Telset.id – Toyota resmi membatalkan produksi Lexus LF-ZC, sedan listrik flagship yang sempat dijadwalkan meluncur pada 2026. Meski model tersebut batal diproduksi, teknologi canggih yang dikembangkan untuknya, termasuk platform baru, baterai performa tinggi, dan metode manufaktur gigacasting, sudah siap digunakan. Wakil Presiden Eksekutif Toyota, Hiroki Nakajima, mengonfirmasi bahwa perusahaan tengah mengerjakan kendaraan pengganti.
Keputusan ini diumumkan Nakajima kepada Nikkei dan media Jepang lainnya pada Selasa lalu. “Kami telah menghentikan pengembangan Lexus LF-ZC,” ujarnya. Alasan utama pembatalan adalah mahalnya biaya cetakan dan peralatan produksi yang dibutuhkan untuk membuat mobil listrik flagship tersebut.
Meskipun sedan listrik itu batal meluncur, Nakajima menegaskan bahwa berbagai teknologi baru yang dikembangkan untuk LF-ZC tetap akan digunakan. “Namun, banyak teknologi baru yang digarap selama pengembangan LF-ZC, seperti Gigacast, platform elektronik dan elektrikal baru untuk sistem bantuan pengemudi canggih (ADAS), serta miniaturisasi dan pengurangan bobot, sudah selesai,” jelas Nakajima. Toyota kini berencana mengaplikasikan teknologi tersebut pada model yang berbeda. “Kami memutuskan untuk mengembangkan kendaraan penerus,” tambahnya.
Baca Juga:
Konsep Lexus LF-ZC pertama kali diperkenalkan di Japan Mobility Show 2023. Saat itu, Toyota memamerkan berbagai teknologi baru yang rencananya akan digunakan pada model produksi. Perusahaan menargetkan produksi massal pada 2026, namun kemudian mundur menjadi pertengahan 2027.
Salah satu teknologi andalan LF-ZC adalah baterai prismatik performa tinggi. Toyota mengklaim baterai ini mampu memberikan jarak tempuh dua kali lipat lebih jauh dibandingkan baterai lithium-ion tradisional, ditambah kemampuan pengisian daya yang jauh lebih cepat. Teknologi baterai ini menjadi fokus utama pengembangan.
Selain baterai, Toyota juga mengembangkan metode manufaktur baru seperti gigacasting dan jalur perakitan self-propelled. Kedua metode ini dirancang untuk memangkas biaya produksi dan meningkatkan efisiensi pabrik. Gigacasting sendiri memungkinkan pencetakan komponen bodi dalam satu bagian besar, mengurangi jumlah komponen dan waktu perakitan.

Toyota juga mengembangkan Intelligent Cockpit yang terdigitalisasi, ditenagai oleh platform perangkat lunak Arene OS. Sistem ini mencakup pendamping AI yang dapat memberikan navigasi dan rekomendasi personal berdasarkan kebiasaan pengemudi. Fitur ini diharapkan dapat membawa pengalaman berkendara ke level berikutnya.
Pembatalan Lexus LF-ZC merupakan pukulan bagi target ambisius Lexus untuk menjual 1 juta kendaraan listrik pada 2030. Pada 2035, Lexus sebelumnya menargetkan untuk sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik. Kini, dengan batalnya model flagship tersebut, target itu tampak semakin sulit tercapai.
Keputusan Toyota untuk membatalkan LF-ZC dan alihkan fokus ke SUV menunjukkan pergeseran strategi di tengah persaingan ketat pasar kendaraan listrik global. Sementara Toyota masih berhati-hati, produsen asal China seperti BYD terus menggenjot ekspansi. CEO BYD, Wang Chuanfu, baru-baru ini menyatakan perusahaannya akan mengalahkan Toyota menjadi produsen mobil nomor satu dunia dalam skala produksi dalam lima tahun ke depan.

Meskipun LF-ZC batal, teknologi yang sudah dikembangkan tetap menjadi aset berharga. Toyota dipastikan akan menggunakan teknologi tersebut pada model baru yang sedang digarap. Pertanyaannya, kapan model pengganti itu akan hadir? Mengingat seringnya Toyota menunda atau membatalkan rencana EV besar, teknologi ini mungkin baru akan digunakan mendekati 2030 atau lebih lambat.
Untuk pasar Indonesia, strategi Toyota dalam pengembangan kendaraan listrik patut dicermati. Perusahaan telah menunjukkan komitmen melalui produksi baterai hybrid di Indonesia bersama CATL. Namun, kejelasan mengenai kapan teknologi EV murni akan masuk ke Indonesia masih belum pasti.





Komentar
Belum ada komentar.