Telset.id – Build A Rocket Boy (BARB), pengembang game aksi-petualangan MindsEye, dilaporkan akan menutup studionya secara permanen. Beberapa karyawan mengungkapkan bahwa masa kerja mereka di studio tersebut “segera berakhir” melalui unggahan di LinkedIn, sementara laporan Kotaku menyebut BARB akan menutup pintunya untuk selamanya.
Kabar penutupan Build A Rocket Boy ini menjadi pukulan terakhir bagi studio yang didirikan oleh mantan produser Grand Theft Auto, Leslie Benzies. MindsEye sendiri telah mengalami debut yang buruk sejak dirilis pada Juni 2025, dengan PlayStation dilaporkan memberikan pengembalian dana kepada sejumlah pemain yang mencoba game tersebut dalam kondisi penuh bug pada masa awal peluncurannya.
Dan Hawkins, principal talent acquisition partner BARB, menulis di LinkedIn dengan nada emosional mengenai situasi yang menimpa studionya. “Dengan hati yang sangat berat saya mengangkat spanduk hijau saya, bersama dengan rekan-rekan saya di Build a Rocket Boy. Saya ‘Open to Work’ secara aktif mencari petualangan baru,” tulis Hawkins, mengisyaratkan bahwa seluruh karyawan studio tersebut kehilangan pekerjaan mereka.
“Saya akan melihat BARB sampai akhir, membantu menyelesaikan segala sesuatunya di departemen HR,” tambahnya. Pernyataan Hawkins ini memperkuat indikasi bahwa penutupan Build A Rocket Boy melibatkan seluruh lini operasional studio, bukan hanya sebagian divisi saja.
Perjalanan MindsEye dan Rangkaian PHK
MindsEye pertama kali dirilis pada Juni 2025 dan langsung menghadapi badai kritik dari pemain maupun media. Kondisi game yang penuh bug pada peluncuran awal memicu gelombang keluhan, hingga PlayStation dikabarkan mengeluarkan kebijakan pengembalian dana bagi sebagian pemain yang mencoba game bergaya Grand Theft Auto tersebut.
Tak lama setelah peluncuran MindsEye, Build A Rocket Boy melakukan putaran PHK pertamanya. Leslie Benzies, pendiri BARB yang juga dikenal sebagai mantan produser GTA, dilaporkan menyalahkan berbagai pihak yang ia sebut sebagai “saboteurs” atau penyabot, baik dari dalam maupun luar perusahaan, atas masalah yang menimpa game tersebut.
Pada Maret 2026, Build A Rocket Boy menjadi penerbit tunggal MindsEye setelah berpisah dengan IOI Partners, sebuah unit dari IO Interactive yang merupakan pengembang 007 First Light. Perpisahan tersebut diikuti oleh putaran PHK tambahan pada bulan yang sama dan berlanjut pada Mei 2026.
Studio ini sempat merilis ekspansi untuk MindsEye pada musim semi 2026. Ekspansi tersebut berisi misi yang diklaim akan mengungkap sejumlah bukti terkait konspirasi yang disebut-sebut merusak peluang kesuksesan game tersebut. Namun menurut Rock Paper Shotgun, ekspansi itu tidak menghadirkan detail menarik tentang “skandal” yang dimaksud dan hanya berupa variasi biasa dari misi Hitman.
Baca Juga:
Upaya lain untuk membangkitkan MindsEye juga dilakukan dengan menambahkan mode multiplayer dan mode sepak bola bergaya Rocket League pada musim panas 2026. Meski demikian, penambahan fitur tersebut tidak mampu membalikkan nasib MindsEye di pasar game.

Kontroversi Pengawasan Karyawan
Sebelum kabar penutupan mencuat, Build A Rocket Boy telah menghadapi kontroversi serius terkait dugaan pengawasan terhadap karyawannya. Puluhan karyawan menuduh studio tersebut memata-matai mereka sepanjang awal tahun ini.
Menurut IWGB Game Workers Union, manajemen BARB “memasang perangkat lunak pengawasan Teramind yang invasif ke perangkat mereka tanpa sepengetahuan mereka.” Serikat pekerja tersebut juga menyatakan bahwa tindakan itu melampaui batas “memantau produktivitas pekerja atau menjaga keamanan perusahaan dengan merekam individu di rumah mereka dan tanpa persetujuan mereka.”
Dugaan pengawasan ini menambah daftar panjang masalah yang membelit Build A Rocket Boy, mulai dari kegagalan peluncuran MindsEye, rangkaian PHK berulang, hingga konflik internal yang diungkapkan oleh pendiri studio sendiri. Kasus serupa juga menjadi perhatian di industri teknologi yang lebih luas, seperti yang terlihat dari diskusi seputar era mengetik kode yang tengah berlangsung di kalangan pengembang saat ini.
Penutupan Build A Rocket Boy menandai berakhirnya perjalanan sebuah studio yang sempat dipandang sebagai harapan baru di industri game aksi-petualangan. MindsEye yang digadang-gadang sebagai pesaing seri Grand Theft Auto justru berakhir sebagai salah satu peluncuran game paling bermasalah dalam beberapa tahun terakhir.
Dari sisi industri, kasus BARB juga menyoroti bagaimana tekanan pasar dan ekspektasi tinggi terhadap sebuah game dapat berdampak langsung pada keberlangsungan sebuah studio. Rangkaian PHK yang terjadi sejak 2025 hingga 2026 menunjukkan bahwa pemulihan setelah peluncuran yang gagal bukanlah hal yang mudah, bahkan ketika studio mencoba menghadirkan ekspansi dan mode permainan baru.
Bagi para pengembang yang tengah mencari peluang baru pasca-penutupan BARB, lanskap industri teknologi saat ini menawarkan berbagai arah, termasuk pemanfaatan perangkat dan sistem operasi khusus untuk pengembangan, seperti yang dibahas dalam Windows 11 Project Zenith serta Project Zenith dari Microsoft.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari pihak Build A Rocket Boy mengenai detail penutupan studionya. Namun unggahan sejumlah karyawan di LinkedIn dan laporan Kotaku telah memberikan gambaran yang cukup jelas tentang berakhirnya operasional studio yang berbasis di kawasan tersebut.
Penutupan Build A Rocket Boy menjadi pengingat bahwa di balik setiap peluncuran game besar, terdapat tim pengembang yang nasibnya sangat bergantung pada penerimaan pasar. Kasus MindsEye menunjukkan bahwa kombinasi masalah teknis, ekspektasi tinggi, dan rangkaian keputusan bisnis yang tidak berjalan sesuai rencana dapat berujung pada berakhirnya sebuah studio secara keseluruhan.





Komentar
Belum ada komentar.