📑 Daftar Isi

Penjualan EV Eropa Tembus 37 Persen, Tesla Masih Teratas

Penjualan EV Eropa Tembus 37 Persen, Tesla Masih Teratas

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Pasar mobil listrik Eropa mengalami lonjakan signifikan dengan pangsa pasar mencapai 37 persen pada Juni 2026. Penjualan baterai electric vehicle (BEV) di benua biru mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 50 persen, dengan total 366.000 unit terjual dalam satu bulan. Angka ini menjadi pertumbuhan tercepat sepanjang tahun ini, menandai pergeseran besar dari kendaraan bermesin pembakaran internal.

Data penjualan terbaru menunjukkan bahwa mobil listrik kini mendominasi pasar Eropa, sementara kendaraan berbahan bakar bensin merosot tajam ke pangsa 21 persen. Mesin diesel bahkan hanya menyisakan 6 persen pangsa pasar, sebuah teknologi yang kini nyaris kehilangan relevansinya di mata konsumen Eropa. Pertanyaannya, siapa yang masih membeli mobil diesel?

Dominasi Tesla dan Persaingan Ketat di Puncak

Di tengah pertumbuhan pasar yang pesat, Tesla masih memegang kendali di puncak penjualan. Model Y berhasil merebut kembali posisi teratas penjualan Eropa dengan 34.480 registrasi pada Juni 2026. Sementara itu, Model 3 mengalami lonjakan penjualan hingga 67 persen dibandingkan tahun lalu, menempatkannya di posisi kedua secara keseluruhan.

Namun, posisi Tesla tidak sepenuhnya aman. BYD, raksasa otomotif asal China, terus mendekat dengan mencatatkan 13.100 registrasi untuk Atto 2 pada Juni 2026. Model ini ditenagai oleh varian plug-in hybrid dengan baterai 18 kWh yang mampu menempuh jarak 90 km dalam mode listrik murni, serta dilengkapi fitur vehicle-to-load.

Merek-merek China secara keseluruhan berhasil menggandakan pangsa pasar mereka di Eropa, dari 5 persen pada Juni tahun lalu menjadi 10 persen saat ini. Dengan strategi yang agresif, BYD mengerahkan 17 model berbeda untuk menyerbu pasar Eropa, sementara Tesla hanya mengandalkan dua model andalan.

Baca Juga:

Volkswagen Group masih mempertahankan posisi teratas dengan pangsa pasar 24 persen. Namun, BMW Group berhasil merebut posisi kedua dengan pangsa 8,6 persen, menggeser Stellantis yang turun ke 8,3 persen. Yang menarik, BYD kini hanya berjarak 0,4 persen di belakang Stellantis, menunjukkan bahwa merek-merek legasi tidak bisa lagi menunda transisi elektrifikasi mereka.

Mobil City Car Jadi Medan Pertempuran Baru

Di segmen city car, kendaraan nol emisi sedang melakukan kudeta besar-besaran. Pendatang baru asal China, Leapmotor T03, berhasil meraih posisi ketiga di podium keseluruhan. Sementara itu, Dacia Spring yang telah diperbarui mencatatkan 5.676 pengiriman, membuktikan bahwa mobil perkotaan yang terjangkau menjadi area pertama di mana mesin pembakaran akan menyerah.

Kesuksesan merek China di segmen ini menunjukkan bahwa konsumen Eropa semakin mengutamakan nilai dan biaya operasional yang rendah. Hal ini sejalan dengan strategi mobil listrik murah yang mulai banyak dilirik di berbagai pasar, termasuk Indonesia.

Di segmen eksekutif, adopsi listrik berjalan sangat cepat. Mercedes-Benz E-Class mencatatkan 36 persen penjualan dari varian plug-in. BMW 5 Series bahkan mencapai tingkat elektrifikasi 89 persen dari total penjualan, mencakup varian plug-in dan i5 murni. Audi A6 e-tron juga membuat debut yang kuat dengan 3.850 registrasi.

BMW menunjukkan keseriusannya dengan mengerahkan 11 model elektrifikasi untuk melawan serangan merek China. Strategi ini terbukti efektif, dengan iX1 dan X1 plug-in mencatatkan 11.778 registrasi berkat penawaran sewa yang agresif. Sementara itu, Renault mengandalkan desain retro R5 yang menghasilkan 10.785 penjualan, meskipun CEO Luca de Meo menyadari bahwa penampilan saja tidak cukup untuk mempertahankan penjualan.

Stellantis justru menjadi contoh kesalahan strategi. Keputusan untuk memasukkan mesin bensin ke Fiat Panda baru dianggap sebagai langkah yang keliru di tengah pasar yang semakin mengarah ke elektrifikasi. Padahal, penurunan penjualan Fiat 500e bukan disebabkan oleh berkurangnya minat pada mobil listrik, melainkan karena hadirnya pesaing listrik yang lebih tajam dan lebih murah.

Pasar Eropa sedang mengalami realignment besar-besaran yang didorong oleh konsumen yang menuntut nilai nyata, biaya operasional lebih rendah, dan teknologi modern. Tren ini juga berdampak pada pasar global, termasuk penjualan Hyundai dan Kia yang mencetak rekor di AS berkat elektrifikasi.

Dengan jarak yang semakin dekat antara merek legasi dan pendatang baru asal China, persaingan di pasar mobil listrik Eropa diprediksi akan semakin panas. Produsen yang gagal beradaptasi dengan cepat berisiko kehilangan pangsa pasar yang signifikan di tahun-tahun mendatang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.