šŸ“‘ Daftar Isi

Tumpukan casing game PlayStation 4 dan PlayStation 5 sebagai simbol perdebatan disk fisik.

Ken Kutaragi Setuju Sony Setop Produksi Disk PS5, Singgung Soal Mentalitas

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
  • Ken Kutaragi memahami kemarahan pemain soal disk, tapi menilai mempertahankannya tidak masuk akal secara ekonomi
  • Ia menyebut resistensi terhadap PlayStation tanpa disk bisa jadi "a mentality issue"
  • Kutaragi membandingkan konsol dengan smartphone dan menilai disk jadi simbol kepemilikan game
  • Sony berhenti produksi game berbasis disk mulai Januari 2028, alasan preferensi digital
  • Digital menyumbang 82 persen penjualan full-game PS4 dan PS5 kuartal April–Juni
  • Petisi penolakan telah melewati 352.000 tanda tangan
  • Power to the Players Act diajukan ke Kongres AS pada 15 Oktober

Telset.id – Ken Kutaragi, insinyur yang memimpin pengembangan PlayStation original, PS2, dan PS3, menyatakan bahwa ia memahami kemarahan pemain atas rencana Sony menghentikan produksi disk fisik, tetapi menilai mempertahankan disk bukanlah langkah yang masuk akal secara ekonomi. Pernyataan itu ia sampaikan di tengah gelombang protes atas keputusan Sony yang akan berhenti memproduksi game PlayStation berbasis disk mulai Januari 2028.

Kutaragi berbicara kepada VGC di konferensi Game Republic New Horizons di Middlesbrough, Inggris, pada 15 Oktober. Menurutnya, disk fisik kini telah menjadi simbol kepemilikan sebuah game, dan resistensi terhadap PlayStation tanpa disk bisa jadi merupakan ā€œa mentality issueā€ atau persoalan mentalitas. Ia meninggalkan Sony pada 2007 dan kini menjalankan perusahaannya sendiri, sehingga pandangannya mencerminkan sikap pribadi, bukan posisi resmi Sony.

Dalam wawancara itu, Kutaragi menjelaskan bahwa PS2 dan PS3 sebenarnya sudah memiliki fitur jaringan, hanya saja tidak digunakan seluas konsol generasi sekarang. Ia membandingkan konsol dengan smartphone: saat ini hampir semua orang online dan tidak lagi menuntut media fisik karena percaya konten mereka akan tetap bersama mereka.

Pandangan Kutaragi tersebut berhadapan dengan posisi resmi Sony yang tampak berseberangan. Menanggapi gugatan class action di pengadilan federal California pada Agustus, Sony menyatakan bahwa konsumen yang wajar mengetahui mereka tidak memiliki unduhan digital, melainkan hanya lisensi untuk memainkannya—lisensi yang bisa dicabut.

Kutaragi Nilai Kepemimpinan PlayStation Kini Melihat Platform Secara Berbeda

Kutaragi juga menyinggung bahwa kepemimpinan PlayStation saat ini melihat platform dengan cara berbeda dari perusahaan yang pernah ia pimpin. Ia menyebut Sony Interactive Entertainment telah merekrut banyak orang dari Gaikai dan bisnis streaming lainnya. ā€œ[Mereka mungkin melihat] PlayStation bukan sekadar konsol game, tetapi juga terminal konten,ā€ ujarnya kepada outlet gaming tersebut.

Ia mengaku telah memprediksi peralihan dari disk jauh-jauh hari pada 2006. Kepada GameSpot saat itu, Kutaragi mengatakan distribusi digital game pada akhirnya akan membuat disk tidak lagi diperlukan.

A stack of various PlayStation 4 and PlayStation 5 game cases.

Sony sendiri mengumumkan pada Juli bahwa mereka akan berhenti memproduksi game PlayStation berbasis disk mulai Januari 2028, dengan alasan meningkatnya preferensi pemain terhadap digital. Unduhan digital menyumbang 82 persen dari penjualan full-game PS4 dan PS5 pada kuartal April hingga Juni, sementara software fisik hanya menghasilkan Ā„20,5 miliar dari Ā„526,6 miliar yang diraup Sony dari software game—kurang dari empat persen.

Dalam earnings call 31 Juli, CFO Sony Lin Tao mengatakan perusahaan akan melanjutkan rencananya dengan hati-hati meski ada opini kuat dari para pemain. Saat itu, petisi online yang meminta Sony mempertahankan game fisik telah melewati 352.000 tanda tangan.

Kutaragi menjadi eksekutif ketiga mantan petinggi PlayStation yang angkat bicara soal perdebatan ini. Shuhei Yoshida, mantan presiden Sony Worldwide Studios, pada Agustus mengatakan bahwa ia sepenuhnya pemain digital dan tidak melihat alasan kehilangan disk sebagai masalah besar. Mantan chairman Sony Worldwide Studios Shawn Layden kepada newsletter Game milik Brian Crecente menyebut PlayStation tanpa disk akan ā€œdepressing, but solvableā€ jika Sony melisensikan proses pencetakan disknya ke produsen luar, seperti yang dilakukan Microsoft untuk Xbox.

Posisi Kutaragi berada tepat di tengah dua pandangan tersebut. Ia menerima logika Sony sekaligus mengakui bahwa disk telah ā€œbecome a metaphor for ā€˜owning’ gamesā€.

Isu Kepemilikan Game sampai ke Kongres Amerika Serikat

Pertanyaan soal kepemilikan ini juga dibawa ke Kongres. Pada 15 Oktober, Representative Ritchie Torres (D-NY) mengumumkan Power to the Players Act, yang akan mengarahkan FTC untuk menulis aturan yang memperlakukan game yang dibeli sebagai milik, bukan sekadar lisensi. Jika lolos, aturan itu juga mewajibkan game online memiliki mode offline sebelum servernya dimatikan, tetapi rancangan undang-undang tersebut belum resmi diajukan.

Perdebatan soal batas antara lisensi dan kepemilikan digital ini bukan isu yang berdiri sendiri di industri teknologi. Sejumlah kalangan juga menyoroti bagaimana kendali atas sebuah produk digital bisa berubah setelah dibeli, seperti dalam kasus Peringatan Geoffrey Hinton mengenai risiko teknologi yang berkembang cepat.

Dengan keputusan Sony yang tetap berjalan menuju Januari 2028, pernyataan Kutaragi menegaskan satu hal: perdebatan disk fisik bukan sekadar soal media penyimpanan, melainkan soal bagaimana pemain memaknai kepemilikan game yang mereka beli. Sementara Sony berpegang pada logika bisnis dan lisensi, sebagian pemain dan kini sejumlah pembuat kebijakan mempertanyakan apakah lisensi sudah cukup mewakili hak konsumen.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.