Telset.id – Elon Musk kembali membuat janji soal kemampuan Full Self-Driving (FSD) Tesla untuk menghindari lubang di jalan. Melalui unggahan di Twitter pada Minggu malam, Musk menyebut fitur tersebut “coming soon” atau segera hadir. Namun, janji ini terasa familier karena janji serupa sudah diucapkan tujuh tahun lalu dan belum pernah direalisasikan.
Unggahan Musk tersebut merupakan respons atas keluhan seorang pengguna Twitter yang ingin mobilnya bisa menghindari lubang. Musk menjawab dengan singkat, “coming soon”. Jawaban ini sontak memicu kegembiraan di kalangan penggemar Tesla. Bahkan, ada klaim bahwa pengumuman ini ikut mendorong kenaikan harga saham TSLA sekitar 5 persen pada hari itu.
Padahal, jika ditelusuri sejarahnya, janji ini bukanlah hal baru. Pada 2019, kami di Electrek pernah melaporkan kemampuan Tesla untuk menghindari lubang di jalan. Saat itu, seorang penggemar juga bertanya kepada Musk di Twitter dan mendapat jawaban bahwa fitur tersebut akan segera hadir. Namun, hingga tahun 2026 ini, fitur tersebut belum juga muncul di dalam sistem FSD.
Masalah Lubang Jalan dan Keterbatasan FSD
Lubang di jalan merupakan masalah persisten di jalanan Amerika Serikat. Infrastruktur yang menua akibat kurangnya investasi pemerintah menjadi penyebab utamanya. Kondisi ini diperparah oleh upaya kontroversial Musk membentuk dewan penasihat pengeluaran pemerintah yang justru dinilai membuang-buang uang yang seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan publik.
Dampak lubang jalan tidak bisa dianggap sepele. Lubang dapat memperpendek umur ban, menyebabkan kerusakan velg yang mahal, bahkan memicu kecelakaan. Bagi pemilik Tesla, masalah ini menjadi lebih rumit karena sistem FSD yang berbasis visi murni ternyata kesulitan mendeteksi dan merespons lubang di jalan.
Padahal, sistem visi Tesla seharusnya mampu mengenali lubang seperti halnya manusia yang menggunakan mata untuk melihatnya. Sayangnya, dalam praktiknya, FSD terbukti tidak mampu—atau setidaknya tidak tertarik—untuk berpindah jalur atau bahkan bergeser di dalam jalurnya sendiri demi menghindari lubang. Ini menjadi kelemahan yang cukup mencolok, terutama jika dibandingkan dengan kemampuan sistem lain di pasaran.

Perbandingan dengan Kompetitor
Kendati memiliki kelemahan dalam menghindari lubang, Tesla sebenarnya menunjukkan progres di area lain. Dalam uji coba nyata berskala besar di China tahun lalu, sistem bantuan pengemudi Tesla berhasil keluar sebagai yang terbaik dibandingkan pabrikan lain. Namun, hasil itu tidak lepas dari berbagai kesalahan aneh yang masih sering terjadi.
Selain itu, Tesla juga mengoperasikan layanan “Robotaxi” yang telah menempuh mil otonom penuh tanpa pengemudi di dalam kendaraan. Meski begitu, sistem ini masih sangat terbatas dan kualitasnya diakui kalah dari kompetitor utamanya, Waymo. Bahkan Tesla sendiri menyadari hal ini, meskipun Musk tampaknya enggan mengakuinya.
Perbandingan dengan Waymo memang menarik untuk disimak. Waymo beberapa kali mengkritik pendekatan Tesla dalam mengembangkan teknologi otonom. Mereka bahkan menyebut upaya Tesla mencapai otonomi penuh sebagai false summit atau puncak palsu, sebuah istilah yang menggambarkan pencapaian yang tampak seperti puncak padahal masih jauh dari tujuan akhir.
Baca Juga:
Data Besar, Hasil Kecil
Yang membuat situasi ini semakin ironis adalah klaim Tesla sebagai perusahaan terbaik di dunia dalam bidang “physical AI”. Dengan lebih dari sepuluh miliar mil data pelatihan yang dimiliki, seharusnya tidak sulit bagi Tesla untuk menemukan pola yang membedakan lubang di jalan dan menentukan tindakan yang tepat. Apalagi, Tesla sudah memindai jalan khusus untuk mendeteksi lubang selama bertahun-tahun.
Namun, kenyataannya, di tahun 2026 ini FSD masih belum bisa menghindari lubang. Ini menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara klaim dan realisasi. Pola yang sama juga terlihat dari berbagai prediksi Musk tentang self-driving yang kerap meleset dari tenggat waktu. Bahkan, ada halaman Wikipedia khusus yang mendokumentasikan daftar panjang prediksi yang tidak terwujud tersebut.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa Tesla telah menunjukkan perbaikan perangkat lunak yang signifikan dari waktu ke waktu. Pada 2013, saat prediksi pertama Musk dibuat, Tesla sama sekali belum bisa mengemudi secara otonom. Demo pertama Autopilot baru terjadi pada 2014. Kini, perangkat lunak tersebut sudah bisa menavigasi sebagian besar jalan dengan cukup baik, baik di jalan tol maupun jalan perkotaan, bahkan bisa masuk ke slot parkir saat mencapai tujuan.

