Industri video game global tampaknya belum bisa bernapas lega dari badai pemutusan hubungan kerja. Kali ini, sorotan tajam kembali mengarah pada salah satu raksasa industri, Ubisoft. Kabar terbaru yang beredar bukan lagi sekadar rumor tak berdasar, melainkan sebuah sinyal kuat bahwa perusahaan di balik franchise Assassin’s Creed ini sedang menghadapi masa-masa paling kritis dalam sejarah operasional mereka. Situasi ini tentu memancing pertanyaan besar di benak para gamer dan investor: ada apa sebenarnya dengan Ubisoft?
Berdasarkan laporan terbaru, Ubisoft tampaknya sedang merencanakan gelombang PHK lanjutan yang menyusul penutupan studio dan pembatalan proyek game minggu lalu. Fokus utama pengurangan tenaga kerja kali ini menyasar markas besar mereka di Paris, Prancis. Tidak tanggung-tanggung, rencana ini berpotensi memangkas porsi signifikan dari tenaga kerja yang ada, menciptakan atmosfer ketidakpastian yang kental di kalangan karyawan yang selama ini menjadi tulang punggung kreativitas perusahaan.
Langkah drastis ini diambil di tengah kondisi finansial perusahaan yang sedang “berdarah-darah”. Dari nilai saham yang terjun bebas hingga strategi manajemen yang dipertanyakan, Ubisoft seolah sedang berjuang untuk tetap relevan dan profitable. Namun, cara mereka menangani krisis ini justru memicu kontroversi baru, mulai dari metode pemecatan hingga kebijakan wajib masuk kantor yang dianggap sebagai taktik halus untuk mengurangi pegawai tanpa pesangon penuh.
Badai PHK di Kantor Pusat Paris
Laporan mengindikasikan bahwa Ubisoft menargetkan pengurangan hingga 200 pekerjaan di kantor pusat Paris. Angka ini bukanlah jumlah yang kecil, karena merepresentasikan hampir 20 persen dari total staf yang ada saat ini. Dalam dunia korporasi, pemangkasan seperlima kekuatan kerja adalah tanda bahaya yang sangat nyata. Proses ini rencananya akan diatur di bawah mekanisme hukum Prancis yang dikenal sebagai Rupture Conventionnelle Collective (RCC).
Mekanisme RCC ini memungkinkan staf untuk menyetujui kesepakatan pemutusan hubungan kerja sukarela secara kolektif. Secara teori, ini adalah proses sukarela, yang bisa dibilang “lebih manusiawi” bagi karyawan Ubisoft Paris dibandingkan pemecatan sepihak. Namun, situasi di lapangan tidak sesederhana itu. Seorang juru bicara perusahaan menyatakan bahwa pada tahap ini, rencana tersebut masih berupa proposal dan belum ada keputusan final hingga kesepakatan kolektif tercapai.
Ketidakpastian ini diperparah dengan absennya pernyataan resmi mengenai “Plan B” perusahaan. Ubisoft belum mengungkapkan langkah apa yang akan mereka ambil jika mereka tidak berhasil mendapatkan 200 sukarelawan yang bersedia mundur. Hal ini menciptakan tekanan psikologis tersendiri bagi para karyawan, di mana mereka harus memilih antara bertahan di kapal yang sedang goyah atau melompat keluar dengan kompensasi yang ditawarkan.
Kondisi internal yang tidak stabil ini tentu mempengaruhi output kreatif studio. Kita telah melihat bagaimana Nasib Game besutan Ubisoft menjadi semakin tidak menentu belakangan ini.
Mandat Masuk Kantor: Strategi atau Efisiensi?
Di tengah proposal pengurangan karyawan, Ubisoft baru-baru ini memperkenalkan mandat yang mewajibkan karyawan untuk kembali bekerja di kantor selama lima hari setiap minggunya. Kebijakan ini menarik untuk dianalisis lebih dalam. Di era di mana banyak perusahaan teknologi beralih ke sistem hybrid, langkah Ubisoft untuk memaksakan kehadiran fisik penuh bisa dilihat dari dua sisi mata uang.
Di satu sisi, manajemen mungkin berdalih ini demi produktivitas. Namun, analisis yang lebih tajam melihat ini sebagai potensi strategi “pemangkasan halus”. Kebijakan kembali ke kantor lima hari seminggu ini bisa saja dirancang untuk memancing karyawan yang sudah “setengah hati” atau yang lebih nyaman bekerja remote untuk mengundurkan diri dengan sendirinya. Jika karyawan memilih keluar karena tidak setuju dengan kebijakan baru ini, perusahaan tentu dapat mengurangi jumlah staf tanpa harus melalui proses negosiasi pesangon yang rumit.
