat akurasi lebih dari 94 persen. Kemampuan mendeteksi selip, misalnya, adalah fitur yang sangat vital bagi tangan robotik agar dapat memegang benda licin tanpa menjatuhkannya, sebuah kemampuan yang secara alami dimiliki manusia namun sangat sulit ditiru oleh mesin.
Integrasi teknologi ini ke dalam tangan robotik yang cekatan (dexterous hands) memungkinkan umpan balik taktil secara real-time. Artinya, robot dapat menyesuaikan cengkeramannya seketika saat merasakan benda yang dipegangnya mulai tergelincir atau jika tekstur benda tersebut berubah, persis seperti refleks manusia.
Baca Juga:
Otak Cerdas Bernama DOVE
Memiliki sensor yang sensitif hanyalah separuh dari perjuangan; separuh lainnya adalah bagaimana memproses data tersebut agar bermakna. Untuk mengatasi data taktil yang kompleks ini, tim peneliti Universitas Tsinghua mengembangkan DOVE, sebuah model bahasa taktil dengan 850 juta parameter. Ini adalah “otak” yang menerjemahkan sinyal fisik menjadi pemahaman kognitif.
DOVE memungkinkan robot untuk menafsirkan informasi sentuhan dengan cara yang lebih mirip manusia. Jika sensor SuperTac adalah saraf di ujung jari, maka DOVE adalah korteks sensorik di otak yang memproses rasa tersebut. Dengan adanya model ini, pemahaman robot terhadap lingkungan sekitarnya meningkat secara signifikan, begitu pula dengan akurasi manipulasinya terhadap objek.
Kehadiran model bahasa taktil ini sejalan dengan tren global di mana kecerdasan buatan mulai mengambil peran lebih besar dalam operasional fisik. Seperti yang sering dibahas dalam konteks otomatisasi, AI tidak hanya hadir untuk menggantikan tugas rutin, tetapi juga untuk memberikan kemampuan persepsi yang sebelumnya mustahil dilakukan oleh mesin konvensional.
Peta Persaingan Geopolitik AI
Terobosan SuperTac ini tidak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih luas, yaitu persaingan teknologi antara Tiongkok dan Amerika Serikat dalam ranah robotika humanoid. SuperTac menjadi bukti nyata kemajuan Tiongkok dalam aspek perangkat keras (hardware) dan sensor. Saat ini, Tiongkok dinilai unggul dalam hal perangkat keras robot, sensor canggih, dan penyebaran skala besar yang didukung oleh ekosistem manufaktur yang kuat serta siklus riset-ke-produk yang cepat.
Di sisi lain, Amerika Serikat masih memegang kendali dalam hal perangkat lunak AI, model dasar (foundation models), dan kecerdasan otonom. Perusahaan-perusahaan raksasa seperti Tesla dengan Optimus-nya, Figure AI, dan Boston Dynamics menjadi motor penggerak inovasi di AS. Mereka fokus pada bagaimana membuat robot “berpikir” dan bertindak otonom.
Analisis pasar menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, Tiongkok mungkin akan mendominasi penyebaran fisik robot humanoid berkat kemampuan produksi massal dan inovasi hardware seperti SuperTac. Namun, kepemimpinan jangka panjang dalam industri ini akan sangat bergantung pada siapa yang paling berhasil menggabungkan perangkat keras canggih dengan “otak” AI yang kuat. Apakah integrasi SuperTac dan DOVE mampu menyeimbangkan neraca kekuatan ini?
Melihat ke depan, teknologi seperti SuperTac berpotensi merevolusi berbagai sektor. Mulai dari manufaktur presisi tinggi, robotika medis yang membutuhkan kepekaan ekstrem, hingga robot layanan rumah tangga yang aman bagi anak-anak dan lansia. Industri robotika kini semakin dekat dengan tujuan akhirnya: menciptakan entitas yang tidak hanya bisa melihat dan berpikir, tetapi juga benar-benar bisa “merasakan” dunia seperti halnya kita manusia.

