Pernahkah Anda membayangkan strategi membangun jalur kereta api di papan permainan bisa menjadi cerita epik di layar kaca? Itulah yang sedang dipersiapkan Netflix. Setelah lama fokus pada adaptasi video game, raksasa streaming ini kini secara agresif membeli hak cipta permainan papan (board game) ikonik. Yang terbaru, mereka mengamankan hak adaptasi untuk Ticket to Ride, game strategi bertema kereta api yang telah terjual lebih dari 20 juta kopi di seluruh dunia. Langkah ini bukan sekadar eksperimen, melainkan sinyal jelas dari strategi konten baru Netflix yang melihat potensi naratif besar dari dunia meja yang selama ini mungkin terabaikan.
Netflix sebenarnya bukan pemain baru dalam bisnis adaptasi game. Namun, fokus mereka sebelumnya lebih banyak tertuju pada ranah digital—dari serial seperti “The Witcher” hingga film seperti “The Cuphead Show!”. Pergeseran ke board game menandai ekspansi yang menarik. Dunia board game modern, dengan mekanisme kompleks dan latar belakang tema yang kaya, menawarkan fondasi cerita yang unik. Netflix tampaknya yakin bahwa emosi, konflik, dan strategi yang terjadi di atas papan permainan dapat diterjemahkan menjadi drama visual yang menarik bagi audiens global, baik mereka pemain game maupun bukan.
Lalu, mengapa Ticket to Ride yang dipilih? Dan apa arti langkah strategis ini bagi masa depan hiburan streaming serta industri board game itu sendiri? Mari kita telusuri lebih dalam rencana ambisius Netflix ini dan implikasinya.
Ticket to Ride: Dari Meja Makan ke Layar Lebar
Netflix secara resmi mengumumkan telah mengakuisisi hak untuk mengadaptasi IP (Intellectual Property) Ticket to Ride milik Asmodee. Rencananya, mereka akan mengembangkan sejumlah proyek yang mencakup serial TV, film, dan “format tambahan” lainnya. Proyek pertama yang akan digarap adalah film layar lebar dengan naskah ditulis oleh Ben Mekler dan Chris Amick. Yang menarik, Alan R. Moon, sang pencipta game legendaris ini, akan bertindak sebagai produser eksekutif, memastikan jiwa asli permainan tetap terjaga dalam adaptasinya.
Ticket to Ride sendiri pertama kali rilis lebih dari 20 tahun yang lalu. Game turn-based strategi dengan elemen membangun rute ini telah menjadi fenomena global, diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa. Meski konsepnya sederhana—mengumpulkan kartu kereta dan mengklaim rute antar kota—game ini penuh dengan ketegangan, persaingan, dan perencanaan jangka panjang. Tantangan terbesar bagi para penulis naskah adalah: bagaimana mengubah mekanisme permainan yang abstrak ini menjadi narasi yang hidup dan emosional? Apakah akan fokus pada persaingan sengit antar pemain, atau justru membangun dunia fiksi di balik peta yang penuh warna itu? Internet sudah dipenuhi teori, namun Netflix masih menyimpan kartu trufnya.
Baca Juga:
Strategi Netflix: Membangun Imperium Hiburan Cross-Platform
Akuisisi Ticket to Ride ini bukan tindakan sporadis. Ini adalah bagian dari strategi yang lebih besar dan terencana. Sebelumnya, Netflix telah mengumumkan akan mengadaptasi board game populer lainnya, Catan, ke dalam berbagai format. Bahkan, mereka melangkah lebih jauh dengan menandatangani kesepakatan dengan Hasbro di awal 2025 untuk mengubah Monopoly menjadi acara game show televisi. Polanya jelas: Netflix tidak hanya mencari cerita dari buku komik atau novel, tetapi juga dari pengalaman interaktif yang sudah memiliki basis penggemar yang loyal dan masif.
Dengan mendiversifikasi sumber IP-nya ke board game, Netflix melakukan beberapa hal sekaligus. Pertama, mereka memanfaatkan nostalgia dan kedekatan emosional yang dimiliki banyak orang terhadap permainan masa kecil atau malam keluarga. Kedua, mereka menjangkau demografi yang mungkin berbeda dengan penonton adaptasi video game. Ketiga, dan yang paling penting, ini adalah langkah untuk membangun ekosistem hiburan yang terintegrasi. Bayangkan menonton film Ticket to Ride, lalu langsung bisa memainkan game digital-nya di ponsel melalui Netflix Games, atau bahkan membeli board game edisi khusus yang terinspirasi dari film tersebut. Sinergi semacam ini menciptakan siklus engagement yang kuat.
