📑 Daftar Isi

Aplikasi Spotify in-car native tampil di layar infotainment mobil Audi

Spotify Rilis Aplikasi In-Car Native, Audi Jadi Pelopor

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Spotify meluncurkan aplikasi in-car native pertama, hadir perdana di Audi
  • Antarmuka 100 persen milik Spotify, lepas dari batasan desain Google
  • Fitur lirik di layar penumpang, sesi mendengarkan bersama via QR, dan perintah "Hey Audi"
  • Tersedia di AS untuk A6 e-tron, Q6 e-tron, A5, Q5, A6 model 2026
  • Ekspansi ke 47 pasar dunia, lebih banyak pabrikan menyusul

Telset.id – Spotify meluncurkan aplikasi streaming musik in-car native pertamanya yang dibangun sepenuhnya oleh perusahaan asal Swedia tersebut, dan Audi menjadi pabrikan otomotif pertama yang mendapatkannya. Aplikasi ini menandai lepasnya Spotify dari batasan desain yang sebelumnya ditetapkan Google pada sistem infotainment berbasis Android Automotive. Peluncuran ini menyasar model elektrik Audi A6 e-tron dan Q6 e-tron, serta model pembakaran A5, Q5, dan A6 tahun produksi 2026 ke atas, dan telah tersedia di Amerika Serikat sebelum diperluas ke 47 pasar dunia.

Perbedaan mendasar terletak pada pendekatan antarmuka. Versi sebelumnya dari aplikasi Spotify di Android Automotive berjalan sebagai headless setup, di mana Spotify hanya bertanggung jawab atas data, playlist, dan katalog musik, sementara pedoman Google menetapkan aturan ketat soal tampilan antarmuka. Kini, aplikasi baru bersifat headful, artinya Spotify bebas mengatur antarmuka pengguna dan menggambar piksel di layar mobil sesuai keinginannya.

“Kami menggambar semua pikselnya,” kata Jonathan Tarlton, Automotive Business Development Lead di Spotify, dalam wawancara yang dikutip The Verge. “Kami memiliki pengalaman pengguna. Jadi kami tidak berada dalam template atau framework. Ini 100 persen Spotify.” Pernyataan itu menegaskan posisi Spotify yang kini memegang kendali penuh atas lapisan visual aplikasinya di dalam kabin kendaraan.

Fitur Baru yang Memanfaatkan Layar Mobil

Kebebasan desain tersebut memungkinkan Spotify menghadirkan fitur-fitur yang memanfaatkan konfigurasi layar mobil modern. Pada kendaraan yang memiliki layar penumpang, Spotify dapat menampilkan lirik musik. Penumpang depan dapat memindai kode QR untuk bergabung dalam sesi mendengarkan bersama dan menambahkan lagu ke antrean yang sama. Layar tengah juga dapat menampilkan video dan lirik, tetapi begitu mobil mulai bergerak, fitur-fitur tersebut dibatasi dan hanya audio yang terus diputar.

Perintah suara juga tertanam langsung dalam aplikasi. Spotify mengklaim aplikasi barunya terhubung langsung ke asisten suara bawaan kendaraan. Pada kendaraan Audi, pengemudi dapat menggunakan perintah “Hey Audi” untuk mengelola pemutaran tanpa menggunakan tangan. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana Spotify mencoba menyatu dengan ekosistem kendaraan alih-alih sekadar menempel sebagai aplikasi pihak ketiga.

Untuk mendapatkan aplikasi Spotify in-car baru ini, pemilik Audi dapat menginstal atau memperbaruinya langsung dari Audi Application Store di sistem infotainment mobil. Sebuah ponsel diperlukan untuk menyelesaikan proses masuk dengan memindai kode QR di layar, tetapi setelah langkah itu selesai, pengalaman di dalam mobil terpisah dari perangkat pribadi pengguna.

Ekspansi ke 47 Pasar dan Masa Depan Proyeksi Ponsel

Meski meluncurkan aplikasi native, Spotify tidak meninggalkan sistem proyeksi ponsel seperti Apple CarPlay dan Android Auto. Perusahaan menyatakan masih “sangat berinvestasi” pada proyeksi ponsel, tetapi ingin menawarkan pilihan kepada pengguna. “Kami ingin berada di mana pun mereka berada, dan kami ingin memastikan bahwa mereka mengakses Spotify dengan cara yang mereka inginkan, apakah mereka terkunci dalam ekosistem iOS atau Android di ponsel juga,” kata Tarlton kepada The Verge.

Audi menyatakan aplikasi baru ini akan diluncurkan di 47 pasar di seluruh dunia, termasuk Eropa, Amerika Utara dan Selatan, Asia, Afrika, dan Australia. Peluncuran ini disebut sebagai awal, dan lebih banyak pabrikan mobil diperkirakan akan bergabung di masa depan. Audi menjadi pabrikan pertama yang mengirimkan aplikasi Spotify baru, tetapi Spotify tampaknya menyiapkan model kemitraan serupa dengan merek lain.

Langkah Spotify ini juga dapat dibaca dalam konteks persaingan platform hiburan di dalam kendaraan yang semakin ketat. Perusahaan terus memperluas cara pengguna mengakses layanannya, termasuk melalui inisiatif seperti Fitur Audiobook yang juga digarap pesaing. Di sisi lain, ketergantungan pada infrastruktur cloud juga menjadi catatan, seperti terlihat saat Google Cloud Down yang ikut memengaruhi layanan Spotify. Sementara itu, bagi pengguna desktop, ada alternatif ringan lewat Aplikasi Desktop Spotify yang hemat RAM.

Dengan aplikasi in-car native ini, Spotify memindahkan medan persaingan dari sekadar katalog musik ke lapisan pengalaman di dalam kabin. Keputusan Audi sebagai pelopor mengirimkan aplikasi ini menunjukkan bahwa pabrikan mobil semakin membuka ruang bagi pengembang pihak ketiga untuk mengendalikan antarmuka, sesuatu yang sebelumnya dibatasi oleh kerangka desain Google. Bagi Spotify, ini adalah langkah untuk memastikan kehadirannya tidak bergantung sepenuhnya pada proyeksi ponsel atau template pihak lain.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.