📑 Daftar Isi

Ilustrasi teknologi Nvidia DLSS 5 dengan visual neural rendering pada game NBA 2K27

Uji DLSS 5 di Laptop RTX 5070 Ti: Frame Generation Jadi Keharusan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • DLSS 5 menurunkan FPS hingga 3x lipat di menu dan replay pada laptop RTX 5070 Ti
  • Frame rate menu turun dari 109,8 FPS menjadi 30,4 FPS dengan DLSS 5 aktif
  • PC latency melonjak hingga 128,8 ms pada adegan replay
  • Frame Generation 6x menjadi keharusan agar gameplay tetap lancar
  • Kualitas visual fotorealistik sangat impresif tanpa artefak atau ghosting
  • Teknologi ini optimal untuk game fotorealistik, kurang cocok untuk gaya stylized
  • GPU utilization meningkat drastis dari 41% menjadi 86% saat DLSS 5 aktif
  • Hasil uji sejalan dengan laporan PC Gamer soal penurunan performa 50-60%

Telset.id – Teknologi Nvidia DLSS 5 yang baru saja diluncurkan terbukti memberikan dampak performa yang berat pada laptop gaming kelas menengah. Berdasarkan pengujian langsung menggunakan Asus ROG Zephyrus G14 dengan GPU RTX 5070 Ti, teknologi neural rendering generasi terbaru ini menunjukkan penurunan frame rate yang drastis hingga tiga kali lipat saat berada di menu atau replay, sebelum fitur Frame Generation diaktifkan.

Temuan ini mengungkap bahwa DLSS 5 bukan sekadar filter upscaling biasa, melainkan sebuah transformer model kompleks yang berinteraksi dengan geometri di layar dan menyuntikkan neural rendering. Konsekuensinya, pada laptop dengan daya lebih rendah, fitur Frame Generation menjadi komponen wajib agar game tetap dapat dimainkan dengan lancar.

Hasil Pengujian Telemetri DLSS 5 di Laptop

Pengujian dilakukan pada tiga skenario berbeda dengan DLSS 5 dalam keadaan aktif dan nonaktif. Data telemetri menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan, terutama pada layar menu dan adegan replay.

Pada skenario menu screen, frame rate rata-rata turun dari 109,8 FPS menjadi hanya 30,4 FPS saat DLSS 5 diaktifkan. Angka 1% Low FPS juga anjlok dari 85,3 menjadi 27,9, sementara PC latency melonjak dari 35,8 ms menjadi 102,1 ms. Situasi serupa terjadi pada adegan replay, di mana frame rate turun dari 92,6 FPS menjadi 26,9 FPS dengan latency yang meningkat drastis dari 56,6 ms menjadi 128,8 ms.

Menariknya, pada sesi gameplay utama, angka frame rate hampir tidak berubah—115,8 FPS tanpa DLSS 5 dan 115,2 FPS dengan DLSS 5. Namun, GPU utilization melonjak dari 41 persen menjadi 86 persen, dan PC latency meningkat dari 79,8 ms menjadi 111,2 ms.

Perbedaan ini terjadi karena selama gameplay langsung, penguji mengaktifkan pengali 6x Frame Generation untuk mengisi celah dari base frame yang diproses secara neural. Sementara itu, developer biasanya menonaktifkan frame generation pada menu statis, layar pause yang sarat UI, atau replay dengan potongan kamera.

Hasil ini sejalan dengan laporan PC Gamer yang mencatat penurunan performa sebesar 50-60 persen. Pada laptop dengan spesifikasi Intel Core Ultra 9 386H, GPU RTX 5070 Ti (115 watt), RAM 32GB LPDDR5X, dan SSD 1TB PCIe Gen 4, beban komputasi dari transformer model DLSS 5 menjadi sangat terasa.

DLSS 5

Kualitas Visual yang Mengesankan dengan Catatan Penting

Meskipun memiliki beban komputasi yang berat, kualitas visual yang dihasilkan DLSS 5 pada game fotorealistik seperti NBA 2K27 tidak dapat dipungkiri sangat impresif. Perbandingan tangkapan layar sebelum dan sesudah menunjukkan bahwa integritas visual game terjaga dengan sempurna.

Detail mikro pada kulit pemain seperti Jalen Brunson dan Victor Wembanyama, termasuk cara keringat menangkap pencahayaan stadion yang keras, dirender dengan sangat hidup. Upscaler ini tidak menambahkan smoothing agresif atau artefak plastik—hasilnya justru tampak sangat realistis.

Tekstur kain dan material juga mendapatkan peningkatan signifikan. Jersey Knicks milik Brunson dan kain sofa pada cutscene menampilkan detail jahitan dengan kejelasan resolusi tinggi, tanpa blur yang diinduksi AI. Pencahayaan merespons karakter di layar dengan lebih realistis, dan tidak ada efek fizzing atau ghosting di sekitar tekstur halus seperti rambut—masalah yang kerap ditemui pada upscaler generasi sebelumnya.

Asus ROG Zephyrus G14 (2026)

Namun, perlu dicatat bahwa keunggulan visual ini hanya optimal pada game dengan gaya fotorealistik. Pada game dengan gaya lebih stylized, hasilnya justru terlihat aneh. Ini menjadi pertimbangan penting bagi pengguna laptop yang gemar memainkan berbagai genre game.

Dampak pada 1% Low FPS dan peningkatan latency yang cukup drastis selama gameplay menjadi catatan tersendiri. Pada game berbasis controller seperti NBA 2K27, dampak ini mungkin tidak terlalu terasa. Namun, jika teknologi ini diterapkan pada game yang membutuhkan input cepat dengan keyboard dan mouse, keterlambatan respons bisa menjadi masalah yang lebih terlihat.

Nvidia sebelumnya telah menyatakan bahwa model yang menjalankan mode neural rendering ini telah dibuat sangat efisien dalam beberapa bulan terakhir. Saat pertama kali diperkenalkan, model tersebut berjalan pada GPU desktop RTX 5090 terpisah, tetapi kini mampu berjalan pada satu kartu bersama dengan game.

Nvidia DLSS 5

Meskipun efisiensi telah meningkat, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa laptop dengan GPU kelas menengah seperti RTX 5070 Ti masih membutuhkan dukungan Frame Generation untuk mencapai performa yang dapat diterima. Tanpa fitur tersebut, DLSS 5 justru menjadi beban yang signifikan bagi sistem.

Pergeseran paradigma ini menegaskan bahwa masa depan rendering fotorealistik tidak lagi hanya tentang menghasilkan piksel yang lebih baik, melainkan juga tentang menerima kenyataan bahwa sebagian besar frame yang tampil di layar tidak lagi diproduksi secara native. Nvidia sendiri terus menegaskan bahwa hukum Moore telah berakhir, dan pendekatan cerdas dengan AI adalah cara untuk menjembatani kesenjangan antar generasi.

Bagi pengguna laptop gaming, temuan ini memberikan gambaran jelas tentang apa yang dapat diharapkan dari DLSS 5. Teknologi ini menawarkan kualitas visual yang luar biasa pada game fotorealistik, tetapi membutuhkan kompromi berupa ketergantungan pada Frame Generation dan potensi peningkatan latency yang perlu dipertimbangkan, terutama untuk game dengan ritme cepat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.