Baca Juga:
Runtuhnya Studio dan Pembatalan Proyek Besar
Pengurangan pegawai di Paris hanyalah puncak gunung es dari langkah penghematan biaya yang agresif. Ubisoft telah mengalami kesulitan selama berbulan-bulan, dan dampaknya mulai terasa di berbagai cabang global mereka. Salah satu kejadian yang cukup ironis adalah penutupan studio Halifax. Studio ini ditutup hanya 16 hari setelah karyawannya berhasil mencapai kesepakatan serikat pekerja (unionisasi). Waktu penutupan yang sangat berdekatan dengan pembentukan serikat ini tentu menimbulkan spekulasi liar mengenai sikap perusahaan terhadap hak-hak pekerja.
Selain Halifax, minggu lalu Ubisoft juga menutup studio mereka di Stockholm dan mengumumkan berbagai upaya restrukturisasi di beberapa pengembang lain di bawah payung mereka. Tidak berhenti di situ, kabar buruk juga datang dari lini produksi game. Perusahaan mengumumkan pembatalan enam game sekaligus. Yang paling mengejutkan penggemar adalah masuknya nama besar dalam daftar pembatalan tersebut, termasuk remake yang sudah lama dinanti, Prince of Persia: Sands of Time.
Keputusan untuk membatalkan proyek sebesar Prince of Persia menunjukkan betapa putus asanya manajemen dalam memangkas beban operasional. Selain itu, lima game lain yang dibatalkan tidak diungkapkan judulnya, menambah misteri mengenai seberapa banyak sumber daya yang telah “terbuang” untuk proyek yang tidak akan pernah melihat cahaya hari. Fenomena pembatalan proyek ini mengingatkan kita pada kasus Proyek Batal dari developer lain yang juga harus melakukan efisiensi ketat.
Ubisoft juga mengumumkan bahwa tujuh game tambahan lainnya mengalami penundaan. Ini adalah sinyal bahwa manajemen proyek di dalam perusahaan sedang sangat kacau. Namun, secara tak terduga, proyek Beyond Good and Evil 2 justru tidak dibatalkan. Mengingat masa pengembangannya yang sudah sangat lama dan penuh masalah, fakta bahwa game ini masih bertahan adalah sebuah anomali tersendiri yang mungkin (suatu hari nanti) bisa kita nikmati.
Saham Anjlok: Dari Raja Menjadi Jelata
Semua kekacauan operasional ini tercermin jelas dalam kinerja pasar saham Ubisoft. Nilai saham perusahaan telah benar-benar terpuruk dalam beberapa tahun terakhir. Jika kita melihat ke belakang, pada tahun 2021, Ubisoft masih “terbang tinggi” dengan harga saham mencapai kisaran $20 per lembar. Posisi tersebut menempatkan mereka sebagai salah satu pemain dominan di bursa saham industri hiburan.
Namun, realitas hari ini sangatlah pahit. Saat ini, saham Ubisoft diperdagangkan di kisaran $1 per lembar. Penurunan nilai yang drastis ini mencerminkan hilangnya kepercayaan investor terhadap visi dan kemampuan eksekusi manajemen saat ini. Kejatuhan dari $20 ke $1 bukan sekadar koreksi pasar, melainkan sebuah keruntuhan fundamental.
Situasi pelik seperti ini seringkali memicu efek domino. Ketika studio besar mulai goyah, dampaknya bisa merembet ke ekosistem di sekitarnya. Hal ini berbeda dengan dinamika Studio Independen yang mungkin lebih lincah dalam bermanuver, namun bagi korporasi raksasa seperti Ubisoft, memutar balikkan keadaan membutuhkan upaya herculean.
Kini, nasib ratusan karyawan di Paris dan masa depan berbagai franchise legendaris berada di ujung tanduk. Apakah langkah efisiensi brutal melalui PHK massal dan pembatalan proyek ini akan berhasil menyelamatkan kapal yang karam? Atau justru ini adalah awal dari akhir dominasi Ubisoft di industri game? Satu hal yang pasti, bagi Anda para penggemar setia, bersiaplah untuk menghadapi lebih banyak berita penundaan dan ketidakpastian di masa mendatang, bahkan mungkin nasib game favorit Anda akan berakhir seperti Game Mati lainnya yang tinggal kenangan.
Di tengah gempuran berita negatif ini, industri game tetap berjalan. Sementara raksasa lama berjuang, kita melihat kemunculan Game Indie baru yang siap mengisi kekosongan dengan inovasi segar, membuktikan bahwa kreativitas tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya anggaran perusahaan.

