📑 Daftar Isi

Toyota bangun EV Lexus baru di pabrik Shanghai China

Toyota Bangun EV Lexus di China, Bukan Jepang

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Toyota akan memproduksi SUV listrik Lexus di pabrik baru Shanghai, China, bukan di Jepang
  • Produksi dimulai musim gugur 2027 dengan kapasitas awal 1.000 unit per bulan
  • Target produksi meningkat ke "puluhan ribu" unit pada 2028
  • Menggunakan teknologi gigacasting untuk memangkas biaya dan mempercepat produksi
  • China mencakup 60% penjualan EV global 2025, 100x lipat pasar Jepang
  • Penjualan Toyota China turun 18% hingga Juli, di bawah 810.000 unit
  • Toyota batalkan rencana kembangkan flagship Lexus EV di Jepang

Telset.id – Toyota dilaporkan akan membangun kendaraan listrik (EV) baru di China sebelum Jepang, pasar domestiknya yang selama ini menjadi basis utama pengembangan dan produksi. EV baru tersebut akan berupa SUV di bawah merek Lexus, menandai perubahan strategi signifikan bagi raksasa otomotif Jepang ini di tengah persaingan ketat pasar EV global.

Menurut laporan Nikkei, produksi akan dimulai di pabrik manufaktur baru Lexus di Shanghai pada musim gugur tahun depan. Toyota memulai pembangunan fasilitas tersebut pada Juni 2025, dengan klaim bahwa pabrik ini akan memungkinkan apa yang mereka sebut sebagai “Lexus speed” untuk mengimbangi produsen domestik seperti BYD. Konstruksi ditargetkan selesai bulan ini, dengan kendaraan pertama dijadwalkan meluncur dari jalur produksi pada 2027.

Toyota-new-EV-China-first

Produksi awal akan berjalan sekitar 1.000 kendaraan per bulan tahun depan, sebelum Toyota meningkatkan output menjadi “puluhan ribu” unit pada 2028. Lexus EV baru ini akan dibuat menggunakan metode manufaktur canggih, termasuk gigacasting, untuk memangkas biaya dan mempercepat proses produksi.

Strategi China First Toyota

Keputusan ini menempatkan Toyota dalam daftar produsen OEM warisan yang semakin panjang yang sudah mengembangkan dan memproduksi kendaraan di China lebih dulu, atau berencana melakukannya dalam waktu dekat. China adalah pasar EV terbesar dengan selisih jauh, mencakup sekitar 60% penjualan global pada 2025, atau sekitar 100 kali lipat pasar Jepang menurut data GlobalData.

Laporan ini muncul setelah Toyota membatalkan rencana sebelumnya tahun ini untuk mengembangkan flagship Lexus EV generasi berikutnya di Jepang dengan metode produksi serupa. Di pasar luar negeri seperti AS dan Jepang, Toyota tetap berpegang pada strategi “multi-pathway” yang fokus pada kendaraan hybrid dan bensin yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

Namun di China, situasinya berbeda total. Produsen mobil warisan dipaksa beradaptasi atau berisiko tertinggal, dan Toyota tidak terkecuali. China adalah pasar terbesar ketiga Toyota, setelah AS dan Jepang.

Toyota-new-EV-China-first

Toyota, seperti semua produsen mobil, menghadapi gelombang kendaraan domestik murah di China. Hingga Juli, Toyota menjual di bawah 810.000 kendaraan di China, turun 18% dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Mengapa China Menjadi Prioritas?

Toyota sebenarnya sudah membangun beberapa kendaraan listrik di China, seperti SUV bZ3X. Namun produk-produk tersebut dibuat melalui usaha patungan dengan GAC dan FAW milik China. Mengembangkan Lexus EV SUV baru di China lebih dulu daripada Jepang menjadi langkah penting mengingat sejarah Toyota yang selama ini berpegang pada tradisi.

Toyota biasanya membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima tahun untuk mengembangkan kendaraan baru secara penuh, sementara di China produsen mobil kini membangunnya hanya dalam waktu dua tahun. Produsen mobil warisan seperti Toyota semakin banyak memanfaatkan China untuk teknologi canggih, baterai, metode produksi, dan komponen EV lainnya seiring upaya mereka mengimbangi pergeseran industri menuju elektrifikasi.

Pergeseran ini membuat sebagian besar produsen mobil warisan terkejut di China, dan kini hal yang sama terjadi di pasar luar negeri. Sementara Toyota beralih ke China, CEO BYD Wang Chuanfu meyakini perusahaannya akan menyalip Toyota dalam penjualan global dalam lima tahun ke depan.

Langkah Toyota ini juga sejalan dengan perkembangan model EV lain di lini produknya. Sebelumnya, harga C-HR EV 2027 telah resmi diumumkan dengan kenaikan dari tahun lalu, menunjukkan ekspansi portofolio EV Toyota secara bertahap. Di sisi lain, Toyota recall 508 ribu Camry Hybrid karena layar dashboard blank, menjadi pengingat bahwa transisi ke teknologi baru tidak selalu mulus.

Keputusan Toyota untuk memprioritaskan China dalam pengembangan EV Lexus menunjukkan perubahan nyata dalam strategi global perusahaan. Dengan memanfaatkan ekosistem EV China yang sudah matang, Toyota berharap dapat mempercepat waktu pengembangan dan menekan biaya produksi melalui teknologi seperti gigacasting.

Pabrik Shanghai yang baru ini menjadi simbol komitmen Toyota terhadap pasar China, sekaligus pengakuan bahwa lanskap industri otomotif telah berubah. Produsen yang dulunya mendikte pasar kini harus belajar dari kompetitor lokal yang lebih gesit dalam menghadirkan EV dengan harga kompetitif.

Bagi konsumen, langkah ini bisa berarti hadirnya Lexus EV dengan harga lebih terjangkau dan teknologi lebih segar, mengingat metode produksi yang lebih efisien. Namun yang jelas, keputusan ini menandai babak baru bagi Toyota dalam navigasinya di era elektrifikasi global.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.