Robot humanoid Tiangong Ultra dan Honor's Lightning berlari kencang di World Humanoid Robot Games Beijing

Robot China Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt di World Humanoid Robot Games

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Tiangong Ultra mencatat waktu 9,39 detik di lari 100 meter World Humanoid Robot Games Beijing
  • Honor's Lightning finis kedua dengan 9,47 detik, keduanya lebih cepat dari rekor Usain Bolt 9,58 detik
  • Robot berlari otonom dengan dua kaki, kecepatan rata-rata Tiangong Ultra 38,34 kph
  • Peningkatan drastis dari 21,50 detik tahun lalu menjadi 9,39 detik hanya dalam satu tahun
  • Robot masih kesulitan menghentikan laju setelah finis, menabrak bantalan busa
  • Ajang diikuti 2.056 robot dari 666 tim dan 16 negara, total 52 kompetisi
  • Robot kemungkinan tidak akan tersedia di AS karena larangan FCC terhadap robot buatan luar negeri

Telset.id – Dua robot humanoid asal China berhasil memecahkan rekor dunia lari 100 meter yang sebelumnya dipegang oleh sprinter legendaris Usain Bolt. Tiangong Ultra tercatat finis dengan waktu 9,39 detik, sementara Honor’s Lightning menyusul di posisi kedua dengan catatan 9,47 detik pada ajang World Humanoid Robot Games di Beijing.

Kedua waktu tersebut masing-masing lebih cepat 0,19 dan 0,11 detik dibandingkan rekor Usain Bolt yang bertahan sejak 2009. Rekor 9,58 detik yang diukir pelari asal Jamaika itu terjadi di Kejuaraan Atletik Dunia di Berlin, Jerman. Dengan catatan tersebut, Tiangong Ultra melesat dengan kecepatan rata-rata 23,83 mph atau 38,34 kph, sedikit lebih cepat dari Bolt yang mencatat 23,35 mph atau 37,58 kph.

Pencapaian ini menjadi sorotan karena kedua robot tersebut berlari secara otonom dengan dua kaki. Bentuk robot bipedal memang jauh lebih menantang untuk dikembangkan dibandingkan mesin beroda empat atau berkaki empat. Meski begitu, tim pengembang berhasil meningkatkan performa robot mereka secara signifikan dalam waktu singkat.

the Honor Lightning running at the 2026 World Humanoid Robot Games

Kontekstualisasi pencapaian ini menjadi menarik ketika melihat progres tahun lalu. Tiangong Ultra sebenarnya juga memenangkan lomba lari 100 meter pada edisi sebelumnya, tetapi dengan waktu yang jauh lebih lambat yakni 21,50 detik. Sebagai perbandingan, Donald Lippincott mencatat rekor dunia lari 100 meter pertama pada 1912 dengan waktu 10,6 detik di Olimpiade Stockholm.

Artinya, robot-robot ini hanya butuh satu tahun untuk memangkas waktu mereka lebih dari 12 detik. Sementara itu, manusia membutuhkan hampir 100 tahun untuk memperbaiki rekor dunia hanya sekitar satu detik lebih cepat.

Meskipun kecepatannya mengesankan, dengan Lightning yang dilaporkan mencapai waktu tidak resmi 9,32 detik saat latihan, kedua robot tersebut masih belum memiliki kehalusan gerakan seperti pelari manusia. Beberapa meter setelah melewati garis finis, kedua robot langsung menghantam bantalan busa. Tiangong Ultra yang menang mengarahkan dirinya ke kanan keluar dari bingkai kamera, sementara Lightning kehilangan kendali dan akhirnya jatuh ke sisi kiri.

Robot ketiga yang tertinggal beberapa detik di belakang mencoba memperlambat laju dengan meluncur ke depan sebelum akhirnya menabrak bantalan besar. Para pengembang tampaknya masih perlu mengajari robot-robot ini cara mengakhiri perlombaan dengan anggun.

Selain lomba lari 100 meter, ajang yang berlangsung selama lima hari ini juga mempertandingkan 51 kompetisi lainnya. Berbagai cabang yang dipertandingkan meliputi tinju, sepak bola, dansa, hingga kontes tugas industri. Berdasarkan laporan Reuters, sebanyak 2.056 robot dari 666 tim telah terdaftar dalam ajang tersebut, dengan perwakilan dari 16 negara di seluruh dunia.

Kehadiran robot-robot ini dalam berbagai kompetisi menunjukkan bahwa teknologi humanoid semakin matang. Meskipun mungkin belum siap untuk penerapan skala besar di sektor industri, komersial, maupun rumah tangga, ajang seperti ini membuktikan bahwa robot humanoid mulai mampu melakukan berbagai macam tugas.

Namun demikian, dua robot tercepat dalam ajang ini kemungkinan besar tidak akan tersedia di Amerika Serikat. Hal ini terkait dengan larangan FCC terhadap robot buatan luar negeri. Regulasi tersebut menjadi hambatan bagi distribusi teknologi robotik asal China di pasar AS.

Perkembangan pesat dalam bidang robotika ini sejalan dengan tren global yang semakin fokus pada pengembangan robot humanoid. Berbagai perusahaan teknologi besar juga terus berinovasi di bidang ini, menunjukkan bahwa kompetisi pengembangan robot humanoid akan semakin ketat di masa mendatang.

Kecepatan lari yang dicapai Tiangong Ultra dan Honor’s Lightning menjadi bukti nyata kemajuan teknologi robotika dalam setahun terakhir. Jika tren percepatan ini berlanjut, bukan tidak mungkin robot humanoid akan semakin mendekati kemampuan fisik manusia dalam berbagai aspek.

Ajang World Humanoid Robot Games yang diselenggarakan setiap tahun sejak tahun lalu ini menjadi barometer perkembangan teknologi robot humanoid global. Partisipasi dari 16 negara menunjukkan bahwa kompetisi ini telah menjadi ajang internasional yang signifikan bagi para pengembang robot.

Meski robot-robot ini belum sepenuhnya sempurna dalam hal keseimbangan dan kontrol setelah berlari cepat, pencapaian mereka tetap layak diapresiasi. Kemampuan berlari otonom dengan dua kaki dalam kecepatan tinggi merupakan tantangan teknis yang kompleks, dan kedua tim pengembang berhasil mengatasinya dengan baik.

Ke depannya, pengembangan lebih lanjut tentu diperlukan untuk meningkatkan stabilitas dan kontrol robot saat berlari dengan kecepatan tinggi. Namun, pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam evolusi robot humanoid yang terus berkembang pesat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.