📑 Daftar Isi

Robot pengantar otonom Serve Robotics yang kini ditinggalkan Uber

Uber Jual Seluruh Saham Serve Robotics, Ponsel Robot Kurir Ditinggalkan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • Uber menjual seluruh sahamnya di Serve Robotics, perusahaan robot pengantar otonom
  • Serve Robotics berasal dari Postmates X, divisi robotika Postmates yang diakuisisi Uber senilai USD 2,65 miliar
  • Penjualan ini terjadi setelah Uber mengurangi kepemilikannya sejak 2025
  • Volume pengiriman melalui Uber turun pertama kali di Q2 setelah 17 kuartal pertumbuhan
  • CEO Serve Robotics Ali Kashani menyebut ada perbedaan pandangan tentang model operasional
  • Serve Robotics mencatat pertumbuhan hampir 50 persen dengan mitra pengiriman lain
  • Kemitraan Uber-Serve Robotics tidak akan diperpanjang saat berakhir awal 2027
  • Serve Robotics salah satu dari 30+ perusahaan AV yang Uber pernah investasi

Telset.id – Uber telah menjual seluruh sahamnya di Serve Robotics, perusahaan robot pengantar otonom yang sempat menjadi bagian dari perusahaan ride-hailing tersebut lebih dari lima tahun lalu. Penjualan ini terungkap dalam pengajuan regulasi yang pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg, menandai perubahan besar dalam hubungan kedua perusahaan yang sebelumnya erat.

Keputusan Uber untuk keluar dari Serve Robotics sebenarnya sudah berlangsung setidaknya selama satu tahun terakhir. Pengajuan regulasi menunjukkan bahwa Uber telah mengurangi kepemilikannya di perusahaan tersebut sepanjang tahun 2025. Namun, penjualan total ini tetap mengejutkan pihak Serve Robotics, yang baru mengetahui kabar tersebut setelah pengumuman resmi dirilis, menurut sumber yang mengetahui kejadian tersebut.

Divestasi ini terjadi di tengah mulai berbedanya arah bisnis kedua perusahaan yang dulunya memiliki hubungan dekat. Serve Robotics sendiri berawal dari Postmates X, divisi robotika dari startup pengiriman on-demand Postmates yang diakuisisi Uber pada tahun 2020 dengan nilai mencapai USD 2,65 miliar.

Setahun kemudian, divisi tersebut dipisahkan menjadi perusahaan independen bernama Serve Robotics, nama yang diambil dari robot pengantar trotoar otonom yang dikembangkan dan diuji coba oleh Postmates X. Uber tidak hanya menjadi pendukung finansial, tetapi juga menjalin kemitraan dengan perusahaan robot pengantar trotoar tersebut pada tahun 2022.

Kemitraan yang Mulai Merenggang

Kemitraan antara Uber dan Serve Robotics sempat diperluas pada Mei 2023. Kedua perusahaan sepakat untuk menempatkan hingga 2.000 robot trotoar Serve ke dalam aplikasi Uber di berbagai pasar di Amerika Serikat. Namun, di balik perluasan kemitraan tersebut, tanda-tanda keretakan mulai muncul.

Ali Kashani, salah satu pendiri sekaligus CEO Serve Robotics, mengungkapkan bahwa volume pengiriman melalui Uber mengalami penurunan untuk pertama kalinya pada kuartal kedua. Sebelumnya, dari kuartal pertama 2022 hingga kuartal pertama tahun ini, volume pengiriman melalui Uber tumbuh selama 17 kuartal berturut-turut.

“Dari kuartal pertama 2022 hingga kuartal pertama tahun ini, volume pengiriman melalui Uber tumbuh selama 17 kuartal berturut-turut. Pada Q2, tren itu berbalik untuk pertama kalinya. Hal ini disebabkan oleh utilisasi robot yang lebih rendah dari perkiraan,” ujar Kashani dalam panggilan pendapatan kuartal kedua perusahaan pekan lalu.

Kashani juga menyampaikan pada panggilan 6 Agustus bahwa kedua perusahaan memiliki “pandangan berbeda” tentang model operasional untuk mengembangkan armada otonom bersama, termasuk dalam hal koordinasi armada dan integrasi merchant. Perbedaan pandangan ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong Uber untuk melepas seluruh sahamnya.

Menariknya, pada periode yang sama, Serve Robotics justru mencatat pertumbuhan pengiriman dengan mitra pengiriman makanan lain yang hampir mencapai 50 persen dalam satu kuartal. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa meskipun kemitraan dengan Uber melambat, bisnis Serve Robotics tetap memiliki prospek di jalur lain.

Akibat dari berbagai dinamika tersebut, Serve tidak lagi berharap akan memperpanjang perjanjian kemitraan dengan Uber ketika masa berlakunya berakhir pada awal tahun 2027. Kashani mengungkapkan pandangan ini pada saat panggilan pendapatan kuartal kedua, sebelum Uber resmi menjual seluruh sahamnya.

Keputusan Uber untuk keluar dari Serve Robotics juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kolaborasi teknologi otonom di industri ini. Serve Robotics merupakan salah satu dari lebih dari 30 perusahaan teknologi kendaraan otonom yang pernah diajak bekerja sama atau menerima investasi dari Uber dalam beberapa tahun terakhir.

Keputusan Uber ini juga berpotensi memengaruhi lanskap persaingan di sektor pengiriman otonom. Dengan keluarnya Uber dari Serve Robotics, perusahaan tersebut kini harus berdiri sendiri sepenuhnya tanpa dukungan dari raksasa ride-hailing yang selama ini menjadi salah satu pendukung utamanya.

