Dari sisi Display & Design, keduanya berbagi panel AMOLED QHD+ dengan refresh rate 120Hz, touch sampling 480Hz, peak brightness 3500 nits, Dolby Vision, HDR10+, dan 3840Hz PWM dimming โ artinya secara kualitas panel, keduanya nyaris identik dan sudah sangat mumpuni untuk konsumsi HDR dan gaming. Perbedaan krusial ada di ukuran dan densitas: POCO X8 Pro memakai layar 6.59 inci dengan densitas 460 ppi (lebih tajam), sedangkan X8 Pro Max memakai 6.83 inci dengan 447 ppi. Secara praktis, X8 Pro lebih nyaman digenggam (204g, 157.5 x 75.2 x 8.2 mm) sementara Pro Max terasa 'tablet mini' (219g, 163 x 77.9 x 8.2 mm). Material juga berbeda: X8 Pro pakai glass + metal, sedangkan Pro Max pakai aluminium alloy + fiberglass yang terasa lebih premium dan tahan banting (klaim 180 drops vs 270 drops di X8 Pro โ menariknya X8 Pro justru lebih tahan drop di sertifikasi).
Di ranah Performance, perbedaannya bak langit dan bumi. POCO X8 Pro mengandalkan Dimensity 8500 Elite 4nm dengan AnTuTu total 1.982.033 (CPU 586.268, GPU 636.090), sedangkan X8 Pro Max memakai Dimensity 9500s 3nm TSMC N3E dengan AnTuTu total 2.635.919 (CPU 814.951, GPU 871.886). Selisih ~33% di total score, dan yang lebih penting: GPU Pro Max menembus 1 juta di SoC score (1.008.829) โ artinya gaming AAA mobile seperti Genshin Impact atau Wuthering Waves di setting tertinggi akan jauh lebih stabil di Pro Max. RAM 12GB vs 8GB juga menentukan seberapa banyak aplikasi bisa ditahan di background. Untuk pengguna yang sering berpindah antar aplikasi berat, Pro Max jelas lebih aman.
Baterai adalah alasan utama่ฎธๅคไบบ memilih Pro Max. Kapasitas 8500 mAh Si-Carbon dengan runtime ~80 jam mengalahkan 6500 mAh di X8 Pro (~66 jam) โ selisih ~21% lebih lama. Keduanya sama-sama fast charging 100W dan 1000 charge cycles, jadi tidak ada kompromi kecepatan. Sayangnya, tidak ada wireless charging di keduanya, yang di harga Rp 8 juta terasa seperti penghematan biaya yang agak menyebalkan. Efisiensi baterai X8 Pro Max juga sedikit lebih rendah (grade B vs A di satu parameter), tapi kapasitas jumbo menutupi itu.
Connectivity hampir sama, tapi Pro Max unggul di dua hal: WiFi 7 (802.11be) vs WiFi 6 di X8 Pro, dan dukungan eSIM. Untuk pasar Indonesia, eSIM memang belum terlalu krusial, tapi WiFi 7 adalah investasi jangka panjang โ router WiFi 7 sudah mulai turun harga di 2026. Keduanya sudah Bluetooth 6.0, NFC, IR blaster, dan navigasi GNSS lengkap (L1+L5). Tidak ada jack audio 3.5mm di keduanya โ maaf, era headphone kabel memang sudah tamat.
Software & Kamera: keduanya menjalankan Android 16 + HyperOS 3.X dengan 5 tahun update OS dan security โ komitmen yang sama dan tergolong excellent di kelas harga ini. Kamera utama identik secara spesifikasi: 50MP f/1.5 + OIS + Laser AF, dengan sensor berbeda (Sony IMX882 di X8 Pro vs Omnivision Light Fusion 600 di Pro Max). Secara hardware, keduanya setara; perbedaan hasil foto akan lebih ditentukan tuning software dan ISP dari chipset. Di sini Pro Max unggul karena Dimensity 9500s punya ISP lebih canggih, yang biasanya berdampak pada HDR, noise reduction, dan video 4K yang lebih stabil. Selfie 20MP f/2.2 dan ultrawide 8MP sama di keduanya โ tidak ada peningkatan berarti.
Kesimpulan: POCO X8 Pro Max adalah pemenang untuk pengguna yang menginginkan performa flagship-lite, baterai tahan lama, dan future-proofing (WiFi 7, eSIM, 12GB RAM) dengan budget Rp 8 juta. POCO X8 Pro tetap pilihan rasional bagi yang mengutamakan portabilitas, layar lebih tajam, dan hemat Rp 1.7 juta โ performanya sudah sangat cukup untuk 95% kebutuhan sehari-hari. Pilihlah Pro Max jika Anda gamer atau power user; pilih X8 Pro jika Anda ingin flagship experience dalam ukuran yang nyaman.
