Pernahkah Anda membayangkan sebuah smartwatch yang tidak hanya melacak detak jantung, tetapi juga bisa menjadi asisten pribadi yang cerdas dan bahkan memiliki kamera yang bisa dilepas untuk mengambil foto? Dunia wearable mungkin akan segera menyambut pemain baru yang ambisius. Setelah beberapa tahun vakum dari rumor, nama Meta kembali mencuat dengan proyek smartwatch rahasianya. Bocoran terbaru mengindikasikan bahwa raksasa teknologi yang dipimpin Mark Zuckerberg ini tidak pernah benar-benar meninggalkan mimpinya untuk memiliki jam tangan pintar.
Lanskap wearable saat ini didominasi oleh Apple Watch dan berbagai varian dari produsen berbasis Android Wear. Namun, persaingan yang ketat dan inovasi yang cenderung inkremental membuat pasar terasa jenuh. Di tengah situasi ini, kehadiran Meta dengan pendekatan yang berbeda—mengusung AI terintegrasi dan modularitas—bisa menjadi angin segar. Meta sendiri telah memiliki pengalaman dengan perangkat wearable melalui lini headset VR dan smartglasses Ray-Ban yang cukup sukses di pasar AS. Kini, mereka tampaknya siap melangkah lebih jauh.
Laporan dari The Information mengungkap bahwa Meta telah menghidupkan kembali inisiatif smartwatch-nya, yang secara internal disebut “Malibu 2.” Rencananya, perangkat ini akan diluncurkan tahun ini. Ini adalah babak baru dari sebuah perjalanan panjang yang sempat terhenti. Proyek ini bukanlah hal baru; akarnya bisa ditelusuri kembali ke 2021, tetapi kemudian menghilang dari radar. Apa yang membuat Meta kini kembali bersemangat? Dan lebih penting lagi, apa yang akan ditawarkan “Malibu 2” kepada konsumen yang sudah memiliki banyak pilihan?
Kisah Panjang Smartwatch Meta: Dari “Malibu” Hingga Penghentian Sementara
Jalan menuju smartwatch Meta ternyata berliku. Pada 2021, The Information pertama kali melaporkan bahwa perusahaan sedang mengerjakan smartwatch yang ditenagai oleh versi open-source dari Android. Saat itu, ide yang beredar cukup revolusioner: sebuah jam tangan dengan kamera yang dapat dilepas. Bahkan, dikabarkan Meta mengembangkan model dengan hingga tiga kamera, sebuah fitur yang belum pernah ada di smartwatch mainstream. Konsep ini menjanjikan fleksibilitas baru, mengubah jam tangan menjadi perangkat fotografi yang portabel.
Namun, gelombang antusiasme itu mereda pada 2022. Proyek smartwatch Meta dikabarkan dihentikan sementara. Keputusan ini merupakan bagian dari pemotongan pengeluaran yang lebih besar di divisi Reality Labs, unit yang menangani metaverse dan teknologi realitas virtual/augmented milik Meta. Divisi ini dikenal sebagai “pembakar uang” yang mencatat kerugian miliaran dolar. Restrukturisasi besar-besaran pun terjadi, termasuk PHK ribuan karyawan di awal tahun ini. Fokus perusahaan, seperti diungkapkan Mark Zuckerberg, dialihkan ke produk wearable yang lebih matang seperti kacamata.
Kini, dengan kondisi keuangan yang mungkin lebih terkendali dan strategi AI yang menjadi prioritas utama, Meta tampaknya merasa ini adalah waktu yang tepat untuk kembali ke arena smartwatch. Kebangkitan “Malibu 2” menandakan bahwa ide tersebut dianggap terlalu berharga untuk ditinggalkan begitu saja. Ini bukan sekadar peluncuran produk, tetapi bagian dari visi besar Meta tentang komputasi yang selalu ada di sekitar pengguna (ambient computing).
Fitur Unggulan: Meta AI dan Pelacakan Kesehatan yang Cerdas
Lantas, apa yang membuat smartwatch Meta ini berbeda? Dua pilar utamanya adalah Meta AI dan kemampuan pelacakan kesehatan. Integrasi Meta AI ke dalam perangkat wearable adalah langkah logis setelah kesuksesan mereka menyematkan asisten cerdas ke dalam Meta Ray-Bans. Bayangkan Anda bisa bertanya tentang cuaca, mengatur pengingat, atau bahkan mendapatkan saran latihan hanya dengan berbicara ke pergelangan tangan Anda, dengan kecerdasan yang sama yang dikembangkan untuk platform media sosialnya.
