📑 Daftar Isi

Industri Gim Indonesia Diproyeksikan Sumbang Rp59 Triliun pada 2030

Industri Gim Indonesia Diproyeksikan Sumbang Rp59 Triliun pada 2030

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Industri gim Indonesia diproyeksikan mampu menyumbang hingga 3,3 miliar dolar AS atau setara Rp59 triliun dan mendukung 476.600 lapangan kerja pada tahun 2030. Proyeksi tersebut berasal dari laporan bertajuk “The video game industry: Unlocking the next level of economic and social development in Southeast Asia” yang dirilis perusahaan teknologi Tencent dan firma konsultan kebijakan publik Access Partnership.

Angka tersebut merupakan hasil skenario pertumbuhan yang dipercepat. Artinya, capaian Rp59 triliun pada 2030 tidak serta-merta terjadi, melainkan bergantung pada sejumlah langkah yang harus diambil untuk memperkuat ekosistem industri gim nasional.

Direktur Urusan Publik Global Tencent untuk Asia Pasifik Monrawee Ampolpittayanant menyampaikan bahwa Indonesia saat ini berpeluang mengubah kekuatan pasar gim lokal menjadi ekosistem kreatif dan produksi yang lebih kuat. Menurutnya, di dalam industri gim Indonesia, studio lokal dapat mengembangkan IP asli, membangun bisnis yang berkelanjutan, dan terhubung dengan audiens di seluruh dunia.

Laporan itu sendiri bukan hanya memuat proyeksi pendapatan. Khusus membahas Indonesia, dokumen tersebut juga menunjukkan bahwa pada 2030 industri gim lokal berpotensi membuka 476.600 lapangan pekerjaan, atau hampir dua kali lipat dari penyerapan tenaga kerja pada 2025.

Pendapatan 2025 dan Dominasi Perangkat Keras

Pada 2025, laporan white paper tersebut mengungkapkan bahwa industri gim Indonesia menciptakan pendapatan total sebesar 1,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp23 triliun. Sektor ini menyerap tenaga kerja sebanyak 257.400 pekerja. Pendapatan tersebut berkontribusi sebesar 0,12 persen terhadap Pendapatan Bruto Domestik (PDB) Indonesia.

Studi itu menyoroti bahwa sebagian besar pendapatan industri gim di Indonesia masih didominasi oleh sektor perangkat keras dan periferal sebesar 47 persen. Posisi berikutnya ditempati eSports sebesar 24 persen, lalu ritel 22 persen. Sementara itu, sektor pengembangan dan perilisan gim baru hanya menyumbang 7 persen dari total nilai pendapatan.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa nilai ekonomi industri gim nasional saat ini lebih banyak ditopang oleh penjualan perangkat dan periferal, bukan oleh produksi gim itu sendiri. Inilah celah yang ingin ditutup melalui penguatan studio lokal dan pengembangan IP asli.

Tiga Rekomendasi agar Target Tercapai

Agar Indonesia dapat meraih manfaat optimal dari pengembangan industri gim nasional, laporan ini memberikan beberapa rekomendasi. Rekomendasi pertama adalah perluasan akses pembiayaan bagi studio lokal melalui berbagai instrumen, seperti hibah prototipe, pendanaan pendamping, dan pinjaman berbunga ringan. Tujuannya membantu pengembang membawa lebih banyak gim ke pasar.

Rekomendasi kedua adalah penciptaan peluang untuk mengoptimalkan nilai Kekayaan Intelektual (IP) lokal. Caranya melalui proses pendaftaran, penilaian, dan pembiayaan IP yang lebih sederhana agar studio dapat membangun bisnis penerbitan yang berkelanjutan.

Rekomendasi ketiga adalah penguatan jalur pengembangan bakat dan ekspansi internasional. Langkah ini ditempuh dengan menghadirkan kurikulum khusus, penempatan kerja di industri, dan inisiatif penjajakan bisnis untuk menjangkau pasar global. Upaya memperluas ekosistem lewat kolaborasi daerah juga menjadi salah satu arah yang dibahas pemerintah, seperti dalam langkah Kemenekraf Gandeng Pemda.

Sejumlah rekomendasi itu bersinggungan dengan pembahasan regulasi yang tengah berjalan di tingkat pemerintah. Payung aturan industri gim nasional sendiri masih dalam tahap pengkajian, sebagaimana tercermin dari sikap Pemerintah Hati-Hati dalam merevisi Perpres terkait.

Posisi Indonesia di Pasar Gim ASEAN

Laporan dari Tencent dan Access Partnership itu mengupas kondisi industri gim di level Asia Tenggara (ASEAN) dengan lima negara sebagai penyumbang terbesarnya, yaitu Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Singapura. Kontribusi kelima negara tersebut memberi nilai tambah pada PDB gabungan senilai 8,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp148 triliun pada 2025.

Porsi kontribusi Indonesia di ASEAN untuk industri gim mencapai 21 persen, posisi yang sama dengan Thailand. Sementara itu, pemimpin pasar masih dipegang Malaysia dengan persentase kontribusi sebesar 31 persen. Adapun kontribusi Singapura dan Filipina pada industri gim ASEAN tercatat masing-masing sebesar 16 persen dan 12 persen.

Pada 2030, industri gim ASEAN diperkirakan dapat berkontribusi senilai 14,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp256 triliun dengan penciptaan lapangan pekerjaan sebanyak 1.160.000 pekerjaan. Proyeksi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan tersebut, sejajar dengan Thailand dan di bawah Malaysia.

Di sisi lain, pasar gim Indonesia sendiri terus bergerak. Sejumlah judul lokal mulai menyasar panggung internasional, salah satunya Gim The Blind Warrior yang dijadwalkan tampil di Tokyo Game Show 2026. Kehadiran karya semacam ini menjadi gambaran nyata dari potensi IP lokal yang ingin didorong laporan Tencent dan Access Partnership.

Perlu dicatat, laporan ini berbicara soal proyeksi dan skenario, bukan kepastian. Capaian Rp59 triliun pada 2030 hanya bisa terwujud jika akses pembiayaan, perlindungan IP, dan jalur bakat bagi studio lokal benar-benar diperkuat. Tanpa itu, struktur pendapatan industri gim Indonesia berpotensi tetap didominasi perangkat keras dan periferal, seperti kondisi pada 2025.

Bagi pelaku industri, laporan ini memberi peta jalan yang jelas: pembiayaan, IP, dan bakat. Ketiganya adalah prasyarat agar porsi pengembangan dan perilisan gim yang kini hanya 7 persen bisa tumbuh dan mengubah komposisi pendapatan nasional. Sementara bagi pengguna, angka 476.600 lapangan kerja pada 2030 menunjukkan bahwa industri gim bukan sekadar pasar konsumen, melainkan sektor yang berpotensi menyerap tenaga kerja secara signifikan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.