Ilustrasi robot humanoid di atas catwalk pameran IFA 2026 di Berlin

Robot Rumah Humanoid Tidak Praktis, Robot Brain Jadi Solusi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Tren robot humanoid untuk rumah tangga meningkat di CES dan IFA 2026, tetapi dianggap tidak praktis
  • Robot humanoid tidak cocok untuk lingkungan rumah yang tidak terstruktur dan berbahaya bagi penghuni
  • Konsep "robot brain" atau pengendali rumah AI diusulkan sebagai solusi lebih cerdas
  • Robot brain mengorkestrasi perangkat otonom yang sudah ada seperti robot vacuum dan mesin cuci
  • Tuya meluncurkan Doova, robot pendamping AI untuk lansia di IFA 2026 tanpa lengan namun fungsional
  • LG CLOiD dikembangkan dengan lengan 7 derajat kebebasan dan sedang dilatih di pabrik data Seoul
  • LG menargetkan 100.000 jam data pelatihan untuk model fondasi robotikanya menggunakan Nvidia Cosmos
  • Masa depan robotika rumah adalah tim mesin robotik yang dikoordinasikan oleh robot brain

Telset.id – Tren robot humanoid untuk rumah tangga semakin masif, namun pendekatan ini dinilai tidak praktis untuk lingkungan rumah yang penuh ketidakpastian. Sebaliknya, konsep ā€œrobot brainā€ atau pengendali rumah berbasis AI yang mengorkestrasi perangkat otonom yang sudah ada dinilai sebagai jalan yang lebih cerdas. Gagasan ini mengemuka di tengah pameran IFA 2026 di Berlin yang menampilkan berbagai robot humanoid.

Seorang pengulas teknologi yang telah bertahun-tahun menguji berbagai robot rumah mengungkapkan bahwa robot humanoid seukuran manusia, dengan bobot mencapai 170 pon, justru berpotensi menimbulkan bahaya di rumah. Berbeda dengan pabrik yang lingkungannya terstruktur, rumah adalah area yang berantakan dan tidak dapat diprediksi. Keberadaan tangga juga menjadi masalah besar yang belum terpecahkan oleh robot humanoid.

Pengalaman langsung di ajang CES menunjukkan keterbatasan robot humanoid. Sang pengulas menantang setiap robot humanoid untuk membuka botol deterjen, dan tidak satu pun berhasil melakukannya. Robot-robot tersebut hanya bisa menjawab bahwa mereka perlu belajar terlebih dahulu. Hal ini menegaskan bahwa teknologi saat ini belum mampu menghasilkan robot serba bisa yang andal untuk tugas rumah tangga.

Konsep yang lebih masuk akal adalah ā€œrobot brainā€, sebuah pengendali rumah pintar bertenaga AI yang dapat mengoordinasikan perangkat otonom yang sudah dimiliki. Alih-alih satu mesin mahal yang mencoba melakukan segalanya, bayangkan rumah pintar yang secara proaktif mengatur dirinya sendiri. Robot vacuum dapat dikirim saat hewan peliharaan menumpahkan makanannya, mesin cuci dapat dinyalakan saat tarif listrik murah, atau mesin pemotong rumput diaktifkan saat pinggiran rumput perlu dirapikan.

Saat ini, rumah pintar umumnya berbasis perintah atau rutinitas yang membutuhkan pemicu. Sebuah ā€œrobot brainā€ dapat menjalankan rumah secara otonom dan menggunakan penalaran untuk beradaptasi ketika ketidakpastian muncul. Visi ini tampaknya menjadi dasar dari Samsung Ballie yang tidak pernah diluncurkan, serta LG CLOiD yang humanoid dan terlihat lebih menjanjikan. Ini juga merupakan visi jangka panjang dari asisten virtual seperti Amazon Alexa Plus dan Google Gemini for Home.

Di ajang IFA 2026, Tuya, penyedia platform cloud AI global, akan meluncurkan konsep serupa dengan fokus yang lebih spesifik. Doova adalah pendamping rumah AI yang dirancang untuk membantu lansia yang tinggal sendiri. Robot pendek berbentuk bulat dengan roda ini tidak memiliki lengan, tetapi dilengkapi dengan ā€œekspresi wajah dinamisā€. Tuya mengklaim Doova dapat melacak pemiliknya di dalam rumah dan siap membantu dalam keadaan darurat.

