📑 Daftar Isi

Volvo EX60 dengan nomor pesanan 50.000 unit di Eropa

Volvo EX60 Tembus 50.000 Order, Produksi Baru 5.000 Unit

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Volvo EX60 terima 50.000+ pesanan Eropa sejak produksi April 2026
  • Baru sekitar 5.000 unit dibangun akibat teknologi industri baru dan platform SPA3
  • Pengiriman ke AS tertunda, ketersediaan jangka pendek terbatas
  • Volvo rugi SEK -3,7 miliar di Q3 2026, margin operasional -5,6%
  • Restrukturisasi memangkas 2.500 pekerjaan, 2.000 di antaranya di Swedia
  • Inventaris lebih besar ke dealer AS dijadwalkan awal 2027

Telset.id – Volvo mengklaim EX60 telah menerima lebih dari 50.000 pesanan di Eropa sejak produksi dimulai April 2026, tetapi perusahaan baru membangun sekitar 5.000 unit hingga kini. Kesenjangan antara permintaan dan kapasitas produksi itu menjadi inti persoalan yang diakui Volvo dalam laporan kuartal ketiga 2026.

Angka tersebut disampaikan Volvo setelah mengumumkan kinerja keuangannya pada Jumat lalu. Produsen asal Swedia itu menyebut EX60 sebagai “a big success” di pasar Eropa, namun mengakui ramp-up produksi berjalan lebih lambat dari rencana. Penyebabnya adalah “new industrial technology”, termasuk desain baterai struktural cell-to-body pada EX60 dan perubahan manufaktur yang dibutuhkan untuk platform SPA3 yang baru.

Volvo menyatakan volume produksi terus membaik secara bertahap, tetapi tidak memberi angka target kapan kapasitas penuh tercapai. Keterbatasan ini membuat EX60 belum bisa dikirim ke sejumlah pasar sesuai jadwal awal, meski model tersebut sudah mulai dikirim ke konsumen Eropa pada musim panas 2026.

Volvo EX60 dengan nomor pesanan 50.000 unit

Pasar Amerika Serikat Terdampak Paling Keras

Dampak keterlambatan produksi paling terasa di Amerika Serikat. Volvo awalnya memperkirakan bisa menjual sekitar 7.000 unit EX60 di AS hingga akhir 2026, tetapi seorang dealer menyebut kepada Automotive News pekan lalu bahwa laju pengiriman hanya akan mencapai sebagian kecil dari target itu. Dalam catatan yang dikirim ke dealer pada akhir September, Volvo mengonfirmasi penundaan pengiriman ke pelanggan di AS.

Juru bicara perusahaan menegaskan ketersediaan EX60 akan “remain limited” dalam jangka pendek. Volvo baru memperkirakan bisa mendistribusikan inventaris dalam jumlah jauh lebih besar ke dealer pada awal 2027. Situasi ini terjadi di titik krusial, ketika Volvo berupaya menurunkan titik impas dan memperbaiki arus kas sebagai bagian dari rencana turnarounds.

Presiden dan CEO Volvo Car Håkan Samuelsson menyebut EX60 akan menjadi salah satu model paling menguntungkan dan pilar utama rencana kebangkitan perusahaan. Namun ia memperingatkan dampak finansialnya tidak akan terwujud sebelum volume produksi naik. “Kami terus beroperasi di lingkungan yang sangat sulit dengan tantangan eksternal yang kuat: de-globalisasi, hiperkompetisi, dan perubahan iklim,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Dalam jangka pendek, dengan volume yang sangat tertantang, kami perlu memperkuat rencana turnaround dengan aksi-aksi tegas tambahan.” Tekanan keuangan itu terlihat dari kinerja kuartal ketiga: Volvo mencatat kerugian SEK -3,7 miliar atau sekitar 373 juta dolar AS, dengan margin laba operasional turun ke -5,6%.

Restrukturisasi dan Taruhan pada Platform SPA3

Sebagai bagian dari restrukturisasi, Volvo memangkas sekitar 2.500 pekerjaan secara global, dengan 2.000 di antaranya berbasis di Swedia. Langkah ini berjalan bersamaan dengan upaya perusahaan menurunkan biaya produksi lewat platform SPA3, yang diharapkan memperbaiki margin laba dan mempercepat transisi ke kendaraan berbasis perangkat lunak.

Volvo juga menyiapkan dorongan produk terbesar dalam sejarahnya, mencakup 13 mobil baru hingga akhir 2030. Namun rencana itu bergantung pada kemampuan perusahaan mengubah pesanan menjadi unit yang benar-benar keluar dari lini produksi. Hingga kini, rasio 50.000 pesanan berbanding 5.000 unit menjadi ukuran nyata seberapa jauh jarak antara permintaan dan kapasitas pabrik.

Sebagai pembanding, Electrek mencatat BMW juga menikmati kesuksesan awal dengan kendaraan listrik generasi berikutnya. iX3 yang berbasis platform Neue Klasse menerima lebih dari 100.000 pesanan setelah mulai dijual pada Oktober 2025. BMW bahkan menambah shift ketiga di pabrik baru di Debrecen, Hungaria, hanya beberapa bulan setelah memperkenalkan shift kedua untuk menaikkan output.

Perbandingan itu menunjukkan masalah Volvo bukan pada daya tarik produk, melainkan pada eksekusi industri. Teknologi baterai cell-to-body dan platform SPA3 memang dirancang menekan biaya, tetapi justru keduanya yang disebut Volvo sebagai penyebab lambatnya ramp-up. Sementara itu, kapasitas produksi EX60 di Eropa menjadi prioritas, sejalan dengan laporan soal krisis produksi yang mendahulukan pasar Eropa.

Penundaan pengiriman Volvo EX60 di Amerika Serikat

Di sisi produk, EX60 sendiri sudah menunjukkan performa teknis yang menjadi salah satu daya tariknya. Model ini tercatat mencetak 352 mil atau lampaui range EPA sebesar 13 persen, angka yang memperkuat posisinya di segmen SUV listrik premium. Volvo juga menyiapkan pengembangan setir otonom bersama Nvidia, termasuk setir otonom Level 2 yang ditargetkan hadir pada 2030.

Dengan permintaan yang sudah terbukti di Eropa, persoalan Volvo kini murni pada kecepatan pabrik. Samuelsson menyebut EX60 sebagai salah satu model paling menguntungkan, tetapi tanpa volume yang memadai, dampaknya terhadap neraca keuangan belum bisa dihitung. Volvo sendiri berjanji volume akan terus membaik, tanpa menyebut angka pasti maupun tenggat yang mengikat.

Bagi pasar yang menunggu, termasuk Amerika Serikat, sinyal paling konkret adalah awal 2027. Sampai saat itu, ketersediaan EX60 akan tetap terbatas, dan jarak antara 50.000 pesanan dengan 5.000 unit yang sudah dibangun menjadi ukuran paling jujur seberapa berat tantangan industri yang dihadapi Volvo.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.