Peluncuran Cybercab dan Pertanyaan yang Menggantung
Konteks ini menjadi semakin penting mengingat dalam waktu dekat Tesla akan meluncurkan Cybercab. Kendaraan ini dirancang sebagai robotaxi yang sepenuhnya otonom namun terbatas pada area tertentu (geofenced) dan tanpa setir. Cybercab akan dioperasikan di jalan raya tanpa pengemudi, dan mungkin juga tanpa kemampuan untuk menghindari bahaya jalan yang umum seperti lubang.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah. Bahkan dalam prediksi Musk yang sangat optimistis bahwa AI akan menjadi superhuman dalam semua tugas digital pada “akhir tahun depan”, prediksi tersebut mungkin tidak mencakup tugas fisik seperti menentukan apa yang harus dilakukan dengan velg yang bengkok setelah menghantam lubang dengan kecepatan penuh.
Melihat pola yang ada, pertanyaan besarnya adalah apakah “segera” dalam konteks kali ini berarti dua hari, bukan tujuh tahun seperti janji sebelumnya. Mengingat peluncuran Cybercab yang semakin dekat, harapan terbaik bagi Tesla adalah agar fitur penghindaran lubang ini benar-benar hadir dalam waktu dekat, bukan sekadar janji manis yang terus berulang.
Untuk pengguna Tesla yang tinggal di daerah dengan banyak lubang, fitur ini tentu sangat dinantikan. Namun, mengingat sejarah janji yang tak kunjung ditepati, sikap skeptis mungkin lebih bijak daripada terlalu optimistis. Sambil menunggu kejelasan, pemilik Tesla sebaiknya tetap waspada dan tidak sepenuhnya mengandalkan FSD untuk menghindari bahaya di jalan. Seperti yang pernah dipamerkan sebagian pemilik yang tidur saat FSD aktif, risiko tetap mengintai ketika teknologi belum sempurna.
Di sisi lain, kompetisi di pasar kendaraan listrik semakin ketat. Pemain lain seperti Toyota juga mulai meramaikan segmen ini dengan strategi harga yang agresif. Bahkan ada kabar bahwa Toyota bZ5 2027 turun harga hingga separuh dari Tesla Model Y. Ini menunjukkan bahwa tekanan kompetitif tidak hanya datang dari sisi teknologi, tetapi juga dari sisi harga.

Pada akhirnya, janji “coming soon” dari Musk kali ini adalah pengulangan dari pola yang sudah sering terjadi. Progres pengembangan FSD memang nyata, tetapi kesenjangan antara janji dan realisasi tetap menjadi catatan besar. Apakah kali ini berbeda? Hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, pengguna Tesla di daerah rawan lubang tidak bisa berharap banyak dari janji yang sudah tujuh tahun menggantung.





Komentar
Belum ada komentar.