Dalam konteks persaingan streaming yang semakin ketat, memiliki IP eksklusif yang bisa dikembangkan di berbagai platform adalah keunggulan kompetitif yang signifikan. Netflix memahami bahwa masa depan tidak hanya tentang memiliki konten, tetapi tentang menguasai dunia (universe) sebuah cerita dan pengalaman. Adaptasi board game adalah pintu masuk yang sempurna untuk itu. Sementara kompetitor mungkin fokus pada laptop gaming terbaru untuk konten cloud gaming, Netflix membidik pengalaman yang lebih luas dan mendalam.
Tantangan dan Peluang Adaptasi Board Game
Mengadaptasi board game ke layar bukan tanpa risiko. Sejarah Hollywood dipenuhi dengan adaptasi game yang gagal menangkap esensi permainan aslinya. Perbedaan mendasar antara pengalaman bermain game yang interaktif dan menonton film yang pasif adalah jurang yang harus diseberangi dengan kreatif. Ticket to Ride, misalnya, tidak memiliki karakter atau alur cerita yang sudah ditetapkan. Ini adalah kanvas kosong yang memberi kebebasan, tetapi juga tantangan besar untuk menciptakan dunia yang believable.
Namun, di situlah letak peluangnya. Ketiadaan narasi baku justru memberi kebebasan penuh kepada kreator untuk membangun cerita dari nol. Mereka bisa mengeksplorasi era kereta api uap di abad ke-19, persaingan industrial, atau bahkan membuat cerita fiksi ilmiah dengan tema transportasi masa depan. Keterlibatan Alan R. Moon sebagai produser eksekutif adalah langkah cerdas untuk menjaga “roh” permainan—semangat kompetisi, perencanaan strategis, dan kegembiraan dalam menyelesaikan rute.
Peluang lainnya adalah membangun franchise. Kesuksesan sebuah film Ticket to Ride dapat dengan mudah melahirkan sekuel, prekuel, serial animasi, atau bahkan konten edukasi. Dalam industri yang didorong oleh teknologi memori yang memungkinkan konten berkualitas tinggi, dunia yang dibangun dari game sederhana bisa berkembang menjadi saga yang luas. Ini juga membuka pintu bagi adaptasi board game kompleks lainnya di masa depan.
Dampak pada Industri Board Game dan Masa Depan Hiburan
Langkah Netflix ini bisa menjadi angin segar bagi industri board game. Adaptasi sukses berpotensi mengenalkan game klasik seperti Ticket to Ride kepada jutaan penonton baru yang mungkin belum pernah mencobanya. Ini dapat mendorong penjualan board game fisik maupun digital, menciptakan gelombang popularitas baru. Perusahaan seperti Asmodee, pemegang hak cipta Ticket to Ride dan Catan, jelas diuntungkan dengan eksposur masif dan royalti dari proyek-proyek ini.
Lebih luas lagi, ini mengaburkan batas antara berbagai bentuk hiburan. Masa depan mungkin tidak lagi memisahkan dengan tegas antara “pemain game”, “penonton film”, dan “penggemar serial”. Seseorang bisa menjadi semua itu sekaligus, terlibat dalam sebuah IP melalui berbagai medium. Netflix, dengan kekuatan algoritma rekomendasinya, berada di posisi ideal untuk memandu pengguna dari satu bentuk konten ke bentuk lainnya. Misalnya, setelah menonton film Ticket to Ride, Anda mungkin mendapat rekomendasi untuk menonton dokumenter tentang sejarah kereta api, atau tutorial bermain game strategi lainnya.
Fenomena ini juga berpotensi mempengaruhi cara game baru dirancain. Desainer game masa depan mungkin akan mempertimbangkan “potensi adaptasi” sejak awal, menciptakan game dengan dunia dan karakter yang lebih kaya, tidak hanya mekanisme yang solid. Ini adalah evolusi alami di era di mana konten harus bisa hidup di banyak platform. Sementara para developer game PC masih sibuk melawan cheater pakai keyboard-mouse, industri board game justru membuka kolaborasi baru dengan dunia film.
Netflix dengan adaptasi Ticket to Ride-nya sedang menempatkan bidak di papan permainan yang jauh lebih besar. Ini bukan sekadar tentang satu film atau serial, tetapi tentang mendefinisikan ulang sumber inspirasi untuk storytelling di era digital. Jika berhasil, kita mungkin akan melihat lebih banyak board game klasik menghiasi layar kaca, mengubah kenangan bermain di meja makan menjadi pengalaman sinematik yang mendebarkan. Perjalanan kereta api Ticket to Ride baru saja meninggalkan stasiun, dan semua mata tertuju ke mana jalur yang dibangun Netflix ini akan berujung.

