Telset.id ā Subaru resmi mengambil jalur berbeda dari Toyota dalam pengembangan kendaraan listrik generasi berikutnya. Pabrikan asal Jepang itu memamerkan teknologi EV in-house pertamanya di sirkuit pengujian di utara Tokyo pada 18 Oktober, menandai upaya melepaskan diri dari ketergantungan pada platform Toyota yang selama ini menopang lini elektriknya. Langkah ini menjadi sinyal bahwa Subaru ingin menentukan sendiri karakter kendaraan listriknya, bukan sekadar mengadaptasi basis yang dipakai bersama.
Selama beberapa tahun terakhir, ekspansi jajaran EV Subaru memang banyak ditopang Toyota. Kemitraan keduanya sejak 2024 dirancang untuk berbagi biaya pengembangan dan ruang produksi, menghasilkan model seperti Solterra yang berbagi basis dengan Toyota bZ4X, lalu berlanjut ke Trailseeker, Uncharted, dan Getaway. Kolaborasi itu mempercepat perluasan portofolio listrik Subaru, tetapi juga membuat produknya tampak sangat mirip dengan Toyota. Kini Subaru ingin lebih banyak kendali atas apa yang datang setelahnya.
Namun perlu dicatat, tidak ada indikasi Subaru akan mengakhiri kemitraan dengan Toyota. Yang berubah adalah arah pengembangan generasi EV berikutnya, di mana Subaru membangun platform, baterai, motor, dan elektroniknya sendiri. Sejumlah teknologi baru diperkirakan mulai masuk produksi sekitar 2029, meski Subaru belum mengonfirmasi model maupun tanggal peluncuran pastinya.
Prototipe 510 HP dengan Platform EV Pertama Subaru
Subaru memamerkan prototipe berupa test mule berkamuflase yang memakai bodi Outback. Kendaraan ini mengusung powertrain all-wheel-drive dengan tenaga gabungan 509 hingga 510 horsepower, tergantung keterangan yang beredar, dan mampu berakselerasi dari 0 ke 100 km/jam dalam waktu di bawah empat detik. Angka tenaga yang disebut berbeda tipis antar laporan, yaitu 509 HP (380 kW) pada satu keterangan dan 510 HP pada keterangan lain.
Prototipe ini adalah alat pengembangan, bukan konfirmasi bahwa EV produksi berikutnya akan berbentuk atau berspesifikasi sama. Subaru menegaskan desainnya belum final dan bisa berubah untuk versi produksi. Meski begitu, prototipe tersebut memberi gambaran jelas soal arah teknis yang dikejar Subaru.
Teknologi baru mencakup platform EV khusus pertama Subaru, baterai anyar, motor listrik, serta unit kontrol terintegrasi yang mendukung pembaruan over-the-air. Komponennya diklaim lebih ringan, lebih kecil, dan lebih efisien dibanding yang dipakai EV Subaru saat ini. Arsitektur baru ini menargetkan pengurangan bobot hingga 100 kilogram (220 pon) dibanding EV yang diproduksi sekarang.
Untuk urusan penggerak, Subaru tetap menggandeng spesialis luar. E-axle prototipe dikembangkan bersama Aisin Group, pemasok dari grup Toyota, sementara paket baterai berasal dari Panasonic Energy. Kedua kolaborasi itu tercatat sudah berjalan sejak 2024. Bagi Subaru, pengembangan kendaraan in-house tidak berarti memproduksi seluruh komponen sendiri, melainkan menggandeng mitra yang tepat.
Baterai Lebih Ringan dan Motor 30% Lebih Efisien
Paket baterai prototipe berisi 4.000 sel silinder dari Panasonic Energy. Subaru menyebut bobotnya berkurang 24% hingga 25% dibanding paket sebelumnya, dengan target kepadatan energi 20% lebih tinggi dari rata-rata industri. Sayangnya, kapasitas baterai, jarak tempuh, dan performa pengisian belum diungkap.