2.3M

POCO X8 Pro
Rp 6.299.000
Harga pasar
โกAntutu: 2.3M
๐พ8GB / 256GB
๐ท50 MP + 8 MP
๐ Pilihan Terbaik
3.1M

POCO X8 Pro Max
Rp 7.999.000
Harga pasar
โกAntutu: 3.1M
๐พ12GB / 256GB
๐ท50 MP + 8 MP
Kelebihan dan Kekurangan
POCO X8 Pro
โ
Kelebihan
- Layar AMOLED 6.59 inci QHD+ (1268 x 2756 px) dengan densitas 460 ppi โ lebih tajam dari Pro Max
- Refresh rate 120Hz LTPO + touch sampling 480Hz + peak brightness 3500 nits, sudah support Dolby Vision & HDR10+
- Bobot 204g dan dimensi 157.5 x 75.2 x 8.2 mm โ lebih ringkas dan ringan untuk penggunaan satu tangan
- Baterai 6500 mAh Si-Carbon dengan runtime ~66 jam, fast charging 100W
- Chipset Dimensity 8500 Elite 4nm dengan AnTuTu total ~1.982.033 โ sangat kencang di kelas menengah atas
- Harga Rp 6.299.000 โ selisih Rp 1.7 juta dari Pro Max dengan pengalaman flagship-lite
- IP68 + IP69, Bluetooth 6.0, NFC, IR blaster, dan 5 tahun update OS + security
- Kamera utama 50MP Sony IMX882 f/1.5 + OIS + Laser Autofocus
โ Kekurangan
- RAM 8GB LPDDR5X โ cukup, tapi terasa kurang untuk multitasking berat di 2026
- Baterai 6500 mAh kalah jauh dari 8500 mAh milik Pro Max (runtime ~66 jam vs ~80 jam)
- Chipset Dimensity 8500 Elite kalah ~33% di AnTuTu dibanding Dimensity 9500s
- Tidak ada eSIM โ hanya dual SIM fisik
- WiFi hanya sampai WiFi 6 (802.11ax), bukan WiFi 7
- Kamera wide-angle 8MP terasa 'seadanya' untuk harga 6 jutaan
- Material masih kombinasi glass + metal tanpa aluminium alloy seperti Pro Max
- Tidak ada jack audio 3.5mm dan tidak ada slot microSD
POCO X8 Pro Max
โ
Kelebihan
- Chipset Dimensity 9500s 3nm (TSMC N3E) dengan AnTuTu total ~2.635.919 โ 33% lebih tinggi dari X8 Pro
- SoC score AnTuTu 1.852.350 (CPU 843.521 + GPU 1.008.829) โ GPU tembus 1 juta, kelas flagship
- Baterai jumbo 8500 mAh Si-Carbon dengan runtime ~80 jam โ terbaik di kelasnya
- RAM 12GB โ lebih lega untuk multitasking dan gaming berat
- Layar 6.83 inci QHD+ 1280 x 2772 px, refresh rate 120Hz, peak brightness 3500 nits, Dolby Vision
- Sudah support WiFi 7 (802.11be) + eSIM + Bluetooth 6.0
- Material aluminium alloy + fiberglass โ lebih premium dari X8 Pro
- Fast charging 100W untuk baterai 8500 mAh โ kombinasi kapasitas + kecepatan yang solid
- IP68 + IP69, 5 tahun update OS + security
โ Kekurangan
- Bobot 219g dan dimensi 163 x 77.9 x 8.2 mm โ berat dan besar, kurang nyaman untuk satu tangan
- Densitas layar 447 ppi โ sedikit lebih rendah dari X8 Pro (460 ppi) karena layar lebih besar
- Harga Rp 7.999.000 โ Rp 1.7 juta lebih mahal, belum tentu worth untuk semua orang
- Kamera masih sama: 50MP + 8MP ultrawide + selfie 20MP โ tidak ada peningkatan hardware kamera signifikan
- Tidak ada jack audio 3.5mm dan tidak ada slot microSD
- Tidak ada wireless charging meski harga sudah 8 jutaan
- GPU Mali G1 Ultra 1612 MHz โ kencang, tapi bukan Adreno kelas atas untuk efisiensi gaming jangka panjang
Rekomendasi
POCO X8 Pro Max
Untuk selisih Rp 1.7 juta, POCO X8 Pro Max menawarkan lompatan performa yang signifikan: chipset Dimensity 9500s 3nm dengan AnTuTu 2.635.919 (33% lebih tinggi dari X8 Pro), RAM 12GB vs 8GB, baterai 8500 mAh vs 6500 mAh (runtime ~80 jam vs ~66 jam), WiFi 7, eSIM, dan material aluminium alloy. Kombinasi ini menjadikannya pilihan yang jauh lebih future-proof untuk 3-5 tahun ke depan, terutama bagi pengguna yang multitasking berat atau gaming. Namun, jika prioritas Anda adalah smartphone ringkas, ringan, dan hemat budget dengan performa yang sudah sangat memadai, POCO X8 Pro tetap pilihan cerdas โ Anda hanya 'kehilangan' sebagian performa dan kapasitas baterai, bukan fitur esensial.
Skor: 88/100


