Studi: Game Kekerasan Tidak Bikin Anak Jadi Beringas

Telset.id, Jakarta – Banyak orangtua yang melarang anaknya memainkan game yang menampilkan kekerasan. Alasannya, mereka takut game yang dimainkan oleh anaknya akan mempengaruhi jiwa atau sifat sang anak sehingga menjadi beringas. Benarkah?.

Anggapan itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Karena menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of York, para gamer yang memainkan game kekerasan tidak memiliki potensi yang besar untuk menjadi beringas.

Penelitian ini sendiri dilakukan pada 3 ribu reponden dari beberapa rentang usia. Metode penelitian ini pun dilakukan dengan cara melewati beberapa tahap, dan juga beberapa jenis game yang berbeda.

Para peserta pertama-tama disuguhkan game yang memiliki gameplay menghindari ‘kematian’. Para peserta diberikan pilihan untuk bermain menjadi karakter manusia yang menghindari tabrakan mobil, atau menjadi karakter tikus yang menghindari ditangkap kucing.

Seusai bermain, para peserta dikumpulkan dan diberikan gambar kucing dan mobil. Lalu mereka akan ditanyakan apakah objek yang mereka lihat itu kendaraan atau hewan.

“Kalau mereka bisa menjawab sesuai dengan gambar–misal menyebut kucing sebagai hewan– itu artinya mereka fokus dengan game yang dimainkan, dan tidak terpengaruh dengan cerita atau adegan kekerasan yang ada di dalam game,” jelas pemimpin penelitian, Dr David Pendel, seperti dikutip dari Mirror.

Kemudian pada test berikutnya, para peserta pun disuguhi game peperangan. Satu game memiliki grafis yang realistis sedangkan game lain memiliki tampilan grafis yang tidak terlalu realistis.

Setelah itu, peserta pun dikumpulkan kembali. Kali ini, para peserta diminta untuk bermain teka teki yang berkaitan kata-kata. Para peneliti memprediksi para peserta yang bermain game peperangan dengan grafis yang nyata, akan memiliki pemilihan kata yang lebih keras. Namun, kenyataannya tidak seperti itu.

“Kami menemukan bahwa konsep kekerasan yang kuat, yang diukur dengan berapa banyak konsep kekerasan muncul dalam tugas penyelesaian fragmen kata, tidak dapat dideteksi,” jelas David.

“Temuan menunjukkan bahwa tidak ada kaitan antara jenis realisme dalam permainan dan jenis efek yang biasanya dipikirkan oleh video game terhadap pemain mereka,” sambungnya.

Namun tetap saja, Anda harus memperhatikan lama anak Anda dalam bermain game. Karena biar bagaimanapun, bermain game terlalu lama terbukti tidak baik untuk kesehatan dan perkembangan fisik anak. [NC/HBS]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here