📑 Daftar Isi

Grafik perbandingan penjualan mobil bensin versus mobil listrik di China

Penjualan Mobil Bensin China Anjlok 44%, BEV Justru Naik 6%

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Penjualan mobil bensin (ICE) di China anjlok 44% pada Juli 2026 dibandingkan tahun lalu
  • Penjualan BEV naik 6%, menjadi satu-satunya jenis kendaraan yang tumbuh
  • PHEV turun 21,1%, EREV turun 16,5%, hybrid konvensional turun 4%
  • Pasar mobil China keseluruhan turun 3,9% di Juli, dan 12,5% kumulatif 7 bulan pertama 2026
  • NEV mencapai rekor pangsa pasar ritel 65,1% di China
  • Ekspor NEV China naik 147,8% year-over-year, mencakup 58,8% total ekspor kendaraan
  • China menjadi eksportir mobil terbesar dunia sejak 2024

Telset.id – Pasar otomotif China kembali menunjukkan tren yang kontras pada Juli 2026. Data penjualan mengungkapkan bahwa mobil listrik baterai murni (BEV) menjadi satu-satunya jenis kendaraan yang mencatat pertumbuhan, sementara penjualan mobil bermesin bensin mengalami penurunan drastis hingga 44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara keseluruhan, pasar mobil China pada Juli 2026 mengalami penurunan tipis sebesar 3,9%. Namun, angka ini menyembunyikan perbedaan besar di baliknya. Sementara penjualan BEV naik 6% year-over-year, hampir semua jenis kendaraan lain justru mengalami penurunan signifikan. Fenomena ini kerap dilaporkan sebagai “penyusutan pasar otomotif China”, namun analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa yang sebenarnya turun adalah penjualan kendaraan bermesin pembakaran, bukan kendaraan listrik.

Definisi NEV yang Membuat Angka Terkesan Menyesatkan

Keunikan angka ini berasal dari cara China mendefinisikan kendaraan listrik. China menetapkan semua kendaraan plug-in sebagai “NEV” (New Energy Vehicles), yang mencakup BEV, plug-in hybrid (PHEV), dan extended-range electric vehicles (EREV). Namun, definisi ini tidak mencakup hybrid konvensional yang tidak bisa diisi daya dan sepenuhnya bergantung pada bensin.

Akibatnya, meskipun penjualan NEV secara keseluruhan tercatat turun, penurunan tersebut sebenarnya disebabkan oleh merosotnya penjualan PHEV. Sementara itu, BEV justru menunjukkan pertumbuhan yang solid. Data lengkap penjualan Juli 2026 dibandingkan Juli 2025 adalah sebagai berikut:

  • Penjualan mobil keseluruhan: turun 3,9%
  • BEV: naik 6%
  • PHEV: turun 21,1%
  • EREV: turun 16,5%
  • NEV (BEV + PHEV + EREV): turun 3,9%
  • Hybrid konvensional: turun 4%
  • Kendaraan murni bermesin bensin (ICE): turun 44%

Perbandingan penjualan mobil bensin dan listrik di China

Secara kumulatif, penjualan mobil China sepanjang tujuh bulan pertama 2026 turun 12,5%. Pola yang terbentuk sangat jelas: semua kendaraan dengan mesin bensin mengalami penurunan, sementara satu-satunya jenis penggerak yang tidak memiliki mesin justru naik. Meskipun NEV secara keseluruhan turun, semua jenis kendaraan lain turun lebih dalam, yang menghasilkan pangsa pasar ritel rekor sebesar 65,1% untuk NEV di China.

Kondisi ini sejalan dengan keputusan Chevrolet hentikan penjualan mobil baru di China, sebuah sinyal bahwa produsen internasional mulai menarik diri dari pasar yang semakin didominasi kendaraan listrik.

Pemulihan Permintaan BEV Setelah Pergantian Insentif

Awal tahun 2026 diwarnai laporan tentang penurunan penjualan BEV di China. Hal ini memang terjadi pada beberapa bulan pertama, terutama karena China mengubah program insentif kendaraan listriknya pada akhir 2025, yang menyebabkan penurunan permintaan sementara. Namun, arah permintaan berubah sejak Maret 2026, dan data Juli menunjukkan pemulihan yang solid.

Fenomena ini mengingatkan pada efek Osborne, di mana konsumen menunda pembelian karena menunggu teknologi atau model baru. Dengan pangsa pasar yang telah menembus 65%, titik kritis 50% yang sering disebut sebagai momentum perubahan tampaknya telah terlampaui jauh.

Ekspor NEV China Melonjak Hampir 150%

China terbukti tahan terhadap lonjakan harga minyak global berkat cadangan minyak strategis yang tinggi dan harga bensin yang dikendalikan pemerintah. Namun, negara tersebut tampaknya mulai menyadari bahwa ketergantungan pada komoditas yang tidak stabil adalah keputusan yang buruk. Pesan ini tidak hanya sampai ke China, tetapi juga ke seluruh dunia.

Penjualan EV secara global sedang melonjak, dan pabrikan China siap memasok kendaraan yang dibutuhkan pasar internasional. Pada Juli 2026, ekspor NEV China naik 147,8% year-over-year, dengan NEV mencakup 58,8% dari total ekspor kendaraan China. China menjadi eksportir mobil terbesar dunia pada 2024 setelah puluhan tahun didominasi Jepang dan Jerman, dan posisi ini tampaknya akan bertahan seiring meningkatnya permintaan EV global.

Menariknya, pasar China juga menjadi ajang persaingan ketat di segmen EV premium. Avatr 07L meluncur dengan penggerak tri-motor berkekuatan 955 HP, menunjukkan bagaimana pabrikan lokal terus berinovasi untuk mempertahankan dominasi di pasar domestik. Sementara itu, regulator China menuding blogger melakukan evaluasi produk palsu terkait baterai BYD, menegaskan pengawasan ketat terhadap industri yang menjadi tulang punggung transisi energi negara tersebut.

Implikasi dari tren ini sangat jelas: masa depan pasar otomotif China—dan dunia—berada pada kendaraan listrik. Produsen yang masih bertahan dengan mesin pembakaran akan terus kehilangan pangsa pasar, sementara mereka yang beralih ke elektrifikasi akan menuai hasilnya. China telah membuktikan bahwa transisi energi di sektor transportasi bukan sekadar wacana, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung dengan angka yang sulit dibantah.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.