Bagi Serve Robotics, pelepasan saham oleh Uber ini menjadi momentum untuk menentukan arah bisnis secara mandiri. Pertumbuhan pengiriman yang hampir mencapai 50 persen dengan mitra lain menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kapabilitas untuk berkembang tanpa bergantung pada Uber.

Di sisi lain, Uber tampaknya akan lebih fokus pada pengembangan kemitraan dengan perusahaan teknologi otonom lainnya. Langkah ini sejalan dengan strategi Uber yang selama ini terus menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan di sektor kendaraan otonom, baik melalui kemitraan maupun investasi.

Dampak dan Implikasi bagi Industri

Keluarnya Uber dari Serve Robotics menandai perubahan signifikan dalam dinamika kemitraan di industri robot pengiriman otonom. Kedua perusahaan yang dulunya memiliki hubungan erat kini harus menempuh jalannya masing-masing dalam mengembangkan teknologi dan model bisnisnya.

Bagi Uber, langkah ini memungkinkan perusahaan untuk mengalokasikan sumber daya ke area bisnis yang lebih prioritas. Sementara bagi Serve Robotics, pelepasan saham ini justru bisa menjadi kesempatan untuk menjalin kemitraan baru dengan berbagai mitra potensial lainnya.

Perkembangan ini juga menjadi catatan penting bagi pelaku industri teknologi otonom bahwa kemitraan strategis tidak selalu bersifat permanen. Perbedaan pandangan tentang model operasional dan prioritas bisnis dapat mengubah arah kolaborasi yang sebelumnya dianggap solid.

Serve Robotics sendiri kini harus membuktikan bahwa perusahaan mampu beroperasi secara mandiri dan tetap kompetitif di pasar pengiriman otonom. Pertumbuhan pengiriman dengan mitra lain yang mencapai hampir 50 persen dalam satu kuartal menjadi modal berharga bagi perusahaan untuk melanjutkan ekspansi bisnisnya.

Sementara itu, Uber belum memberikan komentar resmi terkait penjualan seluruh sahamnya di Serve Robotics. Perusahaan tidak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan lebih lanjut mengenai keputusan strategis tersebut.

Ke depannya, industri pengiriman otonom akan terus berkembang dengan berbagai dinamika kemitraan dan persaingan. Keputusan Uber untuk melepas sahamnya di Serve Robotics menjadi salah satu contoh bagaimana perusahaan besar terus mengevaluasi portofolio investasi dan kemitraan strategisnya.

Bagi para pengamat industri, perkembangan ini juga menjadi indikator bahwa model kemitraan di sektor teknologi otonom masih terus mencari bentuk yang paling ideal. Baik Uber maupun Serve Robotics kini harus beradaptasi dengan perubahan ini dan menentukan strategi terbaik untuk pertumbuhan bisnis masing-masing.

Dengan berakhirnya hubungan kepemilikan ini, kedua perusahaan kini memiliki kebebasan untuk menjalin kemitraan baru atau mengembangkan inisiatif sendiri di bidang pengiriman otonom. Keputusan strategis masing-masing perusahaan dalam beberapa waktu ke depan akan menentukan posisi mereka di pasar yang semakin kompetitif ini.

Perlu dicatat bahwa keputusan Uber untuk menjual seluruh sahamnya di Serve Robotics tidak terjadi secara tiba-tiba. Berbagai sinyal telah muncul sebelumnya, termasuk penurunan volume pengiriman dan perbedaan pandangan tentang model operasional yang disampaikan dalam panggilan pendapatan kuartal kedua.

Bagi Serve Robotics, tantangan terbesar kini adalah bagaimana mempertahankan pertumbuhan dan kepercayaan mitra tanpa dukungan dari Uber. Keberhasilan perusahaan dalam menjalin kemitraan dengan mitra pengiriman makanan lain yang tumbuh hampir 50 persen menjadi sinyal positif bagi masa depan perusahaan.

Di sisi lain, Uber masih memiliki portofolio investasi dan kemitraan yang luas di sektor kendaraan otonom. Dengan lebih dari 30 perusahaan teknologi kendaraan otonom yang pernah diajak bekerja sama atau menerima investasi, Uber memiliki banyak opsi untuk mengembangkan strategi di bidang ini.

Keputusan Uber untuk melepas sahamnya di Serve Robotics juga menunjukkan bahwa perusahaan terus melakukan evaluasi terhadap setiap investasi dan kemitraannya. Langkah ini sejalan dengan fokus Uber untuk mengembangkan bisnis inti dan area yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan lebih besar.

Sementara itu, Serve Robotics harus segera menyesuaikan strategi bisnisnya dengan kondisi baru ini. Perusahaan perlu memastikan bahwa kemitraan yang ada tetap berjalan lancar dan mencari peluang baru untuk mengembangkan bisnis robot pengiriman otonomnya.

Perkembangan di sektor pengiriman otonom ini tentu menarik untuk terus diikuti, terutama bagi mereka yang berkecimpung di industri teknologi dan logistik. Keputusan strategis dari pemain besar seperti Uber akan selalu menjadi indikator penting arah perkembangan industri ini.

Bagi perusahaan teknologi otonom lainnya, kasus ini menjadi pelajaran berharga bahwa kemitraan dengan perusahaan besar tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan visi dan model operasional dapat menjadi faktor pemisah yang signifikan dalam hubungan kemitraan.

Ke depannya, industri pengiriman otonom akan semakin kompetitif dengan banyaknya pemain yang mencoba mengembangkan teknologi dan model bisnisnya. Kemampuan untuk beradaptasi dan menjalin kemitraan yang tepat akan menjadi kunci keberhasilan di industri ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.