Telset.id – Studio pengembang game virtual reality asal Seattle, Polyarc, resmi menutup operasionalnya. Keputusan ini diumumkan melalui sebuah unggahan di halaman LinkedIn studio tersebut, menandai berakhirnya perjalanan hampir 12 tahun studio yang dikenal lewat seri game VR Moss. Penutupan ini berdampak langsung pada setidaknya 29 anggota staf studio yang kini tengah mencari pekerjaan baru, berdasarkan reverse recruiting sheet yang dibagikan bersamaan dengan pengumuman tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Polyarc menyampaikan bahwa mereka kini menghentikan pengembangan aktif dan mulai mengucapkan perpisahan satu sama lain. “Setelah hampir 12 tahun menaiki rollercoaster emosi yang menyenangkan dalam membuat video game, waktu kebersamaan kami telah berakhir,” tulis Polyarc dalam pengumuman tersebut. “Saat kami menghentikan pengembangan aktif, kami mengucapkan selamat tinggal satu sama lain. Bekerja bersama selama bertahun-tahun ini adalah sebuah kehormatan. Menghadirkan kejutan dan kegembiraan bagi mereka yang memainkan game kami adalah sebuah hak istimewa. Terima kasih kepada semua orang di Polyarc, pekerjaan kami kini telah selesai.”
Polyarc bukan nama sembarangan di industri VR. Studio yang berbasis di Seattle ini dikenal lewat seri Moss, yang menjadi salah satu favorit awal di platform virtual reality. Popularitas Moss salah satunya datang dari cara game tersebut memadukan gameplay aksi-petualangan tradisional dengan sistem kamera yang memungkinkan pemain mengintip ke area bertipe diorama sambil mengendalikan Quill, tokoh utama tikus dalam seri tersebut. Pendekatan ini membuat Moss menonjol di antara konten VR lain pada masanya.

Jejak Polyarc di ekosistem VR juga cukup luas. Moss pertama kali diluncurkan di PlayStation VR dan kemudian di-porting ke Oculus Quest sebagai judul peluncuran. Moss: Book II hadir di PSVR, Quest, SteamVR, dan Pico. Studio ini bahkan merilis salah satu dari sedikit game VR untuk Apple Vision Pro, sebuah judul strategi multiplayer bernama Glassbreakers. Kehadiran Polyarc di berbagai platform menjadikannya pemasok katalog yang andal bagi sejumlah perangkat VR. Perkembangan ekosistem perangkat keras seperti ini juga pernah menjadi sorotan dalam pemberitaan teknologi, misalnya saat Meta Nonaktifkan ribuan smart glasses demi mencegah perekaman ilegal.
Pada Mei 2026, Polyarc sempat mencoba menjangkau audiens non-VR melalui Moss: The Forgotten Relic. Game ini mengumpulkan seluruh seri Moss ke dalam satu judul dan merancang ulang gameplay-nya sehingga pemain tidak lagi memerlukan headset VR untuk memainkannya. Namun, tidak jelas seberapa baik penjualan game tersebut. Yang jelas, hasilnya tidak cukup untuk menjaga keberlangsungan studio. Langkah ekspansi ke pasar non-VR ini menjadi upaya terakhir Polyarc untuk memperluas basis pemainnya sebelum akhirnya memutuskan menutup operasional.
Persoalan yang lebih besar kemungkinan bukan terletak pada performa satu judul game, melainkan pada perubahan ekosistem VR yang membuat proyek baru semakin sulit diwujudkan. Meta mulai melakukan pivot besar dari metaverse menuju produk AI pada awal tahun ini. Perusahaan tersebut tidak hanya menutup beberapa studio VR miliknya sendiri, tetapi juga menarik diri dari sektor ini. Kondisi itu diduga membuat pendanaan untuk game VR baru semakin sulit diperoleh, termasuk bagi studio independen seperti Polyarc. Pergeseran strategi besar-besaran perusahaan teknologi memang kerap membawa konsekuensi luas, sebagaimana terlihat pada serangkaian kebijakan dan persoalan yang dihadapi Meta dalam berbagai lini bisnisnya.
Meski studio telah ditutup, seluruh game Polyarc tetap tersedia untuk dibeli. Bagi pemilik headset VR yang belum pernah mencoba seri Moss, game-game tersebut dinilai layak untuk dimainkan. Dengan demikian, warisan Polyarc sebagai salah satu pengembang awal yang membangun fondasi katalog VR tetap dapat diakses oleh pemain, meski studio di baliknya telah menghentikan seluruh aktivitas pengembangan.
Penutupan Polyarc menjadi penanda bagaimana dinamika industri VR dapat berubah dengan cepat. Sebuah studio yang pernah menjadi bagian penting dari fase awal pertumbuhan platform VR kini harus mengakhiri perjalanannya, sementara produk-produk yang dihasilkannya tetap hidup di tangan para pemain. Perubahan arah strategi perusahaan-perusahaan besar di sektor teknologi menjadi salah satu faktor yang menentukan keberlangsungan ekosistem tempat studio seperti Polyarc bergantung.
Bagi industri, kasus ini menunjukkan bahwa keberhasilan kreatif tidak selalu berbanding lurus dengan keberlangsungan bisnis. Polyarc memiliki rekam jejak yang solid dengan seri Moss yang mendapat tempat di hati pemain VR awal, termasuk kehadiran di berbagai platform seperti PSVR, Quest, SteamVR, Pico, hingga Apple Vision Pro. Namun, ketika ekosistem tempatnya beroperasi mengalami pergeseran besar, tantangan untuk tetap bertahan menjadi semakin berat. Penutupan studio ini pun menegaskan bahwa lanskap VR masih berada dalam fase yang penuh ketidakpastian, baik bagi pengembang maupun bagi para pemain yang menantikan konten-konten baru di platform tersebut.





Komentar
Belum ada komentar.