Di sisi pelacakan kesehatan, pasar smartwatch telah menjadikan fitur ini sebagai standar. Tantangan bagi Meta adalah tidak hanya mengejar ketertinggalan dari Apple Watch atau Fitbit, tetapi juga menawarkan nilai tambah. Apakah mereka akan berkolaborasi dengan penyedia layanan kesehatan? Atau mengintegrasikan data kebugaran dengan platform sosial mereka secara unik? Inilah yang akan menjadi penentu apakah smartwatch ini bisa menarik perhatian pengguna yang sadar kesehatan.
Namun, fitur yang paling menggoda dari bocoran lama adalah kamera yang dapat dilepas. Inovasi ini berpotensi mengubah cara kita berinteraksi dengan smartwatch. Alih-alih hanya menerima notifikasi dan melacak langkah, jam tangan bisa menjadi alat kreatif instan. Meski belum ada konfirmasi apakah fitur ini bertahan dalam desain “Malibu 2,” keunikan tersebut bisa menjadi pembeda utama di pasar yang padat.
Strategi Meta di Pasar Wearable yang Semakin Ramai
Kehadiran Meta di segmen smartwatch akan memperketat persaingan. Mereka tidak hanya melawan Apple dan Samsung, tetapi juga pemain seperti Google dengan Pixel Watch serta merek-merek yang fokus pada harga terjangkau. Peluncuran smartwatch baru oleh berbagai vendor menunjukkan betapa panasnya pasar ini. Keunggulan Meta terletak pada ekosistem. Meski tidak memiliki sistem operasi mobile seperti iOS atau Android murni, Meta memiliki jejaring sosial yang masif (Facebook, Instagram, WhatsApp) dan komitmen terhadap teknologi augmented reality.
Smartwatch Meta bisa menjadi jembatan sempurna menuju visi metaverse dan AR mereka. Perangkat ini dapat berfungsi sebagai remote control untuk dunia digital, atau sebagai sensor yang memantau gerakan pengguna untuk pengalaman yang lebih imersif. Selain itu, dengan fokus pada AI, Meta mungkin ingin menciptakan wearable yang benar-benar “paham” konteks dan kebiasaan pengguna, melampaui fungsi notifikasi dasar.
Namun, tantangan juga besar. Reputasi Meta dalam hal privasi data adalah titik lemah yang harus diatasi, terutama untuk perangkat yang akan mengumpulkan data kesehatan sensitif. Kepercayaan konsumen akan menjadi kunci. Selain itu, mereka harus membangun kualitas hardware yang tangguh dan desain yang stylish untuk bersaing dengan para veteran. Pelajaran dari kebijakan konten mereka menunjukkan bahwa keputusan produk Meta selalu diawasi dengan ketat.
Apa Artinya Bagi Konsumen dan Masa Depan Wearable?
Jika smartwatch Meta benar-benar meluncur tahun ini, konsumen akan dihadapkan pada pilihan yang lebih beragam dan berpotensi inovatif. Persaingan yang lebih ketat biasanya mendorong inovasi dan menekan harga. Fitur seperti kamera lepas atau integrasi AI yang mendalam bisa memaksa pesaing untuk berbenah. Bagi pengguna setia ekosistem Meta, ini bisa menjadi tambahan yang menarik untuk gadget mereka.
Yang pasti, kebangkitan proyek “Malibu 2” ini menandakan bahwa Meta serius dalam portofolio wearable-nya. Ini bukan proyek sampingan, tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk tetap relevan di era pasca-smartphone. Smartwatch ini mungkin akan menjadi teman bagi Meta Ray-Bans dan headset VR/AR masa depan mereka, menciptakan jaringan perangkat yang saling terhubung.
Kita hanya bisa menunggu konfirmasi resmi dari Meta. Namun, bocoran ini memberikan secercah harapan bahwa pasar smartwatch masih menyimpan ruang untuk kejutan. Dengan kombinasi AI, modularitas, dan integrasi ekosistem, smartwatch Meta berpotensi bukan sekadar menjadi pengekor, tetapi penentu tren baru. Apakah Anda siap menyambut jam tangan pintar yang mungkin mengubah definisi wearable itu sendiri?

