📑 Daftar Isi

Logo BioWare di layar dengan latar suasana studio game yang ditutup EA

EA Tutup BioWare dan PHK 400 Karyawan, Mass Effect Baru Dibatalkan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • EA menutup BioWare dan memangkas sekitar 400 karyawan atau 3 persen tenaga kerja
  • Proyek Mass Effect baru dibatalkan, kantor BioWare Edmonton ditutup
  • Sekitar 50 posisi terdampak berada di BioWare
  • Full Circle dikurangi, Project Lotus di Maxis dijeda
  • EA tetap lanjutkan Battlefield, Apex Legends, dan proyek Star Wars Battlefront 3

Telset.id – Electronic Arts (EA) resmi menutup BioWare, studio di balik Mass Effect dan Dragon Age, dan memangkas sekitar 400 karyawan atau sekitar tiga persen dari total tenaga kerjanya. Keputusan ini sekaligus membatalkan proyek Mass Effect terbaru yang disebut sudah masuk tahap awal pengembangan, dan menutup kantor BioWare di Edmonton, Alberta.

Penutupan BioWare diumumkan EA pada Rabu, 21 Oktober 2026, melalui memo dari co-presidents EA Cam Weber dan David Tinson. Langkah ini menjadi bagian dari restrukturisasi besar yang dijalankan EA setelah perusahaan tersebut menjadi perusahaan privat dan dibebani utang sebesar US$20 miliar oleh pemilik barunya. Bagi pemain, dampaknya langsung: salah satu nama paling berpengaruh dalam sejarah genre role-playing game tidak lagi memproduksi game baru.

“BioWare adalah studio legendaris yang membantu mendefinisikan genre role-playing, dan kami tidak mengambil keputusan ini dengan ringan,” demikian bunyi memo EA yang dikutip dalam pengumuman tersebut. BioWare juga mengonfirmasi kabar ini melalui pesan perpisahannya sendiri, dengan berterima kasih kepada para pengembang dan pemain yang telah membangun game-game studio itu selama 30 tahun terakhir.

BioWare didirikan lebih dari tiga dekade lalu dan dikenal lewat sejumlah judul besar seperti Mass Effect, Dragon Age, Baldur’s Gate, dan Star Wars: Knights of the Old Republic. EA sendiri membeli BioWare pada 2007. Namun dalam beberapa tahun terakhir, studio ini berjuang mempertahankan performa setelah Anthem dan Dragon Age: The Veilguard gagal memenuhi ekspektasi penjualan.

Menurut laporan, sekitar 50 dari total posisi yang dipangkas berada di BioWare. EA sebelumnya sempat menyebut ada tim kecil yang berada di tahap awal pengerjaan game Mass Effect berikutnya. Namun perusahaan memutuskan membatalkan proyek tersebut dan menutup BioWare sepenuhnya, termasuk kantor di Edmonton, Alberta.

Jejak Penurunan BioWare

Rangkaian masalah BioWare sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa tahun lalu. Mass Effect: Andromeda yang dirilis pada 2017 diterima jauh lebih dingin dibandingkan trilogi Mass Effect sebelumnya, sementara Anthem yang hadir pada 2021 menjadi salah satu kegagalan layanan live-service EA yang paling dikenal. Anthem sendiri sudah ditutup lebih awal pada tahun ini.

Rilis besar terakhir BioWare, Dragon Age: The Veilguard pada 2024, juga tidak memperbaiki keadaan. EA menyebut game tersebut mencapai sekitar 1,5 juta pemain pada kuartal peluncurannya, atau hampir 50 persen di bawah ekspektasi perusahaan. Setelah itu, BioWare dipangkas menjadi tim yang jauh lebih kecil yang fokus terutama pada Mass Effect berikutnya.

Di luar BioWare, restrukturisasi EA menyentuh sejumlah studio lain. Full Circle, pengembang Skate yang sudah berada dalam early access sejak September tahun lalu, kehilangan sebagian karyawan. Meski game tersebut disebut telah meraih “banyak kesuksesan” dalam menarik pemain, EA menyatakan sedang “melakukan perubahan pada studio untuk memiliki tim yang lebih fokus dan lebih kecil guna menjalankan roadmap yang jelas bagi komunitas kami.”

Di Maxis, pengembang The Sims, EA menghentikan sementara pengembangan yang disebut “Project Lotus” agar bisa mengalihkan lebih banyak sumber daya ke inisiatif lain bernama Project Evergreen. Langkah ini menunjukkan pola yang sama: EA mempersempit prioritas pengembangan di sejumlah studio.

Penutupan BioWare melengkapi deretan penutupan studio dan layanan game yang terjadi sepanjang tahun ini. Sebelumnya, Build A Rocket Boy juga menutup operasionalnya, sementara Ubisoft menutup game NFT Champions Tactics dengan server yang dimatikan pada 30 Oktober.

Apa yang Masih Dikerjakan EA

Meski memangkas banyak tim, EA menegaskan tetap berinvestasi pada sejumlah waralaba utama. Perusahaan menyatakan akan melanjutkan proyek Battlefield dan Apex Legends, yang disebut akan mendapat lebih banyak mode multiplayer. Respawn dan DICE juga digabungkan untuk mengerjakan proyek penembak baru.

Menurut sumber Variety, proyek tersebut adalah Star Wars: Battlefront 3. Rumor sebelumnya menyebut beberapa studio sempat masuk dalam pertimbangan untuk menggarap game itu, termasuk Bungie, tetapi tampaknya seri tersebut tetap berada di bawah EA. DICE sendiri merupakan pengembang dua judul Star Wars: Battlefront terakhir.

Selain itu, EA menyebut akan tetap menggarap Marvel’s Iron Man dan game Star Wars Jedi berikutnya. Setelah kedua proyek itu, EA menyatakan akan “memusatkan upaya pada lebih sedikit proyek besar yang berjalan bersamaan” di ranah action adventure. Untuk divisi EA Sports, perusahaan menghidupkan kembali seri Fight Night, sementara tim American football-nya sedang mengerjakan “pengalaman open-world baru yang mengutamakan sosial.” EA berencana mengumumkan detail proyek-proyek tersebut dalam beberapa bulan ke depan.

Penutupan BioWare juga menjadi pengingat bahwa konsolidasi industri game tidak hanya menimpa studio kecil. Pola serupa terlihat pada penutupan layanan lama, seperti PlayStation Vue yang lebih dulu dihentikan, maupun pemutusan dukungan platform seperti YouTube di Nintendo 3DS. Bagi EA, keputusan ini menutup bab panjang BioWare dan mengarahkan perusahaan ke portofolio yang lebih ramping, dengan fokus pada waralaba yang dianggap masih memiliki jalur pertumbuhan yang jelas.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.