Telset.id ā MG, produsen otomotif asal Inggris yang kini dimiliki SAIC, mengumumkan akan membawa teknologi baterai semi-solid-state SolidCore ke tiga model SUV hybrid plug-in (PHEV) baru. Langkah ini menandai komitmen MG untuk menghadirkan inovasi baterai generasi terbaru ke segmen kendaraan elektrifikasi yang lebih luas.
Teknologi baterai semi-solid-state ini diklaim menawarkan keunggulan signifikan dibandingkan baterai lithium-ion konvensional. MG menyebut baterai SolidCore-nya menggunakan sekitar 5 persen elektrolit cair, jauh lebih rendah dari baterai konvensional yang biasanya mengandung 10 hingga 15 persen elektrolit. Kandungan elektrolit yang lebih rendah ini berpotensi meningkatkan stabilitas termal dan keamanan baterai.
MG mengklaim sebagai pabrikan pertama yang memproduksi massal baterai semi-solid-state, meskipun klaim ini masih diperdebatkan karena sudah ada beberapa EV di China yang menggunakan teknologi serupa. Baterai SolidCore dikembangkan bersama QingTao Energy dan menggunakan bahan kimia berbasis mangan dengan anoda silikon-karbon.
Ketiga SUV yang akan menggunakan baterai SolidCore disebut akan mencakup segmen B, C, dan D. Namun, MG belum mengungkapkan nama model spesifik atau jadwal peluncurannya. Ketidakjelasan ini meninggalkan tanda tanya besar tentang kapan teknologi ini benar-benar akan hadir di pasar.
Selain baterai, MG juga memperkenalkan sistem Plug-in Hybrid+ yang akan menggunakan mesin 1.1 liter dan 1.5 liter turbocharged dengan efisiensi termal puncak lebih dari 42 persen dan 43 persen. Mesin-mesin ini dirancang untuk mempertahankan efisiensi termal di atas 40 persen dalam sekitar 90 persen kondisi berkendara.
Sistem hybrid baru ini akan memprioritaskan penggerak listrik murni pada kecepatan rendah, menggunakan operasi power-split pada kecepatan menengah, dan beralih ke penggerak mesin langsung pada kecepatan tinggi. Pendekatan ini membuat sistem hybrid MG lebih mirip dengan kendaraan listrik murni (EV) dalam pengoperasian sehari-hari.
MG mengklaim sistem ini mampu menghindari penurunan performa yang sering terjadi pada beberapa PHEV saat baterai hampir habis. Sistem hybrid ini juga menggunakan transmisi hybrid power-split baru yang secara kontinu mengatur kontribusi mesin dan motor listrik berdasarkan kecepatan dan beban.
Transmisi ini dilengkapi mekanisme pemutusan yang dapat mengisolasi generator sepenuhnya selama penggerak listrik, mengurangi hambatan mekanis dan meningkatkan efisiensi. MG mengklaim kebisingan berkurang hingga 5 desibel dalam mode EV dibandingkan sistem PHEV konvensional, membawa pengalaman berkendara lebih dekat dengan EV murni.
Dari segi performa, MG mengklaim kendaraan dengan sistem baru ini mampu berakselerasi dari 0 hingga 100 km/jam dalam waktu kurang dari 6 detik, dengan akselerasi 80-120 km/jam hanya membutuhkan waktu 3,5 detik. Namun, MG belum mengkonfirmasi model atau mesin mana yang mencapai angka tersebut.
MG sudah menggunakan baterai semi-solid berbasis mangan di MG4 Anxin Edition untuk pasar China. Baterai tersebut memiliki kapasitas 53,95 kWh dengan kepadatan energi sekitar 180-185 Wh/kg, pengisian daya 2C, dan jarak tempuh hingga 537 km (siklus CLTC). MG juga mengklaim retensi jarak tempuh 13,8 persen lebih baik pada suhu -7 derajat Celcius dibandingkan baterai LFP setara.
Kimia sel yang digunakan adalah LMO (lithium manganese oxide) yang menggunakan katoda kaya mangan. Kimia ini umumnya menawarkan stabilitas termal yang kuat dan pengiriman daya yang baik, meskipun kepadatan energi dan siklus hidupnya lebih rendah dibandingkan kimia NMC yang umum digunakan pada EV jarak jauh. Penggunaan LMO pada PHEV dinilai masuk akal karena lebih mengutamakan pengiriman daya cepat, keamanan, dan performa konsisten.
Baca Juga:
MG memiliki rencana besar di Eropa, di mana mereka menjual 190.000 kendaraan pada paruh pertama 2026, meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan 2025. Perusahaan baru-baru ini memperkenalkan konsep yang mempratinjau mobil listrik murni yang akan menjadi pesaing Renault 5 untuk Eropa, yang kemungkinan akan menjadi model pertama yang menggunakan baterai semi-solid-state produksi.
Meskipun detail teknis seperti kapasitas baterai, kecepatan pengisian daya, dan jarak tempuh listrik untuk ketiga SUV PHEV ini belum diungkapkan, langkah MG menunjukkan arah industri yang semakin serius mengadopsi teknologi baterai semi-solid-state. Teknologi ini dianggap sebagai jembatan antara baterai lithium-ion konvensional dan baterai solid-state penuh yang masih dalam pengembangan.
Keputusan MG untuk menerapkan baterai semi-solid pada PHEV, bukan hanya pada EV murni, menunjukkan strategi yang pragmatis. Dengan menggabungkan keunggulan baterai semi-solid dengan fleksibilitas mesin pembakaran internal, MG berusaha menawarkan solusi yang lebih praktis bagi konsumen yang belum sepenuhnya beralih ke EV murni.
Pengembangan teknologi ini juga relevan dengan tren industri otomotif global yang terus berinovasi. Sementara itu, perkembangan di sektor lain seperti Garmin Approach G82 dan larangan konten SARA menunjukkan bagaimana teknologi merambah berbagai aspek kehidupan.
Kehadiran baterai semi-solid-state di segmen PHEV dapat menjadi game changer, terutama dalam hal keamanan dan performa di suhu rendah. Klaim MG tentang retensi jarak tempuh yang lebih baik di cuaca dingin menjadi nilai jual penting di pasar Eropa dan Amerika Utara.
Namun, tanpa jadwal peluncuran yang jelas, masih harus dilihat apakah MG dapat mempertahankan klaim sebagai pelopor dan merealisasikan ambisinya sebelum kompetitor meluncurkan teknologi serupa. Industri otomotif sedang bergerak cepat, dan inovasi baterai menjadi medan pertempuran utama.





Komentar
Belum ada komentar.