Telset.id – Crystal Dynamics memastikan Tomb Raider: Legacy of Atlantis dibangun sepenuhnya dari nol tanpa menggunakan kode sumber game original 1996. Experience director Jeff Adams menyatakan “no old code exists” saat sesi Q&A di Gamescom, sehingga proyek yang disebut sebagai “reimagining” ini dikerjakan ulang total memakai Unreal Engine 5.
Pernyataan itu muncul setelah presentasi eksklusif yang dihadiri TechRadar Gaming. Adams menjelaskan bahwa timnya tidak bisa sekadar menambal atau memodifikasi versi lama karena tidak ada kode lama yang tersisa. “We are in Unreal Engine 5, no old code exists. We are basically taking it and remaking it, or not remaking, reimagining it. We are bringing it from the ground up,” ujarnya.
Ketiadaan kode lama itu menjelaskan mengapa Crystal Dynamics tidak menempuh jalur remake konvensional. Alih-alih membangun ulang di atas fondasi teknis 1996, studio memilih membangun ulang seluruh pengalaman permainan dari dasar. Pendekatan ini menjadikan Legacy of Atlantis sebagai proyek Source Code yang benar-benar baru secara teknologi, bukan sekadar pemugaran visual.
Unreal Engine 5 dan Teknologi Custom
Adams menuturkan Unreal Engine 5 memberi timnya ruang untuk mengembangkan implementasi fisika sendiri di dalam engine. “Unreal creates a really great sandbox platform for building a game, but when we’re making a specific type of experience, we’re going to have things that we really want to target and get to a right fidelity level where we’re happy with it,” katanya.
Menurut Adams, teknologi Nanite dan Lumen di UE5 memang memungkinkan pembuatan lingkungan game yang indah. Namun, ada kalanya tim merasa ada hal yang ingin dibuat lebih baik. Di titik itulah para engineer Crystal Dynamics membuat solusi custom untuk memastikan pengalaman Tomb Raider tetap autentik di Unreal.
Salah satu contoh yang disebut Adams adalah kepang panjang Lara Croft yang bereaksi terhadap gerakan karakter. Ia menyebut fitur itu sebagai “a perfect example” dari teknologi custom yang dikembangkan studio. Detail semacam ini menunjukkan bagaimana Product Code dan pengembangan teknis internal menjadi bagian penting dari produksi game modern.

Baca Juga:
Jadwal Rilis dan Platform
Tomb Raider: Legacy of Atlantis dijadwalkan meluncur pada 27 Februari 2027. Game ini akan hadir untuk PlayStation 5, Xbox Series X dan Series S, Nintendo Switch 2, serta PC. Ketersediaan di Nintendo Switch 2 menandai bahwa proyek ini menyasar generasi konsol terbaru di semua platform utama.
Dengan pendekatan pembangunan ulang total, Legacy of Atlantis menempatkan diri bukan sebagai remake biasa, melainkan sebagai reimagining yang memanfaatkan kapabilitas teknis terkini. Crystal Dynamics menegaskan bahwa keputusan ini bukan pilihan gaya, melainkan konsekuensi dari tidak adanya kode lama yang bisa dipakai ulang.

Bagi pemain yang mengikuti perkembangan seri Tomb Raider, pernyataan Adams memperjelas bahwa pengalaman yang akan hadir pada 2027 bukan versi 1996 dengan tampilan baru. Seluruh sistem dibangun ulang di Unreal Engine 5, termasuk fisika dan detail animasi karakter yang dikerjakan secara custom oleh tim engineer Crystal Dynamics.
Pendekatan teknis semacam ini juga sejalan dengan tren industri yang makin bergantung pada pengembangan perangkat lunak berbasis engine modern. Seperti halnya berbagai inisiatif QR Code yang menuntut akurasi data, produksi game berskala besar kini menuntut fondasi teknologi yang dibangun khusus sesuai kebutuhan pengalaman pengguna.
Hingga kini, Crystal Dynamics belum mengungkap detail tambahan di luar pernyataan Adams mengenai Unreal Engine 5 dan teknologi custom. Yang jelas, Tomb Raider: Legacy of Atlantis akan menjadi proyek yang berdiri sendiri secara teknis, tanpa warisan kode dari game original 1996.
[WARNING: The article above is approximately 600 words, which is below the 1500-word minimum requirement. However, I have strictly followed the “Source-Locked Mode” instruction which forbids adding any information not present in the source. The source article is a short news piece with limited factual content. Adding more content would require fabricating information, which violates the hard rules of the user’s instructions. The article contains all factual information available in the source.]





Komentar
Belum ada komentar.