📑 Daftar Isi

Ilustrasi drone otonom Meteoric terbang di atas panel surya untuk menghilangkan awan

Startup Cambridge Kembangkan Drone untuk Hilangkan Awan di Atas Panel Surya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Meteoric, startup dari University of Cambridge yang didukung Y Combinator, kembangkan drone otonom untuk menghilangkan awan di atas panel surya
  • Drone terbang di awan rendah-menengah (1-5 km) dan mengubah butiran air secara mekanis tanpa bahan kimia
  • Klaim dapat meningkatkan pembangkitan listrik tahunan 10-30% senilai $5.000-28.000/MW
  • Biaya operasional drone listrik hanya $30-60 per jam, jauh lebih murah dari pesawat konvensional yang mencapai $2.000 per jam
  • Prototipe berhasil menghilangkan awan buatan sebesar 13% dalam uji ruang awan
  • Organisasi Meteorologi Dunia meragukan klaim modifikasi cuaca skala besar untuk badai
  • Target utama: operator pembangkit listrik tenaga surya yang ingin memaksimalkan produksi

Telset.id – Meteoric, sebuah startup yang didirikan oleh dua insinyur dari University of Cambridge dan didukung oleh Y Combinator, berencana membangun drone yang akan terbang secara otonom di dalam awan berketinggian rendah dan menengah di dekat pembangkit listrik tenaga surya. Drone tersebut dirancang untuk menghilangkan awan dan membantu menjaga produksi listrik tetap dalam kondisi optimal.

Menurut Mete Karslioglu, CEO Meteoric, drone-drone ini akan mengubah butiran air di dalam awan yang menutupi pembangkit listrik tenaga surya secara mekanis. Proses ini mengurangi reflektivitas awan dan meningkatkan jumlah sinar matahari yang mencapai panel di bawahnya. Inovasi ini menjadi sorotan karena menawarkan solusi baru untuk masalah terbesar energi surya, yaitu fluktuasi output akibat cuaca dan siklus siang-malam.

“Awan mendung rendah dan menengah memotong sinar matahari yang masuk sebesar 73-82% saat berada di atas kepala. Kami memulihkannya tanpa membangun infrastruktur baru,” tulis Karslioglu dalam unggahan Y Combinator mereka. “Armada 10-100 drone otonom yang terbang ke awan rendah dan menengah (1-5 km) di atas pembangkit listrik tenaga surya serta mengubah butiran air yang membentuknya tanpa menggunakan bahan kimia apa pun. Ini mengurangi reflektivitasnya dan mengembalikan sinar matahari dalam jumlah terukur ke panel di bawahnya.”

Startup ini mengklaim model kehilangan awan mereka menunjukkan bahwa proses ini dapat meningkatkan pembangkitan tahunan dari aset yang ada sebesar 10-30% di wilayah jaringan listrik utama AS. Nilainya diperkirakan mencapai $5.000-28.000/MW tanpa membangun infrastruktur baru. Karslioglu juga menambahkan, “Tujuan utama kami adalah mengurangi intensitas badai dan angin topan yang parah.”

clouds behind some solar panels

Metode dan Biaya Operasional

Meskipun belum jelas metode apa yang akan digunakan startup ini untuk membantu menghilangkan awan, Meteoric mengklaim telah memiliki prototipe yang berhasil menghilangkan awan buatan sebesar 13% dalam uji ruang awan. Teknik untuk menghilangkan kabut dan awan rendah sebenarnya sudah ada, seperti menyebarkan karbon dioksida padat atau cair di dalamnya agar butiran air mengambang tumbuh lebih besar dan mendorongnya jatuh dari langit. Ada juga metode pencampuran mekanis, seperti menerbangkan helikopter melalui udara jenuh untuk mencampurnya dengan udara lebih kering sehingga uap air lebih mudah menguap.

Namun, Meteoric menyatakan bahwa metode-metode ini mahal, dengan biaya operasional pesawat mencapai $2.000 per jam atau lebih. Sebaliknya, drone listrik mereka hanya membutuhkan biaya $30 hingga $60 per jam, membuat operasionalnya jauh lebih murah. Efisiensi biaya ini menjadi daya tarik utama bagi operator pembangkit listrik tenaga surya yang ingin memaksimalkan produksi.

How Meteoric's drones work

Pendekatan Unik di Tengah Kompetisi

Pendekatan Meteoric ini terbilang unik di tengah upaya berbagai institusi, baik startup maupun raksasa teknologi, untuk memecahkan masalah yang sama. Sebagai contoh, Reflect Orbital mengusulkan peluncuran cermin orbital untuk memantulkan sinar matahari di berbagai area guna memperpanjang siang hari. Sementara itu, Meta berencana menempatkan satelit pengumpul surya di orbit geosinkron dan kemudian memancarkan sinar matahari ke kolektor di tanah.

Premis startup ini tampak menjanjikan untuk aplikasi lokal, seperti pengembangan pembangkit listrik tenaga surya. Namun, impiannya untuk meningkatkan skala hingga berdampak pada badai dan angin topan menimbulkan pertanyaan. Organisasi Meteorologi Dunia menyatakan bahwa jumlah energi yang terlibat dalam sistem cuaca sangat besar sehingga mustahil untuk mengubah atau menghilangkan fenomena cuaca ekstrem.

“Teknologi modifikasi cuaca yang mengklaim mencapai efek berskala besar atau dramatis tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat dan harus diperlakukan dengan kecurigaan,” kata kelompok tersebut. Ada juga kekhawatiran bahwa memodifikasi kondisi cuaca, bahkan secara lokal, mungkin memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan pada ekosistem setempat.

Dampak bagi Industri Energi Surya

Meskipun ada kekhawatiran tersebut, rencana Meteoric untuk meningkatkan output surya dengan memotong tutupan awan mungkin menarik bagi operator pembangkit listrik tenaga surya yang ingin memaksimalkan produksi pabrik mereka. Dengan biaya operasional yang jauh lebih rendah dibandingkan metode konvensional, drone listrik ini menawarkan alternatif yang lebih ekonomis.

Inovasi seperti ini menunjukkan bagaimana pendekatan lintas disiplin dapat menghadirkan solusi baru di sektor energi terbarukan. Seperti halnya startup lain yang mengembangkan teknologi mutakhir, Meteoric mencoba menjawab tantangan nyata di lapangan dengan cara yang belum pernah dicoba sebelumnya. Keberhasilan uji coba prototipe yang menghilangkan awan buatan sebesar 13% menjadi bukti awal bahwa konsep ini layak dikembangkan lebih lanjut.

Bagi industri energi surya yang terus mencari cara meningkatkan efisiensi, teknologi drone penghilang awan ini bisa menjadi salah satu opsi yang patut dipertimbangkan. Namun, validasi ilmiah lebih lanjut dan uji coba di lapangan masih diperlukan untuk membuktikan efektivitasnya dalam skala yang lebih besar.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.