📑 Daftar Isi

Ilustrasi kendaraan Cybertruck Tesla yang batal dirilis di Australia dan Selandia Baru

Tesla Setop Cybertruck di Australia dan Selandia Baru, Deposit Dikembalikan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Tesla hentikan rencana rilis Cybertruck di Australia dan Selandia Baru
  • Deposit pelanggan dikembalikan dalam 30 hari setelah email konfirmasi
  • Pemesan baru Model 3 atau Model Y dapat akses FSD gratis setahun
  • Pabrik Texas tidak dikonfigurasi untuk produksi setir kanan
  • Cybertruck juga tak bisa legal di Inggris, Jepang, dan Irlandia
  • Bodi baja bertepi tajam disebut langgar standar keselamatan Eropa

Telset.id – Tesla memastikan tidak akan lagi merilis Cybertruck di Australia dan Selandia Baru. Keputusan ini disampaikan langsung kepada pelanggan yang sudah melakukan reservasi kendaraan tersebut sejak tujuh tahun lalu, dan seluruh deposit akan dikembalikan dalam waktu 30 hari setelah pelanggan menerima email konfirmasi data diri mereka.

Dalam email yang dikirimkan pabrikan asal Amerika Serikat itu, Tesla menyebut bahwa “rencana untuk memproduksi Cybertruck” bagi kedua negara tersebut “telah dihentikan”. Karena tidak lagi dapat memenuhi pesanan di wilayah itu, Tesla mengambil langkah pengembalian dana sebagai bentuk tanggung jawab kepada para pemesan. Keputusan ini menutup penantian panjang bagi pelanggan yang telah menyetor deposit sejak masa awal pengumuman Cybertruck.

Sebagai kompensasi tambahan, Tesla menawarkan akses gratis selama satu tahun ke fitur Full Self-Driving (Supervised) bagi pelanggan yang kemudian memesan Model 3 atau Model Y. Penawaran ini menjadi opsi bagi mereka yang tetap ingin beralih ke lini kendaraan listrik Tesla lainnya setelah Cybertruck dipastikan tidak hadir di pasar Australia dan Selandia Baru.

Kendala Setir Kanan Jadi Penyebab Utama

Mengutip laporan Drive Australia, ketersediaan Cybertruck di Negeri Kanguru memang telah menjadi tanda tanya selama bertahun-tahun. Pada 2023, saat Tesla mulai mengirimkan kendaraan tersebut kepada pembeli awal, sumber publikasi itu menyebut bahwa pabrik Tesla di Texas tidak dikonfigurasi untuk memproduksi Cybertruck dalam versi setir kanan.

Tanpa versi setir kanan, Cybertruck tidak dapat digunakan secara legal di jalan raya, tidak hanya di Australia dan Selandia Baru, tetapi juga di Inggris, Jepang, dan Irlandia. Ketiadaan varian setir kanan ini menjadi hambatan struktural yang membuat distribusi Cybertruck ke sejumlah pasar tidak dapat direalisasikan.

A silver vehicle

Perlu dicatat, Tesla juga belum secara resmi merilis Cybertruck di Inggris dan Uni Eropa. Kendaraan tersebut bahkan belum menerima persetujuan regulasi dalam bentuk apa pun dari pejabat Eropa. Sejumlah pihak meyakini model ini tidak akan disetujui di Eropa karena regulasi terkait crumple zones, keselamatan pejalan kaki, pencahayaan, dan klasifikasi bobot.

Standar Keselamatan Eropa Jadi Penghalang

Badan Bea Cukai Angkatan Darat Amerika Serikat dalam sebuah notifikasi menyatakan bahwa beberapa spesifikasi Cybertruck, terutama bodi baja tahan karat yang kaku dan bertepi tajam, melanggar standar keselamatan Uni Eropa. Pelanggaran tersebut utamanya berkaitan dengan perlindungan pengguna jalan yang rentan.

Bahkan Angkatan Darat Amerika Serikat tidak dapat mengimpor kendaraan ini ke wilayah Eropa. Kendati demikian, jika ada Cybertruck yang terlihat di Eropa, hal itu terjadi karena pelanggan mampu memperoleh persetujuan kendaraan tunggal dengan melakukan modifikasi yang cukup banyak.

Di sisi lain, Tesla tengah menghadapi dinamika bisnis yang lebih luas. Perusahaan dilaporkan menunda sejumlah inisiatif, termasuk FSD dan Optimus, sementara lini inovasi pengisian daya EV terus dilanjutkan. Kinerja keuangan perusahaan juga menjadi sorotan, dengan laba operasi anjlok pada periode kuartal ketiga 2026.

Pada saat yang sama, Tesla terus mengembangkan teknologi pendukung kendaraan otonomnya. Perusahaan dikabarkan membangun peta sendiri untuk memperbaiki performa Full Self-Driving, sebuah langkah yang menarik perhatian karena sebelumnya perusahaan mengandalkan pendekatan visi murni. Langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan perangkat lunak otonom tetap menjadi prioritas meski ekspansi produk ke sejumlah pasar harus dikoreksi.

Selain itu, Tesla juga tengah bersiap menjual Cybercab ke pelanggan sebelum akhir 2026, sementara produksi massal Optimus telah dimulai meski software masih jadi kendala. Berbagai langkah ini memperlihatkan bahwa portofolio Tesla bergerak ke arah yang lebih luas dari sekadar kendaraan penumpang konvensional.

Keputusan menghentikan Cybertruck di Australia dan Selandia Baru menjadi penegasan bahwa ketersediaan produk Tesla di suatu pasar sangat bergantung pada kesiapan produksi dan kesesuaian regulasi setempat. Bagi pelanggan yang telah menanti sejak reservasi awal, pengembalian deposit dan penawaran akses Full Self-Driving menjadi jalan keluar yang disediakan Tesla, sementara Cybertruck sendiri tetap tidak akan hadir di jalanan kedua negara tersebut.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.