Jika pemilik tidak merespons, Doova dapat membuka panggilan video langsung dengan keluarga. Robot ini juga menyediakan ā€œkebersamaan percakapanā€ dan berfungsi sebagai pusat rumah pintar untuk mengontrol lampu, gorden, serta peralatan dapur dan kamar mandi. Perusahaan belum mengumumkan harga atau tanggal rilis, tetapi memastikan produk ini akan segera hadir di pasaran.

Doova tidak perlu melipat pakaian atau memuat piring ke mesin pencuci piring untuk menjadi berguna. Robot ini dapat memahami apa yang terjadi di rumah, menghubungkan penghuni dengan rumah, dan mengendalikan mesin yang sudah ada. Namun, kehadirannya memunculkan tantangan besar lainnya: kebutuhan akan kamera untuk bernavigasi dan berinteraksi memicu masalah privasi yang signifikan di dalam rumah.

Meskipun demikian, daya tarik dari ā€œrobot brainā€ yang mampu melakukan beberapa pekerjaan manual tetap ada. Tugas-tugas seperti merapikan barang, memuat dan menurunkan mesin cuci, atau mengisi mesin pencuci piring membutuhkan tangan. Sebuah robot vacuum dengan lengan yang diuji untuk memungut sepatu dan kaus kaki sebagian besar gagal, tetapi idenya dinilai solid.

Jalan tengah antara humanoid bertubuh penuh yang mengesankan dan robot pendamping tanpa lengan adalah robot beroda dengan lengan. Ini adalah arah yang diambil LG dengan CLOiD, sebuah robot beroda yang juga berfungsi sebagai pengendali rumah pintar. CLOiD memiliki lengan dengan 7 derajat kebebasan dan lima jari yang dapat digerakkan secara individual di setiap tangan.

Dalam demo langsung di CES 2026, CLOiD berhasil melakukan tugas-tugas sederhana seperti melipat pakaian, mengambil barang dari kulkas, dan memuat mesin cuci. Namun, robot ini belum bisa membuka tutup botol deterjen. Selain aksi fisik yang masih lambat, CLOiD juga dapat terhubung dan mengendalikan peralatan pintar seperti mesin cuci, pengering, dan oven.

LG baru-baru ini mengumumkan pelatihan ratusan unit CLOiD di pabrik data baru di Seoul. Di sana, robot-robot tersebut akan berlatih berbagai tugas pembersihan di lingkungan rumah. Pada akhir tahun ini, data pelatihan tersebut akan menghasilkan sekitar 100.000 jam data pelatihan, setara dengan 12 tahun, untuk dimasukkan ke dalam model fondasi robotikanya sendiri yang dibangun menggunakan model dunia terbuka Nvidia Cosmos.

Perkembangan robotika rumah memang tidak terhindarkan. Namun, kebutuhan akan robot butler yang melayani setiap keinginan dipertanyakan, mengingat hanya sedikit orang yang mampu membelinya. Masa depan robotika rumah bukanlah satu mesin yang bisa melakukan segalanya, melainkan tim mesin robotik yang dikoordinasikan oleh sebuah ā€œrobot brainā€. Perkembangan ini sejalan dengan tren adopsi robot di berbagai sektor, seperti yang terlihat pada ekspansi layanan robotaxi di beberapa kota dan uji coba robot untuk menggantikan pekerja di pusat data.

Jika ā€œrobot brainā€ tersebut kebetulan dilengkapi dengan sepasang tangan yang bisa membuka deterjen, itu akan menjadi nilai tambah. Pertanyaan mendasar yang diajukan adalah apakah kita benar-benar membutuhkan robot mekanis multimodal untuk pekerjaan rumah, atau ada jalan yang lebih cerdas yang tidak melibatkan mesin besar yang berisiko. Jawabannya, menurut pengalaman bertahun-tahun menguji robot di rumah, mengarah pada solusi yang lebih terintegrasi dan otonom, bukan robot humanoid serba bisa.

Konsep robot pendamping untuk lansia seperti Doova menunjukkan bahwa fokus pada kebutuhan spesifik pengguna bisa lebih efektif daripada mengejar bentuk humanoid. Sementara itu, pendekatan LG dengan CLOiD yang berfokus pada keterampilan fisik dan konektivitas menunjukkan bahwa kombinasi antara kemampuan manipulasi dan kontrol rumah pintar adalah arah yang paling realistis. Industri ini tampaknya bergerak menuju ekosistem perangkat yang saling terhubung dan dikendalikan oleh kecerdasan terpusat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.