Di sisi motor, para engineer Subaru mengklaim peningkatan efisiensi 30% dibanding rata-rata industri, meski benchmark yang dipakai tidak dijelaskan secara rinci. Klaim ini belum bisa diterjemahkan langsung menjadi keunggulan jangkauan yang berarti. Struktur depan juga dirancang ulang untuk melindungi penumpang dan baterai saat tabrakan, dengan penopang melengkung di atas roda depan untuk mendistribusikan gaya benturan, sementara motor depan dibuat bisa berputar saat benturan guna membantu meredam energi.
Dari sisi rasa berkendara, seorang pengulas dalam video LOVECARS!TV! menggambarkan prototipe ini memiliki antusiasme berbelok ala BRZ berpadu traksi all-wheel-drive, serta terasa mantap di tikungan. Ia juga melaporkan suspensi depan double-wishbone dan belakang five-link. Namun uji coba hanya dua lap dengan pembatasan kecepatan, jadi ini baru kesan awal, bukan penilaian menyeluruh.
Baca Juga:
Soal software dan elektronik, Subaru mengembangkan unit kontrol elektronik terintegrasi untuk mengelola bantuan pengemudi, sasis, powertrain, dan infotainment. Unit ini memakai chip khusus yang dikembangkan bersama AMD dan akan mendukung fungsi AI pada versi mendatang dari suite bantuan pengemudi EyeSight. Sistem ini juga memungkinkan pembaruan over-the-air, pertama kalinya bagi kendaraan yang dikembangkan sendiri oleh Subaru. Subaru berencana memproduksi unit kontrol itu sendiri dan memakainya di seluruh lini untuk menekan biaya.
Kecepatan pengembangan menjadi prioritas lain. Subaru mengklaim mampu menciptakan teknologi prototipe ini dalam waktu sekitar setengah dari biasanya, sebagai upaya mengejar kompetitor asal China. Metode pengembangan serupa diyakini bisa mempercepat pengerjaan kendaraan bensin dan hybrid di masa depan.
Ambisi Subaru cukup besar. Pada paruh pertama dekade 2030-an, mereka menargetkan pengiriman 1,2 juta kendaraan per tahun, melampaui rekor 1,1 juta unit pada 2018. Sepanjang 2025, Subaru menjual sekitar 924.000 kendaraan di seluruh dunia, jauh di bawah Toyota yang menembus 11 juta unit. Target itu akan ditopang 10 model baru yang direncanakan meluncur hingga periode tersebut. Tantangan pembiayaan pun nyata, mengingat skala Subaru jauh lebih kecil dibanding raksasa industri.
Menariknya, prototipe ini juga dikaitkan dengan Subaru Performance-E STI Concept yang tampil di Japan Mobility Show 2025. Presenter dalam video menyebut prototipe tersebut sebagai kendaraan pengembangan bagi perangkat keras di balik konsep itu, memberi sinyal teknologi ini bisa berlanjut ke model selain crossover keluarga. Namun itu masih spekulasi, karena Subaru belum mengonfirmasi platform ini akan mendasari versi produksi konsep tersebut atau memakai badge STI maupun WRX.
Yang jelas, Subaru sedang berusaha mengembalikan identitasnya di era listrik. Selama puluhan tahun, mereka meyakinkan konsumen lewat reputasi rekayasa mekanis, keselamatan kelas atas, dan identitas merek yang lekat dengan gaya hidup outdoor. Kini tantangannya adalah membuat semua itu tetap relevan, meski tanpa mesin boxer di bawah kap mesin. Langkah ini juga menjadi ujian bagi strategi EV Subaru yang selama ini menuntut biaya besar, sementara kompetisi dari pemain China dan Tesla semakin ketat.
[ META_DESCRIPTION]
Subaru kembangkan platform EV sendiri dan lepas dari ketergantungan Toyota. Prototipe 510 HP, baterai Panasonic, dan teknologi 2029 jadi sinyal kemandirian.





Komentar
Belum ada komentar.